oleh

Tikus Pithi Kekuatan Baru Politik Nasional

Oleh: Herry Setiawan
(Pegiat Demokrasi Bogor)

Organisasi masyarakat Panji-Panji Hati Tikus Pithi Hanata Baris (PPHTPHB) yang akrab disebut “Tikus Pithi” membuncahkan pentas politik nasional saat mampu meloloskan calon perseorangan pada Pilkada Surakarta 2020 dengan mengusung pasangan Subagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo) melawan pasangan yang diusung koalisi super besar partai politik nasional, Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa, yang tak lain anak Presiden RI Joko Widodo.

Tikus Pithi bukan pertama kali mengusung pasangan calon kepala daerah di sejumlah daerah khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun baru sekali mampu meloloskan persyaratan yang ditetapkan KPU sebagai pasangan calon kepala daerah, yakni di Pilkada Surakarta 2020. Pada Pilkada Magetan 2018 Tikus Pithi mencoba mendaftarkan pasangan calon independen dengan mengusung Sigit Prawoso-Tri Handoyo, namun persyaratan dukungan KTP yang diserahkan ke KPU Magetan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan. Padahal saat itu pasangan ini telah menyerahkan dukungan KTP sebanyak 41.544. Dalam perjalanannya dukungan itu dinyatakan tidak memenuhi persyaratan setelah dilakukan verifikasi faktual oleh KPU Magetan.

Di pilkada Blitar 2020 Tikus Pithi juga mengusung pasangan calon independen, Sumari-Edi Widodo. Sebelum mundur dari pencalonan pasangan ini telah menyerahkan dukungan 1.987 KTP. Namun di tengah perjalanan pasangan ini tidak lagi menyerahkan sisa dukungan yang disyaratkan KPU sebanyak 11.335 KTP. Padahal pada awal Januari 2020, pasangan ini telah menyiapkan sedikitnya 10 ribu dukungan KTP.

Pada pilkada serentak 2020 ini, Tikus Pithi juga mendaftarkan pasang calon independen di Pilkada Sragen 2020 dengan mengusung pasangan Suroto-Suparman. Meskipun telah menyerahkan 60 ribu dukungan KTP dari seluruh Kabupaten Sragen, Jawa Timur, pasangan ini dinyatakan tidak lolos karena masalah administrasi dokumen yang disyaratkan oleh KPU Sragen.

Pada pilgub Jatim 2018 lalu, Tikus Pithi juga berupaya keras untuk mendaftar sebagai kontestan pilkada dengan mengusung pasangan perseorangan yakni Sigit Prawoso-Bambang Purwadi. Namun dalam perjalanannya, Tikus Pithi gagal menyerahkan syarat dukungan KTP sebanyak 2 juta lebih yang tersebar di 20 kota kabupaten wilayah Jawa Timur. Senasib dengan pilkada Blitar dan Magetan, pasangan yang diusung Tikus Pithi ini akhirnya dinyatakan tidak lolos persyaratan.

Konsisten dengan perjuangan politik tersebut, Tikus Pithi juga mencoba mengusung calon presiden independen pada pilpres 2019 lalu. Mengusung ketua yang sangat dihormati di Tikus Pithi, Tuntas Subagyo sebagai calon presiden perseorangan. Pria kelahiran Baki, Sukoharjo 2 Desember 1977 ini akhirnya gagal mencalonkan diri sebagai presiden dari jalur perseorangan.

Gagalnya Tuntas Subagyo karena terbentur putusan Mahkamah Konstitusi RI nomor 56/PUU-VI/2008 terkait konstitusionalitas ketentuan yang hanya mengatur pencalonan pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik bukan dari perseorangan. Putusan ini bersifat final dan mengikat. Selain itu, MK RI juga memutuskan perkara yang sama melalui putusan nomor 17/PUU-XI/2013 yang juga menolak seluruhnya permohonan agar calon presiden dapat diusung melalui jalur perseorangan.

