Tanah Wakaf di Kota Semarang Menjadi Kendala Pembebasan Lahan Tol Semarang-Batang

InilahOnline.com (Semarang-Jateng) – Pembebasan lahan untuk pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang hingga kini, masih terjadi kendala sehingga belum tuntas secara baik. Pasalnya, panitia pembebasan tanah (P2T) terkendala adanya tanah wakaf.

”Dari data yang ada, lahan yang belum terbebaskan ada sebanyak 15 bidang tanah wakaf di Kecamatan Ngaliyan dan Semarang Barat yang terdampak pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang,”kata Kepala Sub Seksi Pengaturan Tanah Pemerintah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang, Sabtu (20/1/2018) kemarin.

Dijelaskan, sebetulnya lahan yang terkena jalan tol itu, sudah ada tanah pengganti.Bahkan sudah ada kesepakatan antara nadzir wakaf Masjid dengan PPK (pejabat pembuat komitmen) jalan tol, dan pemilik tanah pengganti.”Jadi tanah penggantinya sudah disiapkan,”paparnya.

Menurutnya, tanah wakaf tersebut di antaranya adalah Masjid Jami Baitul Mustaghfirin di Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan, Kota Semarang, dan sebuah makam seluas 5.300 meter persegi yang berlokasi di dekat terowongan Plampisan Ngaliyan Semarang. Baik masjid maupun makam, nantinya akan dipindahkan.

”Tanah penggantinya sudah disiapkan. Lokasinya tidak jauh dari situ,” ujarnya.

Dikatakan, masalah kendalanya sebenarnya hanya masalah normatif terkait regulasi Undang-Undang (UU) wakaf dan Peraturan Pemerintah (PP) Perwakafan yang membutuhkan proses cukup panjang. ”Terlebih, penggantian harus dengan lahan pengganti dan tidak boleh dengan uang,”paparnya.

Ia menjelaskan, dalam proses poengalihan lahan harus dimulai dengan membentuk tim penilai pengganti benda wakaf, yang dibentuk menggunakan dasar SK Walikota. Setelah itu dibuat rekomendasi yang diserahkan kepada Walikota.

”Walikota membuat SK kesepakatan tanah pengganti wakaf yang telah disiapkan. Penggantian itu harus mendapatkan izin dari Menteri Agama setelah mendapatkan rekomendasi dari Badan Wakaf Indonesia. Nah proses izin dari Menteri Agama dan Badan Wakaf Indonesia itu yang lama,”tuturnya.

Selain Masjid Jami Baitul Mustaghfirin, ada juga lahan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam, MI Nurul Huda, dan makam seluas 5.300 meter per segi yang berlokasi di dekat terowongan Pelampisan Ngaliyan.

”Makam tersebut nanti dipindah tak jauh dari lokasi, yakni Jalan Gatot Subroto Kawasan Industri. Dulu memang ada penolakan dari warga, tapi sudah kami lakukan pendekatan. Saat ini warga sudah tidak ada masalah,”ujarnya.

Mengenai lahan perorangan, lanjut dia, menyisakan satu bidang lahan yang masih menunggu proses penyelesaian di Pengadilan. Yaitu lahan milik warga di daerah Wahyu Utomo Ngaliyan atas nama Sri Urip yang masih bersengketa dengan orang lain.

”Belum selesainya pembebasan lahan milik warga tersebut, bukan masalah nilai ganti kerugian yang belum disepakati. Tetapi karena ada sengketa lahan, sehingga harus diselesaikan di pengadilan,” tambahnya.(Suparman)