Catatan Perjalanan Tugas Misi Kemanusiaan DPP LVRI di Aceh : ZIARAH DI MAKAM SYUHADA LAPAN ACEH

Berita, Daerah, Hankam25 Dilihat
Kepala Perpustakaan DPP LVRI, Sudadi saat berada di kawasan Makam Syuhada Lapan Aceh. (Foto : Dok. DPP LVRI)

INILAHONLINE.COM. BIREUEN, ACEH – Perjalanan di sela penugasan misi kemanusiaan Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (DPP LVRI) di Aceh, dari Bireuen menyusuri Jejak Syahid Lapan beberapa hari lalu, Kepala Perpustakaan DPP LVRI, Sudadi singgah di sebuah titik yang nyaris selalu dilewati orang tanpa benar-benar dibaca sejarahnya.Menurut Sudadi yang akrab dipanggil Dadik ini menceritakan, bahwa di tepi jalan nasional Banda Aceh–Medan, tepatnya di Cot Batee Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, berdiri Makam Syahid Lapan, situs sunyi yang menyimpan salah satu kisah perlawanan paling heroik dalam sejarah Aceh.

“Kunjungan ini bukan agenda seremonial. Akan tetapi terjadi secara alami, sebagai bagian dari napas perjalanan kemanusiaan dan kebangsaan. Di tempat inilah, lebih dari seabad lalu, delapan pejuang Aceh gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang melawan pasukan kolonial Belanda,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dadik menceritakan sejarah, pertempuran delapan lawan dua puluh empat, menurut catatan sejarah lokal dan penuturan masyarakat setempat, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1902, pada fase akhir Perang Aceh. Delapan pejuang Aceh berhadapan dengan 24 pasukan marsose, satuan elit Belanda yang terkenal disiplin dan dipersenjatai senjata api modern.

Para pejuang Aceh hanya berbekal senjata tradisional—pedang, rencong, dan parang, namun mereka memilih bertahan. Pertempuran jarak dekat pun tak terelakkan. Dalam perlawanan yang berlangsung sengit itu, seluruh pasukan marsose berhasil dilumpuhkan.

Kemenangan tersebut tidak berlangsung lama. Saat delapan pejuang itu tengah mengumpulkan senjata rampasan, pasukan bantuan Belanda dari arah Jeunieb datang mengepung lokasi. Dengan jumlah dan persenjataan yang jauh lebih unggul, Belanda melancarkan serangan balasan.

Gugur Hingga Titik Darah Terakhir, Tidak ada cerita tentang mundur atau menyerah. Delapan pejuang Aceh itu kembali bertempur hingga gugur satu per satu. Mereka wafat di tempat yang sama, di tanah yang mereka pertahankan.

Jenazah mereka kemudian dikuburkan dalam satu liang, di lokasi yang kini menjadi Makam Syahid Lapan. Dalam ingatan kolektif masyarakat, mereka dikenang sebagai syuhada, pejuang yang gugur dalam mempertahankan tanah, martabat, dan keyakinan.

Nama Lapan sendiri berasal dari bahasa Aceh yang berarti delapan, merujuk langsung pada jumlah pejuang yang syahid dalam peristiwa tersebut.

Nama-nama yang tertulis dan didoakan di makam itu, tertulis delapan nama yang hingga kini terus disebut dalam doa yaitu, Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syehk Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek

Dadik menambahkan, bagi masyarakat Aceh, nama-nama pejuang tersebut bukan sekadar nama, melainkan simbol keberanian rakyat menghadapi penjajahan dengan segala keterbatasan. “Makam yang Tetap Hidu. Saat saya berdiri di depan makam itu, suasana terasa hening, namun tidak mati,” ujarnya.

Beberapa pelintas jalan berhenti sejenak. Ada yang berdoa, ada yang memasukkan sedekah ke kotak amal sederhana di depan makam. Makam Syahid Lapan hari ini tidak hanya berfungsi sebagai situs sejarah, tetapi juga ruang ingatan kolektif. Ia dirawat oleh masyarakat, diziarahi lintas generasi, dan terus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bangsa ini dibayar mahal oleh darah para pejuang di berbagai penjuru negeri.

Lebih jauh Dadik mengatakan, bahwa catatan dari Penugasan Kemanusiaan,dalam konteks penugasan DPP LVRI, kunjungan ke Makam Syahid Lapan menjadi pengingat yang relevan: bahwa tugas kemanusiaan hari ini berdiri di atas pengorbanan generasi sebelumnya. Mereka berjuang dengan senjata; kita melanjutkannya dengan kepedulian, pengabdian, dan menjaga ingatan sejarah agar tidak terputus.

“Makam Syahid Lapan mengajarkan satu hal penting: bangsa yang besar bukan hanya yang menang perang, tetapi yang mampu merawat ingatan atas mereka yang gugur tanpa pamrih,” kata Dadik mengakhiri catatan perjalanan penugasan misi kemanusian DPP LVRI selama berada di Aceh. (RED)

banner 521x10

Komentar