Ikhtiar politik Tikus Pithi agaknya belum surut dalam mengusung calon presiden dari jalur perseorangan. Meskipun MK telah menetapkan menolak calon presiden dari jalur perseorangan. Hal itu dibuktikan dengan mengirim ribuan anggota Tikus Pithi ke Gedung DPR/MPR RI pada 12 Februari 2019 dan 18 Maret 2019 untuk mendesak digelarnya sidang istimewa agar mengubah aturan konstitusi memuluskan calon presiden dari jalur perseorangan. Sempat diterima oleh Setjen DPR/MPRI RI, petisi calon presiden perseorangan itu diminta diperjuangkan oleh parlemen dan hingga hari ini permohonan itu belum dibahas dalam RUU Pemilu yang masih dibahas oleh Komisi II DPR RI karena terganjal putusan MK RI.

Tikus Pithi mengklaim dirinya telah tersebar di sejumlah daerah, di antaranya selain Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, ormas ini juga telah mendirikan kepengurusan dan keanggotaan di Papua dan Sulawesi. Seiring perjalanan waktu, Tikus Pithi nampaknya akan terus melebarkan sayap politiknya di seluruh penjuru nusantara. Hal ini dapat dipastikan sesuai dengan misi Tikus Pithi yang bersandingan dengan misi Yayasan Surya Nuswantara agar Tikus Pithi terbentuk di seluruh penjuru nusantara.

Mengulang Sejarah Majapahit

Tikus Pithi berasal dari tikus rumah yang kecil namun lincah dan cerdik, mirip figurnya dengan Jerry dalam film kartun Hollywood Tom and Jerry. Kisah fabel yang melibatkan tikus dan seekor harimau juga menginspirasi Tikus Pithi. Alkisah, seekor harimau hendak minum di sebuah cekungan air segar, namun terdapat seekor tikus yang sudah minum di cekungan air itu. Disergap, harimau akan malu karena tak sebanding dengan kebutuhan makannya, akhirnya harimau menyilahkan tikus minum sepuasnya lalu dibiarkan pergi. Perbuatan baik itu dibalas oleh tikus saat harimau terjebak akar pohon yang makin melilitnya, para tikus pun membantu harimau dengan menggigit akar hingga putus dan akhirnya harimau lepas dari jebakan itu. Kekuatan kebaikan tikus ini menjadi inspirasi Tikus Pithi yang jumlahnya masif.

Ormas Tikus Pithi Hanata Baris didirikan pada 2014 lalu oleh Tuntas Subagyo yang terinspirasi dari perjuangan Mahapatih Gajahmada di era Kerajaan Majapahit abad 13-16 Masehi silam. Menurut Sigit Prawoso yang kini menjadi ketua tim pemenangan pasangan Bajo di pilkada Surakarta 2020, Tikus Pithi di masa silam adalah sekumpulan orang kecil yang berasal dari berbagai latarbelakang agama, suku dan ras dan bukan berasal dari kalangan ningrat, priyayi maupun agamawan.

Para Tikus Pithi inilah yang berhasil mengantarkan Ken Arok sebagai raja Singosari dan akhirnya melahirkan keturunan para raja Majapahit, Pajang, Mataram termasuk Mataram Islam hingga kini. Tak hanya Ken Arok, pada saat itu Gajahmada juga diklaim sebagai anggota Tikus Pithi yang menggunakan Tikus Pithi sebagai barisan rakyat kecil hingga mampu menaklukkan kekuasaan para raja di seluruh wilayah nusantara dengan damai. Itu membuat legenda kerajaan Majapahit sebagai kerajaan terbesar dan terkuat di wilayah Asia Tenggara saat itu menjadi mahsyur hingga kini.

 

Sigit menjelaskan bahwa keinginan kuat mengulang sejarah kejayaan Majapahit menjadi landasan Tikus Pithi di era milenium ini. Termasuk ikhtiar politik dalam memperoleh kekuasaan di suatu daerah dengan cara yang santun, prosedural dan tanpa politik uang. Soliditas anggota Tikus Pithi terbukti dengan membuktikan membayar keanggotaan sebesar Rp 100 ribu dan menyerahkan KTP calon anggota ke pengurus.

Terdapat pengurus di setiap wilayah yang mengelola uang anggota. Sigit mengklaim Tikus Pithi telah memiliki ratusan ribu anggota yang tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Sulawesi dan Papua. Setidaknya soliditas para anggota Tikus Pithi dibuktikan pula dengan beberapa kali memobilisasi massanya ke Jakarta, terakhir kali saat mengantarkan pasangan Bajo mendaftar ke KPU Surakarta di pilkada Surakarta 9 Desember 2020.

