Komunitas 22 Ibu Mengusung Proses Kreatif 14 Guru Seni Budaya dalam Pameran Sakola

INILAHONLINE.COM, BANDUNG

Sakola” (dalam bahasa Sunda) atau ‘Sekolah” dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu aktivitas masyarakat dalam menuntut ilmu sebagai upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Tema tersebut diangkat pada pameran dengan tajuk Sakola “Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Ekspresi Gutta Tamarind”

Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional. Pameran berlangsung dari tanggal 25 November hingga 5 Desember 2018 di Gedung PPK Jl. Braga no 7-9 Bandung. Dikuratori oleh Citra Smara Dewi dan Co Curator Ariesa Pandanwangi.

Empat belas orang guru berproses kreatif dengan mengusung tajuk sakola. Tajuk yang diusung sangat lekat dengan kehidupan sekolahan yang mereka ampu mata pelajarannya -Seni Budaya-.

Proses kreatif ke 14 Guru melalui tahapan awal yaitu merancang konsep atau sekedar wacana berkeinginan untuk mengamati situasional yang ada di sekeliling sekolahnya, tahapan kedua mereka memotret dengan jeli peristiwa istimewa yang kerap diekspos media massa namun sulit ditindaklanjuti oleh pihak pemerintah, tahap ketiga berdiskusi dan membuat gambar, kemudian di buat di atas kain sutera yang telah dibentangkan. Semua tahapan selalu ada pendampingan diskusi dengan kurator.

Tahapan keempat adalah tahapan menuangkan imajinasi dalam hal penggayaan sesuai dengan karakter masing-masing perupanya.

Menggutta adalah proses yang membutuhkan kesabaran, yaitu menentukan kekentalan yang tepat dan kepiawaian membuat garis agar tidak mblobor serta tidak terputus. Tidak terputus goresan gutta karena berfungsi sebagai perintang warna, yaitu agar warna yang satu dengan yang lainnya tidak tercampur begitu saja.

Selesai menggutta maka masing-masing karya dianginkan, untuk mempercepat pengeringan dapat digunakan hairdryer.

Hasilnya tampak persis dengan tapak malam panas yang digunakan dalam membuat batik tradisional. Padahal kali ini mereka menggunakan material kearifan lokal dan tanpa pemanas untuk mencairkan malam.

Tahapan selanjutnya adalah memberi warna sesuai dengan imajinasi perupa, wajah figur mungkin saja diberi warna bukan warna kulit, tetapi gradasi dari warna hijau ke oranye, latar belakang pohon mungkin saja diberi warna unggu. Tidak ada aturan yang mengikat bagi para perupa dalam menuangkan warna. Hasilnya adalah karya seni lukis batik, setiap perupa menampilkan karakteristik karyanya melalui goresan, objek, pewarnaan, komposisi, sesuai dengan karakternya masing-masing.

(CJ/ Esa)

banner 521x10

Komentar