oleh

Gaya Hidup LGBT, Cemaskan Orang Tua

InilahOnline.com (Kota Bogor) – Maraknya prostitusi online kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Kota Bogor yang sejalan dengan meningkatnya kasus HIV/AIDS dalam kurun waktu 2005-2017, patut diwaspadai sebagai gaya hidup baru yang tak lazim.

“Setidaknya, bimbingan dan penjagaan orangtua harus ditingkatkan, dengan menambah intensitas komunikasi bersama anak-anak, sehingga terwujud quality family time, dan kontrol sosial di sekitar kita terjaga, dengan lebih mewaspadai orang-orang baru, dan kegiatan LGBT yang dilakukan di waktu yang tidak lazim,” ungkap Sekjen YDAI (Yayasan Diffable Action Indonesia), Isnurul Naeni, Jumat (26/1/2018) menanggapi gencarnya pembahasan Walikota Bogor bersama Dinsos, Satpol PP, KPAD (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah), dan instansi serta komunitas pada Musrenbang di sejumlah kecamatan belakangan ini.

Kasus Gang Dolly di Surabaya cukup dijadikan bukti konkret, lanjut perempuan kelahiran Surabaya itu, betapa para orangtua di berbagai sudut Kota Pahlawan dan kota lain merasa gusar, dengan bercokolnya kos-kosan dan hotel yang dijadikan pelampiasan praktik prostitusi yang tadinya terlokalisir menjadi terbuka. “Kan, begitu ditutup lokalisasinya, pelaku seks bebas itu menyebar tempat tinggalnya, termasuk kini marak di media online. Tapi, bahaya HIV/AIDS yang ditimbulkan makin mencemaskan,” tandasnya.

Isnurul yang concern membimbing kaum difabel di Bogor itu mengingatkan pentingnya penguatan pendidikan agama bagi generasi muda agar tak mudah tertular gaya hidup LGBT, termasuk dampak buruk HIV/AIDS. “Kalau untuk antisipasi supaya anak-anak kita, dan generasi muda di lingkungan kita tidak tertular gaya hidup LGBT, maka pendidikan agama harus lebih dikuatkan,” tegasnya.

Dari data yang tersedia di instansi terkait, kasus HIV/AIDS di Kota Bogor dari tahun ke tahun jumlahnya meningkat. Pada awalnya, kasus HIV banyak ditemukan pada IDU (Inject Drug Use) di Lapas Paledang pada 2005 dan saat ini banyak ditemukan selain pada populasi kunci, juga pada Ibu Rumah Tangga dan Remaja. Kota Bogor melaksanakan program penyegahan dan penanggulangan HIV dimulai sejak 2005 atas dukungan dana Global Fund (GF) komponen HIV/AIDS.

Secara kumulatif, dari 2005 sampai November 2017 jumlah kasus HIV sebanyak 4.131 kasus dan kasus AIDS sebanyak 1.486 dari jumlah 139.987 orang yang dites HIV. Sejak 2014 sampai Oktober 2017, dari 24.459 orang ibu hamil yang melaksanakan tes HIV, 80 orang ibu hamil positif HIV.

Persentase AIDS tertinggi terjadi 2016, ada pada kelompok umur 30-39 tahun (31,17 %), diikuti kelompok umur 40-49 tahun (25,32 %), 20-29 tahun (24,68 %), 50-59 tahun (11,64 %), 5-14 tahun (3,9 %), 15-19 tahun (3,9 %). Persentase HIV tertinggi 2016 ada pada kelompok umur 30-39 tahun.
Kasus HIV usia 15-19 tahun pada 2016, laki-laki 17 orang, perempuan 4 orang, sedangkan kasus AIDS 2001-2017 sebanyak 1.460 orang, 177 orang di antaranya meninggal dunia.

Presentase kasus HIV pada laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Dari 30 % laki-laki yang dites HIV, 71 persemnya positif HIV, sedangkan presentase populasi kunci yang HIV positif, LSL: 71%, WPS: 3,6 %, PPS: 0,7 %, waria: 2,7%, IDU: 22%.

Sejak 2005, Kota Bogor telah berupaya untuk melakukan penyegahan dan pengendalian HIV/AIDS, di antaranya dari sisi tenaga, baik tenaga dari Rumah Sakit maupun Puskesmas sampai dengan 2017 telah terlatih 29 orang dokter, 36 orang perawat dan 23 orang laborat yang terlatih DOTS (Directly Observed Treatment Short Course), 101 orang (dokter, perawat dan laborat) terlatih VCT (Voluntary Counselling Test), 25 orang Bidan terlatih PITC (Provider Initiated Testing and Counsellilg), 96 orang (dokter, perawat, bidan, laborat) terlatih LKB (Layanan Komprehensif Berkesinambungan) , 44 orang (dokter, perawat, apoteker, petugas pelaporan) terlatih CST (Care Support and Treatment), dan 7 orang tenaga kesehatan terlatih TB-HIV.

Selain itu, Kota Bogor juga sudah mempersiapkan layanan HIV/AIDS di berbagai sarana kesehatan yang tersebar di semua kecamatan di Kota Bogor. Penyebaran sarana kesehatan dimaksud berdasarkan lokasi wilayah meliputi Kecamatan Bogor Utara terdapat 3 Puskesmas (Puskesmas Bogor Utara, Tegal Gundil dan Warung Jambu); Kecamatan Bogor Selatan terdapat 5 Puskesmas (Puskesmas Bogor Selatan, Lawang Gintung, Bondongan, Cipaku, dan Mulya Harja);

Kecamatan Bogor Tengah terdapat 5 Puskesmas (Puskesmas Bogor Tengah, Sempur, Merdeka, Belong, Gang Aut dan 2 Rumah Sakit, yaitu RS PMI, RS Azra); Kecamatan Bogor Timur terdapat 2 Puskesmas (Puskesmas Bogor Timur dan Pulo Armyn); Kecamatan Tanah Sareal terdapat 5 Puskesmas (Puskesmas Tanah Sareal, Kedung Badak, Mekar Wangi, Kayu Manis dan Pondok Rumput), Kecamatan Bogor Barat terdapat 5 Puskesmas (Puskesmas Semplak, Gang Kelor, Pasir Mulya, Pancasan, Sindangbarang dan 4 Rumah Sakit, yaitu RS Marzoeki Mahdi, RS Hermina Bogor, RSUD Kota Bogor, dan RS Medika Dramaga). (Mochamad Ircham)

banner 521x10

Komentar