Figur orang kecil yang dianggap tidak memiliki apapun termasuk uang, keturunan keluarga pejabat, dan jalur politik nasional dibuktikan dengan figur yang disodorkan di sejumlah pilkada khususnya di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sigit misalnya adalah sosok kepala desa di daerahnya di Magetan yang berhasil terpilih melalui perjuangan Tikus Pithi. Sementara Subagyo calon walikota Solo adalah seorang penjahit kecil di kota Solo. Sementara FX Supardjo adalah seorang ketua RT yang akhirnya terpilih menjadi ketua RW yang kini menjadi calon wakil walikota Solo. Keduanya adalah anggota Tikus Pithi.

Gerakan politik Tikus Pithi yang masuk di semua kalangan suku dan agama membuatnya menjadi miniatur Indonesia yang heterogen dengan tetap kental nuansa keislaman yang rahmatal lil alamin. Termasuk pula mengadopsi berbagai aliran kepercayaan di wilayah Jawa, seperti aliran Kejawen yang kental. Dengan beragamnya latarbelakang keanggotaan Tikus Pithi ini menjadi penguat bahwa gotongroyong dan saling mengasihi di antara sesama anggota membuat ormas ini sangat kuat.

Namun kiprah para tokoh Tikus Pithi ternyata juga telah masuk ke panggung nasional. Seperti dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu yang ternyata juga terdapat keterlibatan Tikus Pithi di Jabodetabek dan berhasil mengantarkan Anis Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur DKI periode 2017-2022. Meskipun keterlibatan Tikus Pithi bersifat arus bawah namun hal ini membuktikan keseriusan mereka dalam keterlibatan pentas politik nasional. Konsisten dengan itu mereka tidak terlibat dengan partai politik manapun.

Dengan potensi anggota yang massif itu, apakah Tikus Pithi mampu mewarnai pentas politik nasional di masa mendatang? Menjawab itu, Sigit menjelaskan bahwa Tikus Pithi konsisten melakukan pelebaran sayap politik melalui orang kecil, seperti para pedagang kecil, ibu rumahtangga, petani kecil tanpa kepemilikan tanah yang luas. Semua sektor kehidupan yang terdapat orang yang tidak dianggap secara politik berpotensi tergabung dalam Tikus Pithi Hanata Baris.

Misinya adalah melakukan perubahan menuju kemakmuran dan kejayaan. Maka dari itu, Tikus Pithi selalu mengusung Pambukaning Gapuro Projo (Pembuka Gerbang Kejayaan). Caranya adalah dengan berpolitik tanpa politik uang, termasuk biaya kampanye dilakukan secara urunan dari para anggota. Menerima sumbangan berbentuk barang seperti beras, minyak, gula, kopi dan teh termasuk peralatan cetak bahan kampanye.

Perubahan yang diusung dengan tetap berada dalam bingkai NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara, gotong royong benar-benar diejawantahkan dalam aksi politik Tikus Pithi. Figur yang ditunjuk oleh Tuntas Subagyo telah dilakukan melalui perenungan dan penelitian jangka panjang bukan tetiba bagaikan duren runtuh. Rasionalitas aksi politik Tuntas juga melibatkan para anggota khususnya para pengurus terdekat untuk memilih figur terbaik di suatu daerah.

Setidaknya panggung pentas politik nasional perlu mencermati gerakan politik arus bawah ala Tikus Pithi Hanata Baris dengan kesolidan yang dimilikinya. Termasuk soal perjalanan kepala daerah yang jika terpilih di Solo misalnya, apakah mampu berhadapan dengan kelihaian para politisi di tubuh parpol yang sudah teruji dalam berbagai arus zaman. Publik masih menanti kiprah politik Tikus Pithi Hanata Baris. Jika berhasil, bukan tidak mungkin ledakan keanggotaan dan uang yang terkumpul dari anggota dapat menjadikan ormas ini sebagai kekuatan besar yang menentukan perubahan sejarah Indonesia menjadi lebih baik dan meraih kejayaan.[ ]

Komentar