Akibat Sampah Menumpuk, Warga Desa Kuta Menderita Penyakit Kulit

Megapolitan743 Dilihat

INILAHONLINE.COM, MEGA MENDUNG – Bau tak sedap dari tumpukan sampah rumah tangga yang tersebar di bantaran sungai Ciliwung di Kampung Pakancilan Atas, Desa Kuta, Mega Mendung, Kabupaten Bogor dikeluhkan warga. Munculnya persoalan sampah ini disebabkan tidak adanya fasilitas TPS.

Akibatnya banyak warga yang mengalami penyakit kulit gatal-gatal hingga mengakibatkan infeksi penyakit kulit. Tidak hanya itu, sampah tersebut juga menjadi penyebab banjir karena sampah yang berserakan disekitar bantaran sungai Ciliwung ikut terbawa oleh aliran air hujan yang turun dan menyebabkan sungai Ciliwung tersedat oleh sampah-sampah yang hanyut.

Kurangnya kepedulian warga dengan membuang sampah sembarangan bukan mereka tidak tahu akan kesehatan. Hal ini diakibatkan tidak adanya TPS yang di bangun oleh pemerintah setempat. Akhirnya warga dengan seenaknya membuang sampah di tempat sembarangan yang dekat bantaran sungai.

Habib Abu Bakar Assegaf salah satu warga Kampung Pakancilan mengatakan, warga sekitar kebingungan harus membuang sampah rumah tangganya, akhirnya ada lahan di bantaran sungai dijadikan tempat pembungan sampah. “Sebenarnya warga bukan tidak perduli terhadap kesehatan lingkungan, namun dikarenakan tidak adanya fasilitas pembuangan sampah, akhirnya warga terpaksa membuang sampah di sekitar bantaran sungai,” ucap Abu Bakar kepada inilahonline.com, Sabtu (23/6).

Ia juga menyayangkan Pemerintah setempat tidak tanggap dan terkesan tidak peduli dengan warga Kampung Pakancilan. Akibat menumpuknya sampah aroma bau tak sedap dan banyak lalat yang hinggap menjadi faktor utama penyebab terjadinya penyakit kulit.

“Kebetulan juga posisi rumah saya paling dekat dengan tempat pembuangan sampah. Jadi saat tumpukan sampah sudah menggunung, menimbulkan bau yang menyengat serta banyak lalat dan juga nyamuk,” keluhnya.

Abu Bakar menambahkan, sebenarnya dahulu pernah ada bak sampah yang di buat oleh mahasiswa yang melaksanakan KKN. “Karena posisinya tidak tepat akhirnya dibongkar kembali dan sampai saat ini belum ada lagi penggantinya,” katanya.

“Kita sebagai warga sangat berharap ada kepeduliaan dari pihak Pemerintahan Desa untuk menangani permasalahan sampah yang terjadi saat ini, karena sampai detik ini warga masih membuang sampah di kebun yang dekat dengan sungai, sehingga saat hujan turun sampah-sampah tersebut hanyut terbawa arus dan sudah pasti mengakibatkan banjir,” imbunya.

Lurah Kuta, H. Pala mengakui bahwa di Desa Kuta tidak memiliki TPS. Akibatnya warga kebingungan membuang sampah rumah tangganya.”Memang benar masalah sampah di desa kuta ini belum bisa tertangani sampai saat ini. Tumpukan sampah ini memang sudah lama, sebetulnya warga banyak yang tidak setuju. Tapi karena tidak punya TPS, akhirnya warga pada buang sampah di bantaran kali,” ungkap Kades Kuta H. Pala.

Ia mengatakan, pihaknya pernah membuat bak sampah hasil swadaya masyarakat dan Pemerintah Desa (Pemdes) di pinggir jalan di Desa Kuta. Namun, keberadaan bak sampah tersebut menjadi sasaran warga diluar Desa Kuta yang membuang sampah rumah tangga tersebut. Akibatnya bak sampah tersebut menjadi cepat penuh dan berserakan di jalan.

Kades Desa Kuta, H. Pala

“Karena lokasi bak sampahnya di pinggir jalan. Jadi yang buang sampah bukan hanya warga desa kuta saja, dari desa lain ikut juga membuang sampah di bak sampah kami, mereka buang sampah dengan sengaja sambil lewat,” tutur Kades Kuta.

Menurutnya, pihak pemdes sudah mengajukan pembangunan TPS di wilayahnya kepada pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Namun, hingga saat ini permintaan tersebut belum juga terealisasi.

“Sampai saat ini desa kuta juga belum mendapatkan bantuan mesin penghancur sampah dan mempunyai Bank sampah seperti di beberapa desa yang ada di kabupaten bogor dari pemda kabupaten,” jelas H. Pala.

Kades Kuta berharap Pemerintah kabupaten Bogor dapat memberikan solusi atas keluhan warganya yang selama ini tidak mempunyai TPS, sehingga permasalah menumpuknya sampah dan penyebab terjadinya penyakit kulit tersebut bisa teratasi.

“Saya sangat berharap pemerintah kabupaten bisa memberikan solusi dengan menyediakan angkutan mobil sampah untuk desa kuta dan mesin penghancur sampah, karena dengan adanya mobil sampah dan mesin penghancur sampah, saya yakin sekali permasalahan banjir dan penyakit kulit di desa kuta bisa diatasi dengan segera dan juga membuka peluang lapangan pekerjaan baru bagi warga desa kuta,”harapnya. (ian Lukito)

banner 521x10

Komentar