oleh

GERAKAN PEMERIKSAAN TYPHOID PADA ANAK SEKOLAH, Inovasi Untuk Cegah Tyhhoid pada Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor

Kasus mewabahnya penyakit tifoid dan diare adalah contoh kurang bersihnya makanan jajanan anak sekolah, yang diakibatkan oleh makanan tercemar bakteri. Salmonella sp dan Escherichia coli adalah salah satu contoh bakteri yang dapat mencemari makanan jajanan. Infeksi dari kedua bakteri ini dapat menyebabkan diare akut yang dapat membahayakan jiwa anak (Hidayati, 2011).

Makanan jajanan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat karena budaya jajan sudah menjadi bagian dari keseharian hampir di semua kelompok usia dan kelas sosial. Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel.

Berdasarkan pemeriksaan sampel makanan jajanan di sekolah wilayah Puskesmas Tanah Sareal tahun 2015 dan 2016 didapatkan bahwa dari 42 sampel terdapat 60% makanan tidak tercemar mikroba dan 40% makanan tercemar mikroba. Mikroba yang mencemari makanan tersebut berasal dari jenis Salmonella sp. dan E. coli (Dinkes, 2017). Salmonella sp. merupakan kuman patogen penyebab demam tifoid, yaitu suatu penyakit infeksi sistemik dengan gambaran demam yang berlangsung lama, adanya bakteriemia disertai inflamasi yang dapat merusak usus dan organ-organ hati. Demam tifoid merupakan penyakit menular yang tersebar di seluruh dunia, dan sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan terbesar di negara sedang berkembang dan tropis seperti Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin. Insiden penyakit ini masih sangat tinggi dan diperkirakan sejumlah 21 juta kasus demam tifoid pertahun dengan lebih dari 700 kasus berakhir dengan kematian. Pengetahuan gizi anak sangat berpengaruh terhadap pemilihan makanan jajanan.

Pemeriksaan makanan jajanan di sekolah perlu dilakukan untuk mengetahui cemaran Salmonella sp pada makanan jajanan di beberapa kantin sekolah, karena banyak kasus demam tifoid pada anak usia sekolah di Puskesmas Tanah Sareal. Berdasarkan laporan hasil pengujian Salmonella sp pada makanan jajanan yang dilakukan oleh Bagian Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2017 di dapatkan makanan jajanan sekolah yang mengandung Salmonella sp.

Banyaknya kasus demam tifoid pada usia anak sekolah di Puskesmas Tanah Sareal berawal dari makanan jajanan yang tercemar bakteri Salmonella sp. Cemaran bakteri pada makanan jajanan perlu dianalisis untuk mengetahui makanan jajanan apa saja yang tercemar bakteri Salmonella sp. dan dilanjutkan dengan pemeriksaan tingkat infeksi bakteri Salmonella sp. terhadap responden, serta untuk mengetahui pengetahuan responden terhadap pemilihan makanan jajanan tersebut.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, Puskesmas Tanah Sareal melalui tenaga Analis Kesehatan melakukan pemeriksaan Widal dan pengambilan sampel makanan jajanan kantin dari empat sekolah (SMPN 5, SMPN 8, SMAN 6 dan SMK N 1) dan dilanjutkan dengan uji Salmonella sp. terhadap makanan jajanan tersebut. Pemeriksaan Widal dilakukan terhadap 30 responden dari tiap sekolah dengan komposisi masing-masingnya 10 orang responden dari kelas 1 sampai kelas 3. Kuesioner diberikan kepada seluruh responden yang diambil sampel darahnya untuk mengetahui pengetahuan responden dalam pemilihan makanan jajanan.

Selanjutnya dari hasil pemeriksaan, cemaran Salmonella sp. terdapat pada makanan jajanan diporsikan yaitu mie bakso, mie ayam, soto mie dan gado-gado yang dikonsumsi siswa di sekolah tersebut. Kontaminasi bakteri Salmonella sp. pada panganan yang diporsikan dapat disebabkan oleh makanan yang tidak dipanaskan diatas suhu 60oC, karena Salmonella sp. akan mati pada suhu 60oC (Koneman et al., 1992). Kontaminasi bakteri Salmonella sp. pada panganan yang diporsikan dapat disebabkan oleh penjamah makanan jajanan yang tidak menjaga kebersihan pada saat persiapan, pengolahan dan penyajian makanan jajanan, serta lingkungan di sekitar tempat berjualan yang tidak bersih. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mega et al (2014) bahwa keberadaan Salmonella sp. pada makanan jajanan berasal dari lingkungan sekitar makanan disajikan dan kebersihan pengolahannya.

Lebih lanjut pada tingkat infeksi Salmonella sp. berdasarkan pemeriksan Widal didapatkan hasil bahwa semua siswa yang menjadi responden pernah terpapar bakteri Salmonella sp. Sedangkan untuk tingkat pengetahuan didapatkan secara umum semua responden memiliki pengetahuan pemilihan makanan jajanan yang baik terutama pada responden SMP pada umumnya masih patuh dengan aturan dalam memilih makanan yang didapat dari orangtuanya ataupun aturan sekolah, sedangkan pada responden SMA lebih bebas dalam perilaku pemilihan makanan karena usianya lebih dewasa, uang jajan dari orang tua lebih banyak dan sudah mulai mengabaikan peraturan dari orang tua atau pun sekolah. Umur akan mempengaruhi pengalaman seseorang dalam pemilihan makanan, semakin tinggi umur maka diharapkan mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi (Wawan, 2011).

Paparan tersebut di atas memberikan informasi pada kita semua, perlunya kehati-hatian dalam memilih makanan jajanan termasuk kesehatan lingkungan di mana kita memilih atau membeli jajanan tersebut. Selain itu kita perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan juga pemeriksaan terhadap makanan yang biasa kita konsumsi.

Sehat adalah pilihan….sehat adalah investasi…

(Advertorial)

Komentar