IPW : Majelis Hakim PN Jakarta Utara Diminta Promoter Dalam Sidang Kasus Penyiraman Novel Bawesdan

Berita, Hukkrim, Nasional348 Dilihat

INILAHONLINE.COM, JAKARTA

Majelis Hakim Pengadilan negeri (PN) Jakarta Utara harus bekerja profesional, modern dan terpercaya (Promoter) untuk membuktikan, apakah wajah penyigik KPK Novel Baswedan disiram air keras atau disiram air aki yang sudah dicampur air biasa. Demikian dikatakan, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane melaui keterangan tertulisnya kepada inilahonline.com, Selasa (16/6/2020)

“Sebab, jika Novel Bawesdan benar disiram air keras, pastilah wajah Novel sudah melepuh dan hancur, seperti korban penyiraman air keras lainnya. Sementara wajah Novel saat ini masih mulus dan tetap tampan,” ujar Neta Pane.

Menurutnya, IPW melihat saat ini ada upaya penyesatan hukum yang dilakukan sejumlah pihak dalam kasus Novel. Kasus ini didramatisasi dan dipolitisasi sedemikian rupa dan seolah olah menjadi kasus yang luar biasa dan heboh. Padahal tujuannya hanya untuk menutupi kasus Novel yang sudah menjadi tersangka pembunuhan di Bengkulu.

“Tragisnya, orang orang yang melakukan penyesatan hukum itu adalah para pakar hukum, aktivis HAM dan politisi yang hendak memojokkan atau menjatuhkan citra Presiden Jokowi. Karena kekuasaan pengadilan sebagai lembaga Yudikatif, tidak bisa diintervensi oleh lembaga lainnya, termasuk pemerintah (eksekutif-red),” tandasnya.

Pane juga mengatakan, oleh sebab itu IPW berharap jaksa dan majelis hakim tidak terpengaruh dengan provokasi dan opini dari orang orang yang tidak bertanggungjawab ini, yang seolah olah hendak mendukung Novel padahal tujuannya hendak menjatuhkan Presiden Jokowi. Sejauh ini, IPW menilai, sikap jaksa dan majelis hakim dalam memproses kasus Novel sudah on the track, sehingga tidak perlu takut terhadap manuver para pendukung Novel and the gang.

“Apalagi mereka melakukan manuver yang tidak masuk akal, yakni menarik narik Jokowi ke dalam kasus ini. Seharusnya para pakar hukum dan aktivis HAM itu justru harus mendorong Jokowi agar memerintahkan Jaksa Agung segera melimpahkan BAP kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Novel ke PN Bengkulu, agar kasusnya tuntas dan Novel tidak terus menerus tersandera,” papar Nerta Pane.

Malah kata Neta Pane, terlepas dari hal itu IPW berharap majelis hakim bekerja promoter untuk membuktikan Novel disiram air keras atau air aki yang sudah dicampur air. Sebab penasihat hukum Rahmat Kadir Mahulette (KM), Widodo mengatakan, pada 11 April 2017 setelah mengalami serangan, Novel dibawa ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Di sana, oleh dokter IGD, mata Novel dicuci dengan air sehingga PH-nya menjadi 7, yang artinya sudah netral.

“Asam sulfat yang sudah diencerkan dengan air juga tidak menimbulkan daya destruktif pada wajah Novel tapi memang bersifat korosif, dan untuk menetralkannya dapat menggunakan air,” jelas Neta mengutip dari keterangan kuasa hukum tersangka KM,” imbuhnya .

Menurut Ketua Presidium IPW tersebut, bahwa dalam visum et repertum nomor 03/VER/RSMKKG/IV/2017 yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Mitra Keluarga pada 24 April 2017 tidak ada menunjukkan kerusakan mata Novel. Visum et repertum dibuat 13 hari setelah terjadi dan tidak berisi derajat kerusakan tapi hanya potensi, sehingga tidak bisa menunjukkan kerusakan itu sendiri, namun hanya potensi dan berdasarkan yurisprudensi, visum et repertum tidak mengikat majelis hakim jika bertentangan dengan keyakinannya, sehingga unsur penganiayaan berat dalam kasus Novel tidak terbukti.

