SIKAP politik Partai Demokrat terkait wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) kembali menjadi sorotan. Partai berlambang bintang mercy itu kini mendukung opsi pilkada melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Skema yang satu dekade lalu justru digagalkan oleh Presiden keenam RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dukungan itu disampaikan Demokrat seiring dengan sikap Presiden Prabowo Subianto yang membuka kembali wacana perubahan sistem pilkada, termasuk kemungkinan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD.
Menurut pakar politik sekaligus direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli, mengatakan dalam dunia politik apa yang dilakukan partai Demokrat terhadap isu perubahan sistem pemilihan bisa dikatakan sebagai teknik gertakan atau bluffing.
Teknik ini adalah hal yang lumrah terjadi karena merupakan bagian dari strategi politik
Teknik ini bertujuan untuk memancing respons dari lawan sehingga lawan bergerak. Jika teknik seperti ini ingin berhasil, maka pihak yang melakukan bluffing atau gertakan sebaiknya tidak menunjukkan niatnya secara terang-terangan pada lawan.
Keberhasilan teknik political bluffing ini dapat dilihat dari munculnya pergerakan lawan yang buruk sehingga menguntungkan pihak yang melakukan bluffing.
Bluffing ini dapat menjadi keahlian yang menguntungkan dalam lingkungan yang beragam dan kompetitif seperti politik. Tujuan dari bluffing itu sendiri adalah mencapai daya tawar tertinggi.
Namun biasanya, seiring waktu, posisi, dan kondisi sebenarnya sosok bluffer atau penggertak akan terungkap, seperti yang terjadi dalam permainan poker.
Selain itu, orang yang digertak dapat selalu melakukan call the bluff untuk menguak gerak-gerik maupun “kekuatan palsu” si penggertak.
Dalam konteks dinamika koalisi antara Demokrat dan partai Gerindra, manuver yang dilakukan AHY dan jajaran partainya kiranya adalah sebuah teknik bluffing atau gertakan kepada Prabowo Subianto untuk tetap menjaga status quo untuk mempertahankan relevansinya sebagai cawapres potensial berduet dengan Prabow pada kontestasi pemilu 2029.
Teknik ini tampaknya terbukti jitu untuk membawa AHY dalam posisi yang menguntungkan sekaligus memancing Prabowo memberikan respons terhadap apa yang dilakukan oleh Demokrat.
Keberhasilan teknik bluffing ini tak lepas dari kecerdikan Demokrat yang tidak menunjukkan secara terang-terangan maksud dari tujuannya, yakni posisi cawapres potensial pada pemilu 2029 mendatang.
Bluffing yang dilakukan Demokrat ini adalah bagian dari konsekuensi persaingan AHY dan Gibran dalam bursa cawapres yang selalu menempatkan keduanya bergantian dalam posisi teratas survei elektabilitas.
Prabowo tampaknya juga sadar tidak mau kehilangan mitra koalisi strategisnya dan kemudian berpaling pada rival politiknya. Ini kiranya akan jelas merugikan Prabowo.
Lalu, apa tujuan yang sebenarnya hendak dicapai Demokrat setelah melakukan Teknik political bluffing yang dilakukan Demokrat juga bisa dikatakan sebagai manajemen impresi. Erving Goffman yang merupakan seorang sosiolog asal Kanada dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life menjelaskan tentang impression management atau manajemen impresi.
Manajemen impresi adalah proses pengelolaan kesan yang dilakukan individu ketika berinteraksi. Secara singkat, ketika seseorang berhadapan dengan orang lain, maka dirinya akan memiliki motif untuk mencoba mengontrol dan mempertahankan kesan tertentu.
Dalam konteks AHY dan Demokrat, dirinya tampaknya coba menunjukkan eksistensinya sebagai kandidat kuat cawapres yang pantas mendampingi Prabowo dengan memainkan strategi manajemen impresi.
Hal itu dilakukan dengan seakan memberikan pesan kepada Prabowo untuk bahwa nama AHY yang paling potensial sebagai cawapres sesuai dengan konsesus koalisi Demokrat dan Gerindra.
Selain itu, strategi itu digunakan Demokrat kiranya bertujuan untuk menaikkan daya tawar di depan Prabowo.
Jean Baudrillard dalam tulisannya yang berjudul For a Critique of The Political Economy of The Sign menjelaskan sebuah nilai intrinsik-simbolis dapat membuat harga “barang dagangan” (komoditas) dari sebuah obyek meningkat.
Manuver politik Demokrat kepada Prabowo adalah sebuah intristik-simbolis yang boleh jadi mempunyai tujuan untuk menaikkan daya tawar AHY agar menjadi cawapres darI Prabowo
Hal itu kemudian diperkuat dengan tawaran dan pesan simbolik di berbagai acara Demokrat yang datang kepada dirinya dan Demokrat untuk bergabung dengan koalisi yang dibangun Prabowk -Gibran dengan tawaran yang juga diakui lebih menarik.
Selain itu, keberanian Demokrat untuk menaikkan daya tawar bukan tanpa alasan. Kini AHY semakin matang dalam berpolitik hingga mempunyai basis pendukungnya sendiri.{}





























































Komentar