Mengunjungi Desa Wisata Girirejo: Udara Sejuk Saat Bernafas Bebas Tanpa Batas

INILAHONLINE.COM, MAGELANG – Mengunjungi Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, wisatawan akan dimanjakan oleh pemandangan alam nan hijau dan sejuk, karena desa dikelilingi oleh Gunung Merbabu, Telomoyo dan Andong tersebut, menawarkan panorama indah yang menawan. Apalagi desa yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.370 mdpl tersebut, merupakan pintu masuk wisatawan minat khusus pendaki gunung.

Untuk menuju Desa Girirejo, jika perjalanan dari Yogyakarta, bisa ditempuh dengan waktu sekitar 90 menit. Desa yang satu ini, memiliki banyak pemandangan alam seperti kawasan hutan pinus yang batangnya menjulang tinggi ke langit, membuat udaranya menjadi sejuk, maka cocok bagi warga yang hendak berlibur bersama keluarga untuk menikmati alam dan menghilangkan kepenatan setelah melakukan pekerjaan rutin.

Selain menjadi destinasi wisata minat khusus, pemerintah desa (Pemdes) Girirejo, terus dikembangkan untuk menjadi desa wisata sebagai implementasi kawasan wisata yang sudah ada, seperti wisata religius Makam Mbah Mangli yang hampir setiap malam Jumat ramai dikunjungi wisatawan untuk berziarah.

Sumber Daya Alam (SDA) yang tersebar di 10 dusun di Desa Girirejo, Ngablak, Magelang ini, merupakan kekayaan yang tidak dimiliki oleh desa lain. Begitu juga dengan Sumber Daya Manusia (SDM) nya juga tangguh dengan mayoritas penduduknya sebagai petani, baik petani sayuran maupun holtikulra lainnya.

Terkait kawasan hutan pinus yang menjadi destinasi wisata baru di Desa Girirejo, dikembangkan bekerjasama dengan Perum Perhutani sebagai pemangku kawasan hutan. “Namanya Pinea Forest Mangli, merupakan destinasi wisata alam dengan keindahan hutan pinus, dengan selogan Saat Bernafas Bebas Tanpa Batas,” kata Kepala Desa Girirejo, Slamet Riyadi saat ditemui kemarin.

Di Pinea Forest Mangli ini, wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan alam berupa hutan pinus yang pohonnya besar menjulang tinggi ke atas langit, dengan berbagai fasilitas mainan anak-anak, termasuk kolam pemandian. “Yang jelas view-nya bagus untuk berfoto bersama teman dan keluarga,” ijarnya.

Tunggu apa lagi, pinta Slamet Riyadi, karena Desa Girirejo menunggu petualangan kalian semula untuk datang kembali. Karena secara administratif merupakan salah satu desa dari 17 desa yang ada di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Luas wilayah Desa Girirejo mencapai 628.287 Ha, dengan jumlah penduduk sekitar 5.106 orang jiwa, tersebar di 10 dusun.

Meliputi Dusun Mangli, Mantran Wetan, Gondangan Wetan, Mantran Kulon, Pendem, Gondangan Kulon, Srigading, Gogik, Dempel, dan Dusun Sawit. Nantinya, ke 10 dusun ini akan dikembangkan sesuai dengan potensinya, dengan cara memanfaatkan halaman pekarangan rumah warga masing-masing.

Misalnya, warga Dusun Mangli mengembangkan tanaman bunga, dusun lain mengembangkan tanaman kopi dan seterusnya, sehingga antara dusun satu dengan yang lain berbeda dalam budidaya tanaman. “Dengan begitu, wisatawan yang datang ingin mencari bunga, bisa langsung ke dusun yang warganya khusus menanam berbagai macam bunga,” ujar Slamet Riyadi.

Potensi yang dimiliki Desa Girirejo adalah sektor pertanian, terdapat pertanian holtikultura dengan komoditas unggulan berjenis kubis, cabai, wortel, dan lain-lain. Sektor peternakan, sebagian masyarakat beternak, sapi, ayam kampong, domba, dan angsa. Untuk sektor UMKM, terdapat gabungan kelompok tani yang bergerak pada bidang produksi pembibitan cabai, ada pula yang membuat usaha warung rumahan dan jual beli sayur.

Pada sektor pariwisata, terdapat wisata pendakian gunung andong yang terbagi menjadi tiga jalur pendakian, yaitu jalur yang melalui Dusun Sawit, Dusun Pendem dan Dusun Gogik, dengan prasarana berupa jalan yang sebagian besar sudah di aspal, drainase yang berupa sungai, jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, dan jaringan air bersih yang bersumber dari mata air Gunung Andong.

Hebatnya lagi, Desa Girirejo yang mendapat bantuan dari pemnerintah pusat membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Dalam pengelolaan sampah ini, dilakukan Kerjasama dengan Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta sebagai mendamping dalam mengolah sampah.

Sampah yang dihasilkan warga desa dikumpulkan dan ditampung di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), dengan teknik pengolahannya diawali dengan pemilahan berdasarkan tipe sampah organik, sampah plastik kemasan, sampah botol bekas, dan terakhir sampah residu. Sampah anorganik yang dapat dimanfaatkan ulang untuk pupuk tanaman pertanian. (ali subchi)