“Sepertinya, keyakinan inilah yang membuat jaksa menuntut satu tahun penjara pada pelaku karena dinilai melakukan penganiayaan ringan. Sebab pada dasarnya, kasus penyiraman Novel berbeda dengan kasus penyiraman air keras yang ada selama ini dimana wajah korbannya rusak parah, sementara wajah Novel tetap mulus dan tampan,” paparnya.

Untuk itu, IPW berharap agar jaksa dan majelis hakim menuntaskan kasus Novel ini secara promoter dan jangan mau diintervensi oleh siapapun dan manapun. “Hukum tetap harus berdiri tegak, sehingga nantinya Novel bisa menyelesaikan kasus pembunuhan yang dituduhkan padanya di PN Bengkulu,” kata Neta S Pane yang juga mantan jurnalis tersebut.

IPW Berikan Apresiasi Jaksa

Sebelumnya, IPW memberi apresiasi pada aparatur kejaksaan yang menuntut satu tahun penjara kepada terdakwa pelaku penyiraman kepada Novel Basweda, Jumat (12/6/2020)

“Tuntutan Jaksa tersebut adalah bagian dari sikap profesional modern terpercaya (promoter-red) sebagai aparat penegak hukum yang taat hukum dan memahami fakta fakta hukum yang ada.,” ujar Neta Pane.

Menurutnya, IPW menilai kasus penyiraman Novel Bawesdan adalah kasus penganiayaan tergolong ringan yang hendak dipolitisasi sebagai kasus besar dan luar biasa. Untungnya, aparatur kejaksaan tidak terprovokasi oleh ulah orang orang yangg tidak bertanggung jawab yang hendak mempolitisasi kasus tersebut.

“IPW memberi apresiasi pada sikap jaksa yangg promoter tersebut. IPW mengingatkan bahwa kasus penyiraman Novel Bawesdan adalah kasus ringan, yakni kasus penganiayaan ringan,” katanya.

Neta Pane memaparkan, kasus yang dialami oleh Novel tidak sebanding dengan kasus yang melilit Novel saat yang bersangkutan bertugas di Polres Bengkulu, dimana Novel menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.

“Anda bisa bayangkan, dimana hati nurani anda karena anda hanya ribut dalam kasus penganiayaan ringan, sementara anda tak peduli dengan kasus pembunuhan yang diduga kuat melibatkan Novel, yang hingga kini keluarganya korban masih menuntut keadilan,” tuturnya.

Menurut Neta Pane, dalam kasus penganiayaan terhadap terdakwa pelaku penyiram Novel0 yang dituntut satu tahun penjara oleh jaksa sudah tergolong berat. Jika novel menyebut persidangan tersebut hanya formalitas, berarti sebagai aparat penegak hukum Novel Bawesdan sudah dianggap telah melakukan penghinaan terhadap pengadilan.

“Novel egois dan maunya menang sendiri. Sebagai aparatur penegak hukum tentunya sangat tidak pantas jika dia menghina pengadilan, karena semua kasus korupsi yang ditanganinya di KPK semuanya juga bermuara di pengadilan,” ujar Neta Pane

Pane menuturkan, tapi sudahlah, biarkan saja Novel ngoceh sesukanya. Bagi IPW terdakwa penyiram Novel lebih kesatria mengakui perbuatannya ketimbang Novel yg selalu berdalih untuk menghindari pengadilan kss pembunuhan yg dituduhkan padanya di Bengkulu. Seharusnya novel berjiwa besar menyelesaikan kasusnya di pengadilan dan jgn bersikap kerdil dgn menghina pengadilan bahwa persidangan kss penyiraman padanya hanya formalitas.

“Novel telah membuat tragedi hukum di negeri ini berkelanjutan hingga curat marut dimana seorang Tersangka Pembunuhan bisa memeriksa Tersangka Korupsi. Ini sebuah tragedi dan melihat tragedi hukum ini dimana KPK membiarkan Tersangka Pembunuhan memeriksa Tersangka Korupsi, sebaiknya KPK dibubarkan saja. Sebab upaya penegakan hukum yang dilakukannya makin tidak jelas,” pungkasnya.
(Piya Hadi)

banner 521x10

Komentar