Cagub Sudirman Said Tidak Nyaman Jateng Disebut Sebagai Kandang Banteng Kembalikan Pada Martabatnya

Daerah, Politik435 Dilihat

InilahOnline.com (Semarang-Jateng) – Provinsi Jawa Tengah yang selama ini dikenal sebagai Kandang Banteng, karena banyak masyarakat yang memilih partai politik sebagai idiologinya. Sebutan tersebut mendapat tanggapan serius oleh bakal calon gubernur Sudirman Said, sehingga ingin memecahkan mitos politik tersebut, sehingga Jawa Tengah bukan lagi sebagai kandang banteng.

”Saya tidak nyaman dengan sebutan Jawa Tengah adalah kandang banteng, Jawa Tengah harus dikembalikan pada martabatnya, yakni sebagai tempatnya manusia seutuhnya,”kata Sudirman Said dihadapan para relawan dari Cilacap dan relawan Masjid di Markas Perjuangan Merah Putih, Jalan Pamularsih 95 Semarang, Minggu (28/1/2018).

Menurut Sudirman, meski di Jawa Tengah terdapat setidaknya ada 17 bupati/walikota di Jawa Tengah dari kader PDI Perjuangan seperti, di Kota Semarang, Solo, Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Brebes, Boyolali, Grobogan, Kudus, Kabupaten Semarang dan lainnya, Tetapi kekuatan manusia tentu ada batasnya.

”Kekuatan itu ada batasnya. Hanya waktu saya sowan ke beberapa Kiai, mendapat pesan, Allah akan memberi pertolongan pada orang baik, sebagaimana setan akan memudahkan pekerjaan orang tidak baik,”katanya.

Jawa Tengah harus terus didorong supaya bisa berubah, terutama soal kemiskinan. Pemimpin yang baik, menurutnya, jika memberi perhatian yang diarahkan serius kepada kelompok marginal, maka dengan kelompok di atasnya pasti ikut. Tetapi jika yang bawah difasilitasi, maka yang di atas perlu sedikit diawasi. Apalagi Jawa Tengah harus terus didorong supaya bisa berubah, terutama soal kemiskinan.

”Kemiskinan di Jawa Tengah sangat tinggi. Akhir 2017 mencapai 4,577 jiwa, 15 kabupaten masuk zona merah, artinya 20 persen penduduk di 15 kabupaten tersebut hanya mampu menghidupi dirinya dengan biaya di bawah Rp 10.000 per hari,”ungkapnya.

Sudirman Said menegaskan, bahwa perubahan hanya bisa diraih jika pemimpinnya yang memulai. Jika pemimpinnya, kepala kantornya memecahkan persoalan sungguh-sungguh, bawahannya akan ikut. Jika gubernurnya terus asik bermedia sosial maka bawahannya akan mengikutinya.

”Tidak banyak yang tahu, bahwa selain jumlah keluarga miskin tersebut, masih terdapat 15.229.994 jiwa yang terjebak kategori belum sejahtera. Ini cukup mengkhawatirkan,” kata dia.

Terhadap pada para relawannya, Sudirman Said berpesan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan dimulai dari sekitar, dengan jalan musyawarah dan gotong royong. ”Saya tidak akan menyuarakan permusuhan, namun perubahan. Memang jalan semakin menanjak, namun kawan yang bergabung juga semakin banyak,”tandasnya.(Suparman)