Jangan Galau Pilih Pemimpin Millenial

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Pilih pemimpin di zaman now, para elite mestinya tak perlu galau, seperti yang ditampilkan di media massa akhir-akhir ini. Ada penggiringan opini seolah calon pemimpin itu haruslah hanya memenuhi unsur-unsur elektabilitas, popularitas, akseptabilitas, kapabilitas, dan “isi tas” ansich.

“Padahal, cukup satu hal saja, yaitu cetak uang sendiri. Jadi, tas itu yang ngisi ya calon pemimpin itu dari hasil cetak uang sendiri yang diakui dunia. Itu baru pemimpin, bukan cari pemimpin baru, ganti yang lama, tapi sama saja, nggak mampu cetak uang buat negeri dan umat sedunia,” ungkap Ketua Umum Persatuan Rinjani Rajawali Republik Indonesia (PRI), KH Muhammad Safrudin Asy-Syu’ubi ketika dikonfirmasi, Sabtu (21/4/2018).

Problem dunia, wabilkhusus di Indonesia, selalu timbul tenggelam berkaitan dengan sektor finansial, begitu Rupiah terpuruk terhadap dolar AS, semua proyek dan sendi-sendi kehidupan masyarakatnya, termasuk ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan militer menjadi terganggu. “Nah sektor finansial ini tak lepas dari nilai matauang kita. Harus kita ciptakan uang yang diakui dunia, dari semua kalangan. Itu jadi tugas utama pemimpin Indonesia saat ini dan masa depan, karena negeri ini jadi tumpuan dunia, begitu sunnatullah menggariskan,” tuturnya.

Kalangan yang berperan menentukan pemimpin penuntas problem dunia, yaitu pemilik masterkey adalah pemimpin Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrik, dan Muslim. “Pemimpin ya sudah semestinya harus mampu mengayomi semua kaum itu,” tandasnya.

Jika sudah memenuhi hal itu, lanjutnya, pemimpin tersebut harus mampu menyerap dan mengamalkan Al-Qur’an, yang juga diserap secara hakiki dalam platform NKRI, yaitu Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Ingat jangan sebatas sifat, tapi hakikinya. Kalau cuma sifat, KUHP pun bisa rusak, hancur. Tapi, jika yang diambil hakikinya, takkan hancur sampai kiamat,” tegasnya.

Dalam kaitan itu, menurut dia, ulama dan umaro’ serta pemerintah dan rakyat harus saling lihat/perhatikan alias sahid-mashud. “Bukan dilihat oleh mata satu. Mata itu kan kimia, bukan dzat. Kalau pemerintah lihat dengan mata satu, akan hancur, karena terjebak pada bahaya atau tidak bahaya,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengharapkan tampilnya pemimpin ala Hawariyyun, yang bersih, selalu menyantap makanan yang halal, dan menjauhi korupsi. Dasarnya ya kaji Al-Qur’an dan jadikan ruh. Seperti Matahari yang tahu dengan sendirinya atas hukum yang harus dipegangi. Sedangkan manusia bila tak pedomani Al-Qur’an, akan hancur sendiri. (CJ/Ahmad Maki Safrudin)