oleh

Debu Vulkanik Cemari Lingkungan, Masyarakat butuh Banyak Air Bersih dan Masker

INILAHONLINE.COM, MEDAN-SUMUT

Hembusan material debu vulkanik dari gunung Sinabung masih saja terjadi. “Pagi ini Kami masih melihat debu vulkanik menyembur dari gunung Sinabung,” kata Budi Irawan, Minggu (16/08/2020), Pukul 09.05 WIB ketika sedang bergerak menuju Gunung Sibayak untuk pendakian.

Budi dan kawannya Rahman Wijaya tergabung dalam relawan Forum Ummat Islam (FUI) Kabupaten Asahan. Sesampainya di Tanah Karo, mereka berdua bergabung dengan relawan lainnya dari Mapala Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dan Relawan Walantara.

“Kami sudah tiga malam di sini. Pantauan Kami mayoritas lahan pertanian dan perkebunan masyarakat rusak disebabkan terkena material debu vulkanik yang masih panas. Saat ini masyarakat sangat membutuhkan air bersih dan masker. Sebab sumber-sumber air mereka dan lingkungan mereka tercemar debu vulkanik,” kata Budi, bersama Ismed M Nur, Joko Setiono, Enmo Suranta Tarigan, dan Tri Wira Gunawan dari Mapala UISU.

Data yang mereka dapatkan dari Posko Posko resmi pemerintahan dan TNI, wilayah terpapar abu vulkanik akibat erupsi gunung Sinabung adalah kecamatan Namanteran ± 3.200 KK dengan perincian di desa Sukandebi 400 KK, desa Kota Tonggal 200 KK, desa Sukatepu 450 KK, desa Naman 1.000 KK, desa Ndeskati 350 KK, desa Gung Pinto 400 KK, dan desa Kutambelin 400 KK.

Lalu kecamatan Merdeka ± 3.600 KK dengan perincian, desa Deram 350 KK, desa Ujung Teran 300 KK, desa Sada Perarih 300 KK, desa Cinta Rayat 300 KK, desa Merdeka 750 KK, desa Gongsol 600 KK, desa Jaranguda 550 KK, dan desa Semangat Gunung 450 KK.

Kecamatan Berastagi ± 6.275 KK, dengan perincian kelurahan Gundaling I sebanyak lebih kurang 1.780 KK, kelurahan Gundaling II sebayak 1.200 KK, keluarahan TL.Mulgab I 270 KK, kelurahan TL.Mulgab II 650 KK, desa Lau Gumba 450 KK, desa Sempajaya 1.300 KK, dan desa Doulu 625 KK. Selanjutnya kecamatan Dolat Rakyat ± 650 KK, yakni di desa Dolat Rakyat.

Jika ditotalkan ada empat kecamatan yang terpapar debu vulkanik, kecamatan Namanteran, kecamatan Merdeka, kecamatan Berastagi dan kecamatan Dolat Rakyat dengan jumlah KK ± 13.725 KK.

Sementara itu Magma Indonesia dalam laman onlinenya, masih melansir di pagi hari ini (16 Agustus 2020), kondisi gunung api Sinabung yang terletak di kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara dengan posisi geografis di Latitude 3.17°LU, Longitude 98.392°BT dan memiliki ketinggian 2460 mdpl, berstatus level III, atau Siaga.

Dalam pengamatan visual, gunung api tertutup kabut 0-I hingga 0-II. Sementara asap kawah tidak teramati, cuaca berawan, angin lemah ke arah selatan, barat daya dan barat. Sedangkan pengamatan kegempaan, 3 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-5 mm, dan lama gempa 15-65 detik. Lalu 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 0.5-2 mm, dominan 0.5 mm.

Dengan kondisi tersebut, masih direkomendasikan, agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan supaya tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 kilometer dari puncak gunung Sinabung, serta radius sektoral 5 kilometer untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Lalu mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh. Juga direkomendasikan agar masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu dari gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Ir Metehsa Purba kepada wartawan pernah mengungkapkan terkait erupsi gunung Sinabung di bulan ini, bahwa hasil pendataan petugas pertanian di lapangan, ada 23 komoditi pertanian yang mengalami kerusakan level ringan, sedang dan berat. Dinas Pertanian Karo merekomendasikan penggunaan blower untuk menyingkirkan debu yang melekat pada daun-daun dan batang tanaman. (Aziz Panjaitan)

Komentar