oleh

Pak Lan Pribumi 30 Tahun Jadi Biokong Klenteng

INILAHONLINE.COM, PATI

Gara-gara digaji tak “mbejaji” (tak seberapa), Pak Lan, 70 th, sebagai Biokhong (juru Kunci), hengkang dari Klenteng “Jepuro”, Tluwah, Juwana-Pati, Jawa Tengah. Hampir dua tahun, pindah kerja disebuah vihara, di daerah Tangerang, Jawa Barat. Baru kembali ke Jepuro, setelah dipanggil dan dinaikan gajinya.

Sukarlan nama lengkapnya, asli masih perjaka, karena sepanjang hidupnya belum pernah menikah. Entah apa alasannya, inilahonline.com yang menemuinya di Klenteng “Jepuro” Desa Tluwah, Kec.Juwana, Kab Pati, Jawa Tengah, baru-baru ini, juga tak sempat menanyakannya. Tapi tampaknya, dia enjoy dengan hidup dan kesendiriannya macam itu.

Saya lulusan Sekolah Tehnik Menengah (STM) Jurusan Lisrik di Semarang, ujarnya sambil tertawa sumringah. Selulus sekolah, Pak Lan merantau ke Jakarta dan diterima jadi karyawan sebuah perusahaan swasta. Puluhan tahun bekerja, akhirnya Pak Lan kena PHK, karena perusahaan menganggap lelaki ini sudah mulai tua dan tidak produktif lagi.

Pak Lan akhirnya pulang ke desa asalnya yaitu Tluwah-Juwana. Beberapa waktu sempat lontang-lantung tanpa kerjaan. Suatu saat datang tawaran kerja yang aneh dan tak terduga yakni, diminta menjadi “juru kunci” (Bio-khong) Klenteng “Jepuro”. Ya apa boleh buat, dari pada terus-terusan jadi “Panji Klantung”, tawaran itu diterimanya.

Sejak itu Pak Lan mulai belajar Budaya Cina, sekaligus mendalami ritual-ritual klenteng yang harus rutin dilaksanakan seorang Biokhong. “Awalnya saya tidak bisa apa-apa, tapi setelah belajar dan diajari oleh Biokhong terdahulu. Lama-lama seluruh rangkaian ritual persembahyangan di depan altar Kongco/Makco (Dewa/Dewi) saya kuasai”, tuturnya.

Klenteng Jepuro dengan “tuan rumah” Dewa Bumi (Kongco, Hok Tik Tjing Sien), yaitu dewa yang memberi kemakmuran pada seluruh semesta terutama umat manusia. Kongco Hok Tik Tjing Sien, berbentuk arca atau patung (Kim-Sien) seorang lelaki tua lengkap dengan mahkota dan tongkat kearifannya.

Menurut Pak Lan, di Indonesia tak banyak orang pribumi macam dirinya jadi seorang Biokong. Rata-rata tempat pemujaan/persembahyangan Klenteng di negara kita, mayoritas diemban warga Cina/Tionghoa. Sebab mereka sudah fasih menjalankan ritual persembah- yangan lengkap dengan penyajian sesaji-sesaji dialtar Konco/Makco.

Pak Lan mengaku, hampir 30 tahun jadi Biokong di Klenteng Jepuro. Meski gaji saya kecil, saya sudah “nrimo” (rela), karena merasa senang dan tenang jadi Biokong”, ucapnya. Pekerjaan Biokong, menyajikan Air Minum Teh (King Thea) tiap pagi dan sore, pada para arca/kongco yang bertengger di altar masing-masing.

Sekitar lima tahun lalu, tiba-tiba Pak Lan memaksa pindah kesebuah vihara Tangerang. Usut punya usut, kepergian itu dampak dari gaji yang diterimanya amat kecil, sekitar Rp 700.000/bulan. Sementara itu Ketua Yayasan yang mengurusi Klenteng Jepuro, Eddy Kubota, ucapan dan perilakunya pada Pak Lan dirasakan tak manusiawi.

Hampir dua tahun Pak Lan lari dari Klenteng Jepuro. Setelah Eddy Kubota memintanya kembali dengan janji memberi gaji layak dan sikapnya tak seenak sendiri pada Biokong. Pak Lan bersedia kembali jadi Biokong Klenteng “Jepuro”. Nggih ngoten niku kinten-kinten critane (Ya seperti itu kira-kira ceritanya), kata Pak Lan menutup obrolan.

(Heru Christiyono Amari)

Komentar