Produk nOPV2 Bio Farma Mendapatkan kualifikasi dari WHO

Berita, Nasional162 Dilihat

INILAHONLINE.COM, BANDUNG — Bio Farma memperoleh prakualifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk vaksin baru Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2) pada Desember 2023.

Sebelumnya, vaksin nOPV2 telah mendapat izin untuk digunakan dalam kondisi darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) dan Emergency Use of Listing (EUL) dari World Health Organization (WHO) pada November 2020.

Bio Farma telah memasok vaksin polio atau Novel Oral Polio Vaccine type 2 (nOPV2) ke sejumlah negara di Afrika, Eropa, dan Timur Tengah, setelah mendapatkan permintaan kontrak dari UNICEF untuk tahun 2022 dan 2023.

Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan, Bio Farma berkomitmen untuk melindungi generasi bangsa dan dunia dari penyakit menular yang dapat dicegah seperti polio.

“Bio Farma berperan aktif dalam percepatan pengembangan dan produksi vaksin nOPV2, sebagai strategi end-game polio di dunia,” ucapnya.

Menurut Shadiq, Bio Farma sebagai produsen vaksin, telah memenuhi 70% kebutuhan vaksin polio dunia dengan tetap mengutamakan kebutuhan vaksin dalam negeri dan dengan masuknya produk vaksin nOPV2 sebagai salah satu vaksin yang lolos prakualifikasi.

“Total produk vaksin Bio Farma yang sudah terdaftar di WHO sebanyak 16 produk,” kata Shadiq.

Shadiq mengapresiasi upaya maksimal dari seluruh insan Bio Farma dan tentunya Badan POM sebagai salah satu lembaga pemerintah yang memiliki peran penting dalam pencapaian ini.

“Aspek penting dalam tahap prakualifikasi WHO antara lain komitmen manajemen, penerapan sistem manajemen mutual yang komprehensif, dan tingkat kematangan Badan POM,” ujarnya.

Novel Oral Polio Vaccine type 2 (nOPV2) merupakan vaksin polio oral generasi terbaru pertama di dunia yang merupakan hasil penelitian Bio Farma. Dalam uji klinis, nOPV2 memberikan perlindungan yang sama terhadap virus polio tipe 2 dibandingkan dengan Sabin OPV, dengan keunggulan lebih stabil secara genetik, dan memiliki risiko yang lebih rendah untuk menghasilkan Circulate Vaccine-Derived Poliovirus (cVDPV), yaitu jenis virus polio yang telah termutasi dengan baik dari jenis yang awalnya terkandung dalam Oral Polio Vaccine (OPV).

Hingga saat ini, nOPV2 telah digunakan di 35 negara dengan status Emergency Use of Listing (EUL), terutama di wilayah Afrika yang paling terpengaruh oleh wabah cVDPV tipe 2. Selama pengembangan klinis dan penggunaan di lapangan, nOPV2 telah terbukti aman untuk digunakan dan efektif dalam menghentikan wabah seperti pendahulunya, vaksin oral monovalen Sabin tipe 2 (mOPV2), tetapi yang terpenting, lebih stabil secara genetik.

Setelah hampir tiga tahun digunakan, diperkirakan nOPV2 memiliki kemungkinan 80% lebih kecil untuk menimbulkan wabah polio varian baru, menjadikannya alat pilihan untuk menghentikan wabah ini untuk selamanya. (**/Frida)