Makna Do’a, Tatacara dan Waktu Terbaik Memanjatkan Do’a

Artikel, Berita418 Dilihat

oleh:

AHMAD TAVIP BUDIMAN, S. Ag. M. Si

(Ketua Komisi Dakwah & Pemberdayaan Masyarakat MUI Kota Bogor 2022-2027)

Doa secara bahasa berasal dari kata da’a yad’u du’aan, artinya seruan, panggilan, permintaan, dan permohonan. Sementara Lisanul ‘Arab mendefinisikan kata ad-du’a adalah bentuk mashdar dari kata kerja (fi’ilda’a, yad’u, du’a yang berarti ibadah, memohon bantuan dan pertolongan. Sedangkan menurut istilah, doa adalah ibadah yang hakiki karena menunjukkan kepasrahan diri kepada Allah swt dan berpaling selain dari-Nya. Kata doa dan derivasinya terulang sebanyak 213 kali dalam 55 surat dalam al-Qur’an mengindikasikan bahwa kata doa merupakan kosa kata yang populer dan menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sandaran kepada Allah swt (ihtiyaju lighairihi).

Doa dalam Islam merupakan bagian paling mendasar dari ibadah. Doa dipanjatkan oleh seorang muslim ketika mengalami kesusahan maupun diberi kemudahan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Doa itu merupakan penjabaran tauhid dalam manusia. Doa merupakan perkara besar. Doa tidak dapat dipandang hanya dari sudut pandang fiqh belaka, namun juga ia merupakan bagian dari akidah. Jadi jangan dikira doa itu bagian dari fiqh saja, doa itu masuk dalam pusaran aqidah. Ibarat sebuah jembatan, doa secara menjadi penghubung antara manusia dengan Allah ta’ala. Maka, untuk membangun kedekatan antara manusia dengan Allah azza wajalla, bersungguh-sungguh dalam berdo’a sebuah keniscayaan dan keharusan. 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Gafir (40): 60)

Makna ud’uni astajib lakum adalah berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan apa yang kalian minta dan aku beri apa yang kalian mohonkan. Allah memerintahkan agar manusia berdoa kepada-Nya. Selain itu, ayat ini merupakan peringatan dan ancaman keras kepada orang-orang yang enggan beribadah kepada Allah. Siapa saja yang berdoa selain kepada Allah swt, maka Allah murka kepadanya. Seakan-akan Allah mengatakan, wahai hamba-hamba-Ku, menghambalah kepada-Ku, selalulah beribadah dan berdoa kepada-Ku. Aku akan menerima ibadah dan doa yang kamu lakukan dengan ikhlas, memperkenankan permohonanmu, dan mengampuni dosa-dosamu.

Allah itu Dekat

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat-Ayat dalam al-Qur’an ketika menggunakan kalimat berupa pertanyaan Wa Yas’alunaka/mereka bertanya padamu maka selalu diikuti dengan kata Qul/katakanlah/jawablah (Muhammad)!. Tetapi dalam al-Baqarah ayat 186 tidak menggunakan kata Qul yang menghubungkan agar Nabi yang menjawab pertanyaan/permohonan Allah. Ayat di atas langsung menggunakan kalimat Ujibu/saya kabulkan. Allah ta’ala sendiri yang langsung menjawabnya. Hal ini menandakan, betapa cepatnya diterimanya doa seorang hamba kepada Allah ta’ala. Terlebih keberadaan ayat ini berada di ayat-ayat puasa, yang seakan-akan mengindikasikan doa di bulan Ramadhan cepat dikabulkan oleh Allah ta’ala.

Lebih lanjut kalimat أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ yang mendahulukan kata دعوة (doa) daripada da’i (orang yang berdoa), mengindikasikan  doa apa pun yang dihaturkan kepada Allah akan didengar, bukan terletak pada kata da’i atau orang yang berdoa. Selama doa itu dipanjat, baik ia orang yang melakukan maksiat, banyak dosa, berbuat keburukan, orang yang didalimi atau bahkan orang kafir, maka doa yang dpanjatkan pasti didengar oleh Allah. Apalagi penggunaan kata إِذَا sebagai syarat yang berfungsi sering terjadi.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, yang dimaksud Allah itu dekat yaitu Allah dekat dengan kalian dari urat leher hewan tunggangan kalian. Namun kedekatan yang dimaksud di sini adalah dalam do’a. Kedekatan yang dimaksud bukanlah pada setiap kedekatan. Namun hanya ada pada sebagian keadaan. Sebagaimana disebut pula dalam hadits,

