oleh

Forum Guru Khawatirkan Potensi Penularan COVID-19 di Sekolah

INILAHONLINE.COM, BANDUNG

Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) meminta Gubernur/Walikota /Bupati se-Jabar memperpanjang masa Belajar Di Rumah (BDR) yang bakal habis 29 Mei 2020.Alasannya sekolah masih belum siap melakukan New Normal, jika sejumlah persyaratan belum bisa dipenuhi.

Ketua FAGI Iwan Hermawan mengatakan ada beberapa syarat yang harus disiapkan oleh pihak sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di masa Pandemi COVID-19 atau New Normal.

“Ada setidaknya delapan kekhawatiran kami, yang harus menjadi perhatian semua pihak demi keselamatan siswa, guru dan tenaga administrasi di setiap sekolah,” jelasnya dalam siaran persnya, Rabu (27/5).

Misalnya, sebelum masuk ruang sekolah, setiap sisiwa ,guru , tenaga administrasi dan juga tamu wajib di ukur suhu badan di pintu gerbang masuk sekolah. Wajib cuci tangan menggunakan sabun sebelum masuk kelas/ruangkan kerja.

Jaga jarak saat di kelas dan idealnya per kelas hanya diisi 20 orang atau perlu pengaturan shif kelas. Atau meniadakan kegiatan di luar kelas seperti di kantin , shalat berjamaah , dan upacara/apel siswa.

Minimal setiap dua hari sekali kelas dan ruangan kerja di semprot cairan disinfektan dan tiap meja guru menyediakan. Hand Sanitizer.

Di UKS wajib di sediakan APD (baju hasmat,kaos tangan,kacamata google/Faceshield). Dibentuk Tim Gugus Tugas Covid 19 tingkat Sekolah dan standby piket untuk menerima/menginformasikan secepatnya jika ditemukan siswa atau guru dengan gejala COVID-19.

” Kami berharap ada rapid test untuk semua warga sekolah sebelum masuk sekolah. Dan yang diketahui reaktif covid 19 /ODP atau punya penyakit berat tidak boleh masuk belajar atau tetap bekerja dirumah,” tuturnya.

Iwan menegaskan, pada umumnya sekolah belum siap melakukan kondisi tersebut . Dalam Kalender Akademik rencananya antara tgl 3-14 Juni 2020 akan di gelar Penilaian Akhir Tahun (PAT) untuk menentukan kenaikan kelas , baiknya dilaksanakan secara daring saja atau melalui penugasan.

” FAGI khawatir sekolah yang jumlahnya lebih dari 1000 siswa akan jadi klaster-klaster baru pandemi COVID-19 di Jawa Barat ,” tutupnya.

(Hilda)

Komentar