Fenomena Baru Remaja Tenggak Air Rebusan Pembalut untuk Penggati Narkoba

08/11/2018 20:52:06 Kategori: , ,

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Tren baru para remaja mabuk dan nge-fly atau high dengan menenggak minuman air rebusan pembalut dan popok, temuan ini membuat heboh di Jawa Tengah. Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengindikasi adanya perilaku menyimpang tersebut yang ditunjukkan sejumlah remaja di Jateng untuk sekadar mencari sensasi mabuk. Mereka tak lagi mengonsumsi obat-obatan terlarang dan narkotika yang harganya mahal. Para remaja itu mulai merebus pembalut untuk dikonsumsi airnya agar mendapat sensasi mabuk.

“Tren itu sudah mulai terjadi di Jateng, terutama di daerah pinggiran. Bahkan di Semarang Timur juga sudah ada yang melakukan. Rata-rata yang mengonsumsi remaja usia 13-16 tahun,” kata Kepala Bidang Pemberantasan (Kabidbrantas) BNN Provinsi Jateng, AKBP Suprinarto, kepada wartawan di kantornya, Jl. Madukoro, Kota Semarang, Jumat (2/11/2018) lalu.

Suprinarto mengatakan rata-rata pengguna air rebusan pembalut wanita itu merupakan remaja yang tak memiliki uang untuk membeli narkoba sejenis sabu-sabu. Harga sabu-sabu per gram saat ini memang relatif mahal, mencapai Rp1,5 juta.

“Sebagai alternatif, akhirnya mereka mengonsumsi air rebusan pembalut. Airnya di minum. Katanya bisa membuat fly,” ungkap Suprinarto.

Suprinarto menambahkan para remaja yang menggunakan air pembalut wanita untuk mabuk itu mulanya sangat jorok. Mereka bahkan rela mengais di tempat sampah agar mendapat pembalut bekas untuk direbus.
Namun, lambat laun tren tersebut berubah. Kebanyakan remaja mulai jijik menggunakan pembalut bekas.

“Sekarang lebih higienis cari pembalut baru dan katanya, rasanya seperti menggunakan sabu-sabu. Pembalut kan ada gel yang fungsinya menyerap air itu yang bikin fly,” ujar Suprinarto.

Sementara Indra Dwi Purnomo, MPsi, Psikolog Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata yang turut menangani kasus ini menjelaskan bahwa rata-rata anak yang kedapatan mengonsumsi air rebusan pembalut ini baru berusia belasan tahun.

Mereka meminum air rebusan pembalut tersebut secara bersama-sama, tidak sendirian. “Kalau dari sudut pandang kejiwaaan, mereka ini kan dalam usia perkembangan remaja. Mereka masih coba-coba,” kata Indra seperti dikutip dari berbagai media.

“Sugesti mereka, mereka hanya ingin merasakan efek enak seperti menghisap sabu. Ditambah lagi anak-anak seperti itu kan sangu-nya (uang jajan) kan kurang. Enggak tahu juga anak-anak itu bisa dapat ide dari mana,” ujarnya.

Menurut penjelasan Indra, remaja ini mencari gel yang ada di dalam pembalut. Hingga saat ini, pendampingan dan rehabilitasi remaja tersebut masih terus dilakukan.

(Suparman)