Bahlil Akan Maju Sebagai Caleg DPR RI Pada Pemilu 2029 Mendatang, Merupakan Bentuk Lain Strategic Political Entrepreneurship

Tak Berkategori12 Dilihat
Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Champaign Nasarudin Sili Luli. (Foto : Dok Pribadi)

INILAHONLINE.COM, MAKASAR – Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar, Bahlil Lahadalia  kabarnya akan maju akan maju sebagai calon legislatif (Caleg) DPR RI pada Pemilu 2029 mendatang.

“Iya, sebagai ketum partai, saya berencana maju caleg,” kata Bahlil di Makassar, Minggu (15/2).

Sebelumnya, Sekjen Partai Golkar, Sarmuji merespons peluang partainya mulai menyiapkan nama untuk Pilpres 2029. Termasuk menyiapkan Bahlil jadi caleg.

Pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Champaign Nasarudin Sili Luli mengatakan, di permukaan Bahlil kerap menjadi sasaran kritik.

“Gaya bicaranya yang lugas dan kadang dianggap terlalu blak-blakan, sehingga menjadikannya bahan meme yang beredar luas di media sosial,” ungkap Nasarudin kepada inilahonline.com, Senin (23/2/2026)

Selain itu, berbagai perbincangan publik dengan sosok Bahlil ini termasuk dengan berbagai kebijakan yang diambil oleh kementeriannya beberapa waktu terakhir, misalnya terkait impor BBM dan lain-lain. 

Namun ada sesuatu yang sering luput dari perhatian publik: di balik setiap pernyataan yang tampak impulsif itu, ada kalkulasi yang jauh lebih dalam.

“Ambil contoh keputusannya untuk maju sebagai calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2029”. Secara sekilas, langkah ini terlihat mengejutkan dan bahkan bagi sebagian kalangan dianggap melemahkan posisinya. Mengapa seorang ketua umum partai besar harus repot-repot bertarung di level pileg?” ujar Nasarudin

Namun jika dibaca lebih teliti, keputusan itu justru menunjukkan kecerdasan taktis yang tinggi. Selama ini, jabatan Ketua Umum Golkar selalu datang bersama satu beban narasi yang berat.

“Ekspektasi bahwa sang ketum akan menjadi pemain utama dalam kontestasi presiden atau wakil presiden. Sebut saja nama-nama terdahulu: Jusuf Kalla hingga Aburizal Bakrie,” kata Nasarudin

Tekanan itu tidak hanya datang dari eksternal, tetapi juga dari internal parta dan dari faksi-faksi yang memiliki kepentingan berbeda soal arah koalisi.

Dengan secara terbuka menyatakan diri sebagai caleg, Bahlil secara efektif melepas beban narasi itu. Ia mengirim sinyal yang jelas: saya tidak sedang bermain di papan catur pencapresan. 

Nasarudin menambahkan, langkah Bahlil ini sekaligus menjaga jarak yang sehat, namun tetap hangat dalam relasi dengan Presiden Prabowo Subianto. “Tidak ada ambiguitas, tidak ada persaingan tersirat. Yang ada adalah kejelasan posisi Bahlil adalah eksekutor kebijakan, bukan pesaing kekuasaan,” imbuhnya.

Menurutnya, dalam konteks teori politik, ini selaras dengan apa yang disebut sebagai political entrepreneurshi dan kemampuan aktor politik untuk memanfaatkan celah institusional demi mengakumulasi pengaruh tanpa harus selalu tampil di garis terdepan konflik

“Bahlil tidak menghindari kekuasaan; ia menavigasinya dengan cara yang membuat semua pihak merasa tidak terancam, dan sementara pengaruhnya sendiri terus mengakar,” katanya.

Lebih jauh Nasarudin menjelaskan, jika kita mau jujur, Bahlil Lahadalia mewakili sesuatu yang belum benar-benar ada namanya dalam perbincangan politik Indonesia dan setidaknya belum sampai hari ini. Ia bukan politisi tulen yang menghabiskan seluruh hidupnya di partai.

“Balil juga bukan teknokrat murni yang hanya nyaman di balik data dan kebijakan. Ia adalah sesuatu di antara keduanya: seorang pengusaha yang berpikir seperti negosiator, namun bergerak seperti politisi di lapangan,” pungkasnya. (Red)

banner 521x10

Komentar