أقْرَبُ ما يَكون العبد مِنْ رَبِّهِ وهو ساجد، فَأَكْثروا الدُّعاء  (رواه مسلم)

Tempat yang seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya yaitu ketika ia sujud, maka perbanyaklah berdoa! (HR. Muslim)

Syarat-syarat Doa Mustajab

Syaikh Abdul Majid ‘Ali al-‘Adawi dalam karyanya at-Tuhfatul Mardhiyyah fi al-Akhbar al-Qudsiyyah wa al-Ahaadits an-Nabawiyyah menyebutkan bahwa doa akan mustajab atau dikabulkan oleh Allah ta’ala jika memenuhi syarat-syarat berikut ini: sadar dan tahu bahwa hanya Allah ta’ala Maha Kuasa, niat ikhlas dalam berdoa, hati yang khusu’ dan sungguh-sungguh  dalam berdoa, dan tidak memakan dan meminum yang diharamkan Allah ta’ala dan rasul-Nya.

Pertama, sadar dan tahu bahwa hanya Allah ta’ala Maha Kuasa, sehingga dia tidak memohon kecuali hanya kepada Allah. Tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah SWT.  

Kedua, ikhlas ibadah dan niat kepada Allah SWT. Doa yang dipanjatkan terbebas dari syirik, riya, dan sum’ah.  Juga terbebas dari hal-hal semacam meminta harta, meminta pangkat, anak, dan kesehatan yang hanya bertujuan untuk menyombongkan diri, pamer di hadapan manusia atau untuk memenuhi nafsu syahwatnya. 

Ketiga, kehadiran hati, kekhusyuan, dan pengharapan yang besar terhadap pahala dari Allah SWT saat berdoa.

Keempat, sungguh-sungguh  dalam berdoa. Percaya penuh kepada Allah SWT, disertai dengan keyakinan bahwa Allah SWT pasti mengabulkan doanya. Ditambah dengan kemauan keras, kesungguhan, kegigihan, dan tanpa putus asa dalam berdoa. 

Kelima, berhati-hati dalam hal makan dan minum, selalu memilih makanan, minuman, dan pakaian yang halal. 

Adab Berdoa

Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi adab dan akhlak, terutama dalam beribadah termasuk dalam hal berdoa. Saat memanjatkan doa kepada Allah SWT hendaklah disertai dengan adab. Adab berdoa adalah bentuk penghormatan, ketundukan, dan kepatuhan kita kepada Allah SWT. Dengan mengamalkan adab-adab bedoa, seorang hamba dapat memperkuat ikatan spiritualnya dengan Sang Pencipta dan memperoleh berkah serta keberkahan dalam doa-doanya.  Adab dalam berdoa antara lain: menghadap ke kiblat, mengangkat kedua tangan, mengusap wajah dengan kedua tangan setiap selesai berdoa, tidak mengangkat wajah dan pandangannya ke atas langit, merendahkan suaranya, dengan suara yang datar dan tidak berirama, bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan tidak putus asa dalam berdoa.

Pertama, menghadap ke kiblat. Kiblat adalah arah yang dituju kaum muslimin ketika shalat, kiblat juga merupakan arah yang dituju saat berdoa. Adab berdoa saat menghadap kiblat ini merupakan akhlak paling sempurna dan utama bagi seorang pendoa. Bahkan dalam banyak hadits disebutkan sebuah doa tidak dikabulkan hanya lantaran tidak menghadap kiblat.

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud ra. bahwa dia berkata: Nabi Muhammad saw. menghadap Ka’bah lalu berdoa memohon pertolongan atas golongan kafir Quraisy.

Menghadap kiblat juga menunjukkan rasa taat dan ketaatan seorang muslim kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran, Allah SWT menyatakan bahwa “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu berdoa kepada Allah dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisa: 78). Dengan menghadap kiblat, seorang muslim menunjukkan rasa hormat, taat, dan patuh terhadap perintah Allah SWT.

Selain itu, menghadap kiblat saat berdoa juga memberikan kekhusyukan dalam beribadah. Seorang muslim dapat merasakan kehadiran Allah SWT yang lebih dekat dan mendapatkan kebersihan hati dan pikiran. Dalam Al-Quran, Allah SWT menyatakan bahwa “Dan sesungguhnya Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16). Oleh karena itu, menghadap kiblat menjadi salah satu adab penting yang harus diperhatikan oleh setiap muslim saat berdoa.

