oleh

Yahdi Chandra, Tukang Parkir yang Sukses Usaha Tekstil

Sukses dalam berbisnis memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Hal inilah yang telah dialami oleh Yahdi Chandra yang akrab disapa Bung Alex.

Yahdi lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 18 Juni 1974. Saat SMA, orangtuanya hijrah mengadu nasib di kota Jakarta.

“Saat ke sini, orangtua saya tidak punya usaha apa-apa, benar-benar nol. Saya pun untuk sekolah mencari uang sendiri, jadi tukang parkir di simpang Jalan Limo, Kebayoran Lama,” kenang Alex.

Karena berada di daerah Cidodol, kemudian ibu dari Alex pun berjualan di Pasar Cipulir dengan membuka lapak kaki lima. Alex pun kerap membantu usaha orangtuanya di salah satu pasar tekstil terbesar di Jakarta itu. Dan di sinilah momen Alex belajar berbisnis.

“Saya belajar jadi calo, menawarkan barang-barang milik pedagang di sini ke pembeli lokal yang mau berbelanja grosir dari berbagai daerah di Indonesia,” terangnya.

Toko Wiryo Batik Pekalongan di Pasar Cipulir

Dengan ilmu dan jaringan yang telah didapatnya, Alex pun memberanikan diri untuk membuka lapak kaki lima di Pasar Cipulir sekitar tahun 1991. Sedikit demi sedikit, ia pun mengumpulkan uang untuk mengembangkan usahanya.

“Dari menabung saya belikan vespa seharga Rp 350 ribu. Motor itulah yang saya gunakan ke konveksi-konveksi, dari daerah Pondok Aren, Cipadu sampai Cipondoh,” ucap suami dari Wisna Octavianti, SH ini.

Singkat cerita, usaha yang dirintisnya pun terus berkembang. Saat ini, bapak dari Randa Elgo Chandra, Rangga Dheo Chandra, dan Shylvi Andrianty Chandra inipun telah memiliki tiga toko dan satu ruko di Pasar Cipulir. Bahkan Alex memiliki karyawan hingga 12 orang.

“Kita punya merek untuk produk celana sendiri Elgo Collection. Dan saya bekerjasama dengan konveksi batik di Pekalongan serta Solo, sudah ada Wiryo Batik,” tuturnya.

Meskipun diakui Alex pasar tekstil di Indonesia tidak stabil, namun ia tetap optimis dengan stabilitas perekonomian Indonesia, daya beli masyarakat tetap akan tinggi.


Bung Alex di toko batiknya

“Memang sekarang sulit membaca kondisi pasar. Tapi saya yakin daya beli masyarakat masih tinggi untuk produk tekstil seperti celana, apalagi batik yang memang menjadi pakaian nasional,” ucapnya.

Pelanggan Alex pun dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada dari Malaysia. “Jaringan ini pun dibangun juga karena saya hobi berorganisasi. Banyak kawan, banyak hubungan yang kita dapat,” ungkapnya.

Saat ini pun Alex menjabat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi Pemuda Pancasila (PP) Majelis Pimpinan Wilayah DKI Jakarta. Tidak hanya itu, ia juga memegang jabatan Wakil Sekretaris Umum Satuan Pelajar Mahasiswa (Sapma) Pusat.

Komentar