Di Jateng, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Alami Peningkatan

Berita, Jawa Tengah281 Dilihat

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Jateng dalam tiga tahun terakhir, cenderungan mengalami peningkatan, yang cukup signifikan

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng pada 2017 terdapat 1.869 kasus. Hal ini terihat tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 1.883 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sedangkan hingga 31 Oktober tahun ini mencapai sebanyak 1.406 kasus.

“Angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jateng dalam beberapa tahun terakhir memang terus meningkat,” ujar Kepala DP3AP2KB Jateng Retno Sudewi, Kamis (28/11/2019).

Menurutnya, meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, karena para perempuan korban sudah berani melaporkan kepada aparat penegak hukum. Sebelumnya, perempuan dan anak korban kekerasan tidak berani melaporkan sebab takut dengan pelaku.

”Kondisi ini, karena sebagian besar pelaku tindak kekerasan tersebut, merupakan orang dekat si korban, seperti tetangga, kerabat dan suami.,”ujarnya.

Dijelaskan, selama ini sebenarnya banyak kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jateng, namun korban tidak berani lapor, tapi sekarang mereka berani melaporkan sehingga kasusnya menjadi meningkat.

”Jadi sebagai upaya untuk menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, pihaknya melakukan koordinasi pihak terkait dengan membuka sistem pelayanan terpadu,”ungkap Dewi.

Selaian itu, dia menambahkan juga memberikan advokasi dan pendampingan hukum kepada para perempuan dan anak korban kekerasan untuk melaporkan kepada aparat penegak hukum.

“Semua perempuan dan anak korban kekerasan saat mendapatkan perawatan di rumah sakit gratis, tidak dipungut biaya,” ujarnya.

Menurutnya, masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak telah dibawa pada konggres perempuan Jateng yang digelar di Hotel UTC Semarang Senin-Selasa (25-26/11) lalu.

Konggres yang baru pertama itu diikuti 750 peserta dari berbagai instansi, organisasi, komunitas, dan aktivis perempuan se-Jateng.

“Kongres melahirkan tujuh rekomendasi di antaranya menghapus kekerasan, perdagangan perempuan, dan perkawinan anak,” tuturnya.

(Suparman)