oleh

Jago Wiring Kuning

INILAHONLINE.COM – “Kalau aku pilih Sudirman! Dia orangnya kalem, bijak, dan cerdas.”, jelas Fulan. Fulan dalam dialog imaginer ini mendukung Sudirman Said. “Sudirman baru bicara, sebaliknya Ganjar telah memberi bukti berhasil memimpin Jawa Tengah.” terang Alam, pendukung kuat calon Gubernur Ganjar Pranowo. Dialog imaginer seperti itu hari – hari terakhir memenuhi ruang publik Jawa Tengah. Satu pihak mendukung Sudirman dan pihak yang berbeda mendukung Ganjar.

Resonansi diskusi menjelang pilkada terdengar kian keras, terlebih paska putaran kedua debat. Isu penurunan kemiskinan, penghapusan Kartu Tani, hingga kasus E KTP semakin tidak berhenti saat debat usai; namun intensif dipakai oleh pendukung masing – masing untuk merebut simpatik publik Jawa Tengah. Bagi penulis “sengketa pendapat” tersebut masih kondusif dalam kontek merebut pemilih. Baik Kubu Sudirman maupun Kubu Ganjar masih menampilkan perilaku elegan terbukti hingga sebulan menjelang hari H pemilihan, kondusifitas Jawa Tengah masih terpelihara.

Hartono Sri Danan Djoyo (Praktisi Pendidikan dan Konsultan Genetik)

Dalam kontek memilih, adakah rujukan bagi publik selain isu yang sengaja dihembuskan oleh partai dan team sukses masing – masing calon? Bila jawabannya ada (pasti), lantas pijakan apa yang sebaiknya dipakai selain dari faktor preferensi parpol yang tidak mungkin steril dari uang dan libido kekuasaan? Tulisan ini menyajikan pandangan Teori Genetik dalam perspektif kepemimpinan; khususnya dalam kontestasi memilih pemimpin yang sesuai.

Reaksi Kerja dan Ciri Pembelajaran

Hingga saat sekarang, jika faktor parpol tidak menarik – narik publik pada ranah uang dan kekuasaan, diskusi publik menyoal suksesi Jawa Tengah I sudah berada pada tema yang tepat. Sudirman selalu didekatkan pada tema kecerdasan dan kebersihan, sementara Ganjar dilekatkan pada tema keberanian. Kedua isu tersebut relatif cerdas karena isu tersebut akan mendekatkan publik pada pilihan benar akan talenta calon pemimpin.

Dalam perspektif genetik kecerdasan merupakan satu faktor talenta matrik kepribadian, sedangkan keberanian merupakan efek dari faktor yang lain yakni reaksi kerja. Kedua faktor merupakan unsur utama matrik kepribadian kepemimpinan.

Sebelum intervensi parpol, kritik terhadap masing – masing calon juga diprojeksikan dalam koridor kewajaran. Sudirman akan disindir dengan teori pepesan kosong; sedangkan Ganjar dilekatkan dengan kegagalan mengurai kemiskinan dan penerbitan Kartu Tani yang tidak produktif. Meski keras resonansinya, namun bisa dipastikan bahwa benturan destruktif yang mengarah pada perpecahan masa akar rumput akibat dari materi sindiran tersebut tidak akan terjadi.

Ilmu Genetik menjelaskan bahwa seorang terlahir membawa bakat (natural). Artinya seorang menjadi pemimpin ataukah menjadi faktor lain sepenuhnya karena talenta yang dibawanya. Faktor asuh (nurtural) juga penting, namun menjadi sub ordinat bagi faktor talenta. Oleh karenannya nurtural semestinya kontributif terhadap talenta yang dimiliki.

Dari natural matrik kepribadian individu dirangkum dalam dua modalitas faktor yakni cara pembelajaran dan reaksi kerja. Cara pembelajar membelah pribadi empunya talenta menjadi seorang spesialis (pakar), sementara reaksi kerja menarik garis demarkasi kepribadian menjadi orang yang lebih mengutamakan kecepatan dan ketepatan reaksi.