Kedua, mengangkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan merupakan adab dalam berdoa. Dalil-dalil mengenai hal ini banyak sekali hingga mencapai tingkatan mutawatir ma’nawi. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070)

Ketiga, mengusap wajah dengan kedua tangan setiap selesai berdoa. Mengusap wajah setelah berdoa merupakan amalan salaf shalih.

Dari Abu Nu’aim dan dia adalah Wahb, ia berkata,”Aku melihat Ibnu Umar dan Ibnu Az Zubair kedua-duanya berdoa, dan keduanya mengusap kedua telapak tangan mereka ke wajah. (Riwayat Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad: 609, hal. 214).

Dari Ibnu Juraij dan Yahya bin Said,”Bahwasannya Ibnu Umar menengadahkan kedua tangannya bersama Al `Ash.” Dan mereka menyebutkan bahwasannya orang-orang sebelum mereka berdoa kemudian menarik kedua tangan mereka pada wajah-wajah mereka untuk mengakhiri doa dan untuk keberkahan. (Riwayat Abdur Razzaq dalam Al Mushannaf: 3256, 2/252).

Keempat, merendahkan suaranya. Usahakan pada saat berdoa, seorang hamba menampakkan kerendahan dan kebutuhannya yang besar kepada Allah SWT. Disunnahkan berdoa dengan tadharru’ khufyah (penuh kerendahan dan suara lembut), sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-A’raf : 55.

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf : 55).

Kelima, dengan suara yang datar dan tidak berirama. Sehingga doa-doa yang dilafalkannya keluar dengan bacaan yang benar.  Luruskan lisan saat membaca, sehingga doa-doa yang dilafalkannya keluar dengan bacaan yang benar. Selain itu, hendaknya juga harus menjaga i’rab (susunan kata) saat berdoa, sehingga tidak merusak makna doa tersebut. 

Keenam, bersungguh-sungguh dalam berdoa dan tidak putus asa dalam berdoa. Percaya penuh kepada Allah SWT, disertai dengan keyakinan bahwa Allah SWT pasti mengabulkan doanya. Ditambah dengan kemauan keras, kesungguhan, kegigihan, dan tanpa putus asa dalam berdoa. 

Waktu-Waktu Mustajab

Doa merupakan komunikasi langsung hamba dan Sang Pencipta. Tidak heran kalau sebagian ulama memaknai doa sebagai bentuk eskpresi kefakiran atau kebutuhan hamba-Nya kepada Allah Swt. Agar doa dikabulkan, seseorang harus memperhatikan waktu-waktu mulia.

Adapun waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa antara lain: waktu sahur, waktu berbuka puasa, antara adzan dan iqamah, antara dua khutbah hingga, saat turun hujan, saat bertemu musuh di medan jihad, sepertida malam terakhir, keadaan sujud, antara waktu zhuhur dan ashar di hari rabu, ketika sakit dan dalam perjalanan,

Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

يَتَنَزَّلُ رَبَّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلُّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلْنِيْ فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُ نِيْ فَأَغْفِرَلَهُ

Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”. (Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150)

Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

أَنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لاَ تُرَدُ

Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak. (Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da’watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17).

Setiap Selepas Shalat Fardhu

Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab.

جَوْفَ اللَّيْلِ اْلآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكتُوْبَاتِ

Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu. (Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782).

Pada Saat Perang Berkecamuk

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْقَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يَلْتَحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak ; doa pada saat adzan dan doa tatkala peang berkecamuk. (Sunan Abu Daud, kitab Jihad 3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa’ 3/360. Hakim dalam Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341. Dan Al-Albani dalam Ta’liq Alal Misykat 1/212 No. 672).

Sesaat Pada Hari Jum’at

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ لِسَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللَّه خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزْهِدُهَا

Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut”. (Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6)

Waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.

Doa diantara Adzan dan Iqamah

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

لاَيُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلآذَانِ وَاْلإِقَامَةِ

Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah. (Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139)

Doa Waktu Sujud dalam Shalat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْافِي الدُّعَاءِ فَقُمَنَّ أَنْ يُسْتَجَابَلَكُمْ

Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan. (Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur’an fi Ruku’ wa Sujud 2/48)

Pada Saat Hujan

Dari Sahl bin a’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

ثِنْتَانِ مَاتُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ

Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan”. (Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3078).

Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim.[]

banner 521x10

Komentar