INILAHONLINE COM, SLEMAN — Ribuan warga Padukuhan Jodag/Gabahan, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, menggelar syawalan disepanjang jalan kampung. Halal Bil Halal, dilakukan setelah warga melakukan sholat Idul Fitri 1447 Hijriyah pada hari Sabtu (21/3-2026). Tradisi syawalan atau Halal Bil Halal kembali digelar, setelah lima tahun facum akibat Covid 19 tahun 2020 silam.
Tradisi syawalan Lebaran Tahun 2026 ini, digelar di sepanjang jalan kampung sambil duduk lesehan beralaskan tikar, untuk perempuan berada di sisi kiri jalan, sedang laki-laki berada di sisi kanan jalan sepanjang satu kilo meter tersebut.

Sebelum tradisi syawalan saling jabat tangan untuk bermaaf-maafan dilakukan, terlebih dahulu diadakan serangkaian kegiatan serimonial, diantaranya ikrar halal bil halal oleh Ketua RW 12 Sutrisno, dan doa dipimpin Rois Dusun Jodag/Gabahan bapak Sadi. Sedangkan dalam tersebut, terkumpul dana infaq warga sebesar Rp 1.450.000
Usai rangkaian serimonial, warga berderi berjajar dari ujung sambil berjabat tangan untuk saling bermaaf-maafan dan berjalan saling menyambung. Jabat tangan tersebut dilakukan baik bapsk-bapak maupun ibu-ibu hingga kegiatan syawalan dengan jabat tangan usai.
Sebelumnya, Ketua Panitia Syawalan 1447 H, Edy Purwanto mengatakan, syawalan pada hari raya idul Fitri 1447 Hijriyah digelar kembali, setelah hampir lima tahun tidak diadakan sejak Covid 19 tahun 2020 silam. “Alhamdulillah, tahun ini warga bisa menggelar syawalan untuk bersilaturrahim kembali,” ujarnya.

Melalui syawalan bersama warga se Padukuhan ini, tujuaanya untuk menyambung silaturrahmi agar bisa lebih dekat dalam membangun persaudaraan diantara warga, sehingga momentum syawalan ini untuk bisa saling bermaaf maafan, baik untuk diri sendiri maupun bersama antar warga, serta mengambil kebaikan semua sebagai warga, setelah perpuasa 30 hari untuk bisa kembali ke fitrohnya.
Kepala Dukuh Padukuhan Jodag/Gabahan, Suwignyo menjelaskan, tradisi halal bil halal ini sebagai area untuk melakukan silaturrahmi, dan saling memaafkan diantara sesama warga, agar kesahanan yang selama ini bisa dilebur untuk kembali ke fitri.
Selain itu, juga disampaikan sosialisasi terkait rasionalisasi anggaran desa yang mulai tahun ini (2026), terdapat efisiensi yang sangat besar, sehingga berpengaruh terhadap kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan desa. Namun demikian, dulu tidak ada bantuan dari pemerintah, tetapi banyak warga yang mampu menyekolahkan hingga sarjana, tetapi sekarang ini banyak bantuan justru banyak generasi muda yang suka minum-minuman keras, dan berujung mabuk.
Supaya cukup, warga harus obah untuk olah rogo atau bekerja, baik kerja di ladang maupun kerja dan lain. “Selain kerja, ya harus tetap berdoa kepada Allah, dan juga agar juga ngasah rasa supaya hidupnya bisa bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang, serta masyarakat secara luas. “Kami berharap, warga diberi kesehatan, rezeki, kesehatan dan kepandaian dibidang pendidikan,” pungkasnya. (ali subchi)





























































Komentar