Disparitas dari dua faktor talenta yang masing – masing membelah individu menjadi dua pribadi utopis tidak perlu dikhawatirkan dalam konteks mana yang lebih baik. Masing – masing mereka merupakan design pribadi unggul di matrik kepribadian masing – masing. Pembelajar melebar dan dan reaksi cepat melahirkan seorang operasional, pembelajar melebar dan reaksi akurat menghasilkan seorang perencana, dan pembelajar mendalam reaksi tepat mengharuskan empunya kepribadian menjadi seorang peneliti. Di matrik terakhir hadir seorang pemimpin. Dia dilahirkan dari pribadi pembelajaran mendalam dan reaksi cepat. Artinya dia mengerti benar masalah yang dihadapinya dan memiliki keberanian untuk mengambil resiko.

Logika kritis publik terhadap ‘kecurigaan’ siapa Sudirman dan Ganjar perlu dikuatkan dan dibuat melek. Pertanyaan yang ada harus dijawab dengan pembuktian historikal empirik bahwa calon mereka adalah pemilik kepribadian mendalam dan cepat. Literasi publik akan talenta jago mereka perlu diungkap oleh masing – masing pendukung.

Sudirman yang cerdas apakah sanggup bila diajak bekerja cepat dan Ganjar yang sering berani berbeda dengan dewan dan bahkan melakukan tangkap tangan terhadap bawahannya yang melakukan pungli jembatan timbang apakah juga orang yang tahu persoalan Jawa Tengah. Masing – masing pendukung sebaiknya fokus pada pengungkapan rekam aktivitas genetik calon mereka.

Pembuktian empirik perlu diungkap masing – masing calon, namun fakta literatif paska debat juga menarik untuk disikapi publik pemilih. Dari dua putaran debat perlu analisa detil mengapa Sudirman yang dikesankan ‘kalem’ justru lebih agresif menyerang Ganjar, sedangkan Ganjar yang berani dan (kadang) ‘agak kasar’ justru sering berbicara fakta detil hal taktis manajerial Jawa Tengah.

Sudirman telah memberikan jawaban yang membuat publik terperangah. Keberanian dia di menit awal menjelaskan kegagalan petahana dalam mengurai kemiskinan serta rencananya untuk menghentikan penggunaan Kartu Tani seakan mengecilkan orang yang memandang miring dirinya bahwa memiliki sumbu keberanian yang pendek melawan Ganjar. Penjelasan itu pantas mendapat kajian linguistik akan kemungkinan keberanian tersembunyi yang hanya terbungkus oleh kecerdasan dan kesantunan.

Sebelum debat, Ganjar telah mencuri start dari Sudirman dalam merebut simpatik publik Jawa Tengah. Petahana yang pernah diingatkan untuk memperbaiki pola komunikasinya karena menyinggung dewan dengan istilah “kong kalikong” anggaran di tahun 2015, bahkan oleh Ketua DPRD yang berasal dari fraksi pendukungnya PDIP, justru terlihat santun memberi kado “Selamat Ulang Tahun” kepada Sudirman Said. Ujuran ekspresif demikian kiranya juga perlu dianalisa akan kemungkinan bahwa apa yang dimaknai ‘kasar dan urakan’ darinya hanya vibrasi dari penegasan bahw dia tahu masalah dan berani mengambil resiko.

Masa kampanye belum berakhir; masih ada debat dan kesempatan literatif lain yang bisa dimanfaatkan publik untuk menggeser preferensi dan menjatuhkan pilihan. Untuk itu masa tersebut harus dipahami oleh pendukung (partai atau simpatisan) masing – masing calon untuk menjelaskan semacam apakah “Jago” yang dimilikinya.

Apakah benar dia “Wiring Kuning” lengkap dengan pesona sulak bulunya yang indah, lengking suaranya yang bisa membelah subuh, serta tajam tajinya merobek lawan saat bertarung? Yang jelas Publik Jateng terlalu cerdas untuk melepaskan diri dari jerat parpol akan preferensi siapa pemimpin mereka dalam lima tahun ke depan. Nama besar partai – partai pendukung tak lebih hanya baleho besar yang mendompleng kharisma masing – masing calon. Itu artinya faktor Sudirman dan Ganjar secara genetis justru lebih pas dihitung sebagai faktor Jateng 1; dan jatuhnya putusan pada pilihan calon pasti karena talenta “wiring kuning” dari masing – masing diantara mereka.

Oleh : Hartono Sri Danan Djoyo (Praktisi Pendidikan dan Konsultan Genetik)

Komentar