oleh

Direskrimnum Polda Jateng Tetapkan Perekrut ABK Kapal Ikan China Jadi Tersangka

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Kepolisian Daerah Jateng akhirnya menetapkan dua tersangka yang berperan sebagai agen pemberangkatann dalam kasus dugaan eksploitasi anak buah kapal (ABK) Luqing Yuan Yu 623 asal Indonesia yang mengakibatkan kematian dan jenazahnya dilarung ditengah laut.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutisna mengatakan kedua tersangka berperan sebagai direktur dan komisaris di perusahaan PT Mandiri Tunggal Bahari (MTB). Dua pelaku Komisaris dan Direktur PT Mandiri Tunggal Bahari, SY dan MH, diketahui mensponsori PMI ABK untuk bekerja di kapal Lu Qing Yuan Yu 623 dan kapal Fu Yuan Yu 1218.

“Kami tetapkan MH dan SY sebagai tersangka. Keduanya adalah warga Tegal. Korban meninggal karena jatuh dari palka pada 23 November 2019,” ujarnya saat konferensi pers di Direskrimum Polda Jateng, Rabu.

Menurutnya, penangkapan SY dan MH merupakan buntut viralnya rekaman video pelarungan jenazah ABK asal Indonesia yang bekerja di Kapal Fu Yuan Yu 1218, beberapa waktu lalu. Menurut Iskandar, jenazah ABK asal Indonesia yang dilarung itu bernama Taufik Ubaidillah.
Dari hasil penyelidikan sementara ABK yang meninggal bernama Taufik Ubaidillah akibat terjatuh dari lubang palka kapal. Selain Taufik, dua orang lainnya belum ditemukan yakni Aditya Sebastian dan Sugiyana Ramadhan.

“Taufik meninggal dunia karena ada insiden kecelakaan di dalam kapal. Dia terjatuh dari palka kapal dan tubuhnya membentur ke bawah kapal. Tapi sampai sekarang dua yang belum ditemukan,” tuturnya.

Iskandar menambahkan PT Mandiri Tunggal Bahari tidak memiliki izin SIP2MI yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penempatan Pekerja Migran Indonesia.

“Modusnya perusahan tersebut merekrut dan menempatkan Anak di kapal ikan berbendera Cina itu. Padahal perusahaan tersebut tidak memiliki izin,” ujarnya.

Pekerja migran Indonesia ini, lanjutnya, bekerja tidak sesuai dengan perjanjian kerja. Dari hasil perekrutan dan penempatan ABK, PT MTB menerima fee dari agen senilai US$25 per bulan. Untuk setiap ABK sendiri dijanjikan gaji per bulan Rp35 juta.

“Penyidik menyita berbagai dokumen dari Direktorat Jenderal Hubungan Laut, berkas pendaftaran, kontrak kerja, dan slip gaji sebagai barang bukti perkara,” tuturnya.

SY dan MH ditangkap Polda Jateng pada Minggu, 17 Mei 2020. Menurut Iskandar, melalui PT Mandiri Tunggal Bahari, S dan MH sudah memasok 231 PMI ke kapal-kapal Tiongkok sejak 2018.

(Suparman)

Komentar