Analisa Politik : Partai Gerindra Dalam Fase Para Bellum atau  Masa Persiapan “Perang” Menuju 2029

Berita, Daerah87 Dilihat

INILAHONLINE.COM, JAYAPURA – Partai Gerindra mendukung usulan pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD. Pasalnya, Gerindra Dalam Fase Para Bellum, Atau Masa Persiapan “Perang” Menuju 2029. Hal itu disampaikan Analisis Pakar Politik NSL, Nasaruddin Sili Luli kepada inilahonline.com, Selasa (30/12/2025)

Menurutnya, Partai Gerindra menilai skema pemilihan tersebut dinilai lebih efisien dibanding pemilihan langsung. Gerindra ada dalam posisi mendukung upaya ataupun rencana untuk melaksanakan pemilukada ini oleh DPRD di tingkat bupati, wali kota ataupun di tingkat gubernur.

“Langkah Gerindra mendukung pilkada lewat DPR bisa saja mengindikasikan bahwa partai tengah menata ulang basis pertahanannya, baik di tingkat struktur maupun startegi narasi menuju 2029,” ujarnya

Menurut analis Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign  Nasarudin Sili Luli mengatakan, langkah Gerindra mendukung pilkada lewat DPR bisa saja mengindikasikan bahwa partai tengah menata ulang basis pertahanannya, baik di tingkat struktur maupun startegi narasi menuju 2029.

“Sekjen Parati Gerindra, Sugiono tampaknya sadar bahwa Gerindra  tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan soft diplomacy terhadap kekuasaan yang memang tidak sepenuhnya dikuasainya, walaupun Prabowo adalah presidennya,” paparnya. 

Untuk bertahan, partai harus memperkuat daya tawar baru: memperkuat jaringan daerah, mempertahankan loyalitas kader inti, dan membangun aliansi lintas kelompok yang lebih ideologis ketimbang pragmatis, langkah mendukung pilkada tidak langsung adalah cara Gerindra menggeser arena pertarungan menuju 2029.

“Namun tantangan Gerindra terbesarnya adalah membangun ulang relevansi di tengah bergesernya pusat gravtifikasi politik nasional. Bahwa publik memahami kemenagan Prabowo-Gibran adalah pengaruh coattail effect Jokowi,” tandas pria asal Folres yang kni menetap di Jayapura 

Lebih lanjut, Nasaruddin mengatakan, tampaknya gerinda melakukan kalkulasi ulang jika pada 2029 tidak lagi berpasangan dengan Gibran maka gerindrakini menghadapi ancaman ganda, yakni erosion from above (hilangnya akses ke patron kekuasaan) dan erosion from below (pergeseran pemilih ke partai yang lebih muda dan populer seperti PSI).

Selain itu, Nasaruddin juga menjelaskan, Gerindra tanpa figur penyeimbang prominen yang pada masanya menjadi sumber daya simbolik, Gerindra  harus mencari bentuk dan medan pertarungan baru yang bisa mengembalikan citra reformisnya dan mempertahankan kekuasaan untuk periode kedua,

“Bukan hanya sebagai partai netral pemerinta saat ini , tetapi sebagai moral counterweight di tengah dominasi partai-partai prostatus quo. Sesuatu yang kiranya cukup berat dilakukan,” tambahnya

Dalam logika realpolitik, Gerindra  mungkin tampak unggul karena memiliki akses ke jaringan kekuasaan dan dukungan simbolik Jokowi saat ini. Tetapi secara strategis, Gerindra  masih menghadapi risiko overdependence, yakni ketergantungan berlebihan pada figur tunggal Prabwo dan modal politik yang belum teruji mandiri di lapangan elektoral besar.

“Gerindra, dengan struktur yang lebih mapan dan pengalaman dalam permainan politik nasional, masih memiliki peluang untuk bertahan, asal mampu mentransformasi diri menjadi kekuatan yang menawarkan counter-narrative terhadap arus besar politik patronase,” jelasnya

Di ujung spektrum, apa yang kita saksikan bukan sekadar pertarungan dua partai, melainkan kontestasi dua model politik pasca-Jokowi dan Prabwo yang memimpin saat ini satu yang berusaha mempertahankan kontinuitas kekuasaan melalui strategi mengubah sistem pilkada , dan satu lagi yang mencoba merebut kembali legitimasi melalui resistance  yang tak bisa dihindari saat para elitenya mencoba mengubah medan pertarungan. 

“Gerindra kini berada di titik tak terelakkan menuju benturan politik terbuka, di mana pergeseran medan  pertarungan yang sebelumnya langsung kini berubah menjadi tidak langsung , simbol loyalitas, dan pertaruhan narasi menjadi amunisi utama menjadi tantangan Gerindra,” imbuh Nasaruddin 

Jika fase antebellum Gerindra  ditandai dengan manuver diam-diam dan pertemuan sarat interpretasi, maka para bellum Gerindra akan menentukan bentuk baru politik Indonesia 2029, antara oligarki yang beregenerasi atau partai-partai yang belajar bertahan hidup di luar orbit kekuasaan dengan mengubah sistem pilkda. 

Dalam konsep military build-up, ada dua kemungkinan: bertahan atau Merubah. Tampaknya Gerindra suda kalkulasi politik dengan mendukung wacana pilkada lewat DPRD . “Artinya Gerindra mengubah medan pertempuran dari terbuka menjadi lebih tertutup dengan kemenangan mayoritas walaupun tanpa Gibran.kini Gerindra  harus memilih, sebelum perang benar-benar dimulai,” pungkasnya. (PH).

banner 521x10

Komentar