Ganjar dan Buwas Operasi Pasar, Beras Murah untuk Rakyat

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Direktur Utama Bulog Budi Waseso membuat terobosan untuk memutus mata rantai distribusi beras. Keduanya meluncurkan operasi pasar gaya baru yang langsung menyediakan beras murah kualitas medium ke masyarakat di desa.

Peluncuran beras murah ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemprov Jateng dan Perum Bulog di Kamis (22/11) di Gedung Gradhika, Gubernur Jawa Tengah.

“Selama ini perjalanan beras dari petani ke konsumen melewati delapan tahap. Kita potong itu, jadi masyarakat bisa membeli beras lebih terjangkau dengan kualitas yang baik,” kata Ganjar.

Sumber beras yang didistribusikan menggunakan cadangan beras pemerintah. Buwas (sapaan akrab Budi Waseso) menyebut cadangan saat ini mencapai 1,2 juta ton. Ia menargetkan 700 ribu ton bisa diserap di Jateng. “Setidaknya lima ribu ton perhari bisa langsung kita drop ke desa-desa,” tegasnya.

Beras murah ini konsepnya hampir sama dengan operasi pasar dengan tujuan menstabilkan harga. Namun operasi pasar biasa dilaksanakan di pasar-pasar utama di setiap daerah. Menurut Ganjar, operasi pasar biasa seringkali tidak efektif karena beras langsung dibeli tengkulak sehingga masyarakat sasaran tidak menikmati.

Maka operasi pasar ke desa ini disebut Ganjar sebagai gaya baru. Jateng sebagai pionirnya dengan bekerjasama dengan kepala desa. Bulog akan langsung mendistribusikan beras ke kios, warung, koperasi, atau badan usaha milik desa (Bumdes).

Dengan konsep ini, harga beras bisa ditekan. Di pasar, harga beras kualitas medium bisa mencapai Rp 10 ribu, bahkan Rp 11 ribu. Melalui cara baru ini, Bulog menetapkan harga antara Rp 8500 sampai maksimal Rp 9000.

“Kalau Jateng berhasil akan dilanjutkan seluruh Nusantara. Saya minta seminggu ini kita geber lalu evaluasi sehingga didapatkan pola yang semakin bagus,” tekannya.

Pemilihan Jateng ini menurut Buwas karena provinsi yang dipimpin Ganjar telah menjadi daerah percontohan terkait keberhasilannya dalam pengendalian pangan nasional. Terbukti, untuk kali ketiga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendapatkan penghargaan TPID terbaik secara berturut-turut dari tahun 2015 sampai dengan 2017.

“Maka saya tetapkan pilot project di Jateng. Saya yakin berhasil dan pasti akan menyebar ke lain daerah,” katanya.

Dalam acara penandatanganan kesepakatan tersebut hadir pula Kades se Jateng. Saifuddin salah satunya Kades Bener Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang. Dia merasa bersyukur dengan inovasi operasi beras ini karena dia yakin bakal mengeliminasi pedagang-pedagang nakal yang dia sebut sebagai ‘pemain’.

“Nanti saya akan menggerakkan RT dan RW. Operasi pasar nantinya bisa menggunakan dengan pembagian kupon bazar,” katanya.

Di wilayahnya Saifuddin mengalir terdapat sekitar 2.000 kepala keluarga dari berbagai kalangan. Untuk operasi pasar ini, dia mengaku tidak membatasi dan mempersilakan siapapun bisa menjangkau. “Untuk tahap awal nanti sepertinya saya akan minta sekitar 3 ton. Kemungkinan bisa bertambah di tahap selanjutnya. Kita lihat kondisi di masyarakat nanti. Tapi operasi pasar ini bagus banget,” katanya.

(Suparman)