UIKA Jadi Rujukan Mahasiswa Negeri Singa

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Belum tersedianya pakar Psikologi Islam di Singapura membuat 24 mahasiswa University Al-Zuhry di Negeri Singa itu dirujuk untuk menimba ilmu di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Para mahasiswa jurusan Pengajaran Islam datang ke UIKA untuk mempelajari mata kuliah Psikologi Islam selama empat hari, 23-26 April 2018. Rombongan mahasiswa dari Negeri Jiran itu tiba di Bogor, Minggu (22/4/2018).

“Kunjungan ini merupakan program wajib yang harus diambil oleh mahasiswa University Al-Zuhry jurusan Pengajaran Islam. Kunjungan ini bukan dalam rangka studi banding, tapi karena ada satu modul wajib di UIKA,” ucap Sumaiyah, salahsatu mahasiswi University Al-Zuhry yang pernah menimba ilmu di Gontor Darussalam ketika dikonfirmasi, Selasa (24/4/2018).

Senada dengan Sumaiyah, Amnah, mahasiswi Al-Zuhry lainnya mengungkapkan bahwa program ini wajib, karena matakuliah Psikologi Islam yang di Singapura belum sekuat di UIKA sekaligus merupakan salahsatu syarat kelulusan di University Al-Zuhry.

“Pendidik kami mendasarkan pada silabus UIKA. Jadi, kami harus datang ke Bogor untuk menguatkan lagi dan harus melihat keadaan di sini buat jumpa pensyarah di sini. Dalam empat tahun kuliah harus ada tiga kali kedatangan kami ke sini agar kami dapat kekuatan dari sini, sebab di Singapura belum ada pakar dalam bidang Psikologi Islam,” terang perempuan paruhbaya itu dalam Bahasa Melayu yang kental.

Modul yang wajib diambil di UIKA khususnya matakuliah Psikologi Islam itu disampaikan oleh Santi Lisnawati, MSi, MPd yang juga Wakil Dekan bidang akademik Fakultas Agama Islam dan Dr Imas Kania Rahman, MPd.I yang juga Sekretaris Program Magister Pendidikan Agama Islam.

“Hari pertama menyampaikan silabus kontrak belajar, dengan ibu bagaimana menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan. Kedua, bagaimana psikologi dalam perspektif Islam dan ketiga, fase perkembangan dan perbedaan antara Psikologi Barat dan Psikologi Islam,” jelas Imas Kania saat dimintai keterangan.

Pengajar dan mahasiswa Singapura menyampaikan bahwa tidak ada kesulitan selama proses kuliah berlangsung, walaupun ada perbedaan bahasa, karena mahasiswa asal Singapura ini telah terbiasa dengan Bahasa Indonesia juga Melayu. Tak jarang para pengajar UIKA berkunjung ke University Al-Zuhry, karena telah menjalin kerjasama. (CJ/Deby Febryanti/Heni Pratiwi)