oleh

Hadapi Industri 4.0 Kreativitas Jangan Tumpul

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Fokus berjuang sampai tetes darah penghabisan mewujudkan cita-citanya menjadi Presiden RI dari UI, Manik Margana Mahendra memberikan kontribusi berharga bagi anggota dan pengurus OSIS se-Bogor Raya di era revolusi industri 4.0. Ketua BEM UI yang kini menekuni studi di Fakultas Kesehatan Masyarakat ini berharap mereka fokus pada cita-cita dari nurani dan berpihak pada kebenaran.

“Nggak usah takut, nggak usah malu menyuarakan kebenaran. Hitam katakan hitam, putih katakan putih. Satukan tekad dengan apa yang dibutuhkan sesama, gali potensi diri, dan siap hadapi revolusi 4.0, seperti yang tergambar pada Society 5.0 di Jepang. Jika kini di Indonesia ada 33 juta pemuda, maka dunia yang mana lagi yang dapat kita guncang,” ungkap Manik dalam dialog dengan 111 anggota dan pengurus OSIS dalam Simposium Pelajar II 2019 se-Bogor Raya di Gedung Aula YPHB Bogor, Minggu (5/5/2019).

Di hadapan peserta, dan Wakil Koordinator OSIS Nusantara, Omar Pamty, Pengurus Harian Forum Komunikasi OSIS Jawa Barat, Raju Kurniawan, Ketua Pelaksana, Yogi Wangsa, Kepala SMA Plus YPHB, Tri Suharnowo, dan Founder Istana Baca Anak Banten, Panji Azis Pratama, Manik alumnus SMAN 1 Bogor itu mengingatkan agar di era borderless para pelajar kreatif dan terus mengasah kreativitasnya, sehingga tak ditumpulkan oleh aturan dan keadaan di sekitar kita.

“Kita harus aktif membranding diri. Selain belajar, pelajar harus aktif berkegiatan dan melakukan aksi menyuarakan kebenaran. Tulis cita-citamu, wujudkan tanggungjawabmu, dan lakukan apa yang kau inginkan, tempel di dinding kamar, checklist yang sudah dilakukan hingga mendekati cita-citamu,” tutur Manik yang menjawab spontan cita-citanya jadi Presiden RI dari UI setiap ditanya lawan bicaranya, termasuk Wakil Walikota Bogor.

Sementara itu, Panji Aziz Pratama menyatakan, gambaran Society 5.0 yang dipublikasikan oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, ada seorang pelajar Jepang ketika bangun pagi menerima paket dari drone, hadap kulkas yang bisa ngomong, diingatkan oleh jam untuk sekolah, cek kesehatan gigi rutin, naik bus tanpa supir, bayar belanjaan dengan handphone, sehingga banyak peran manusia yang tergantikan oleh mesin yang dikenal dengan kecerdasan buatan (artificial intelligent).

“Tapi guru, petani tak bisa tergantikan, cuma peran mereka dilengkapi oleh mesin, sehingga bekerjanya lebih efektif,” ujar Founder sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi OSIS Banten itu, kemudian menambahkan, “Persiapan yang mesti dibekali oleh Society 5.0 hadapi revolusi 4.0 adalah harus kreatif, punya problem solving yang kompleks, mampu memanage orang, dan berkoordinasi dengan yang lain, serta memiliki kecerdasan mengelola emosi, kemampuan kognitif, melayani, dan cepat mengambil keputusan.”

Menurut alumnus Swiss itu, kreativitas bisa dilatih, bukan genetik, dan sudah dimiliki manusia sejak dilahirkan. Makin dewasa, kreativitas itu makin tumpul, ditumpulkan oleh keadaan. “Kita harus bergerak out of the box, jangan takut jatuh, jangan takut gagal. Bila jatuh atau gagal, bangkit kembali sampai kreativitas itu mampu menopang kita untuk bertahan hidup,” tandasnya.

(Cheyne Amandha Miranda)

Komentar