INILAHONLINE.COM, JAKARTA
Dengan tertangkapnya empat tersangka kelompok Anarko oleh Jajaran Resrse dan Kriminal (Reskrim) Polda Metro Jaya, Jumat (10/4/2020), yang menyebutkan bahwa kelompok ini akan melakukan penjarahan besar pada 18 April 2020 mendatang, Indonesian Police Watch (IPW) meminta kepada masyarakat tidak resah dengan adanya isu yang ditebar oleh kelompok vandalisme ini.
“Kami berkeyakinan bahwa Polri bisa dan mampu menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat. Apalagi IPW melihat ada sesuatu yang sangat aneh dengan kemunculan kelompok yang disebut-sebut sebagai Anarko,” ujar Neta S Pane melalui Siran Pers-nya kepada inilahonline.com, Minggu (12/4/2020).
Neta yang juga mantan wartawan ini mengatakan, tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba tiba muncul kelompok yg disebut sebut-sebut sebagai keolompok Anarko. Kemunculan mereka dengan menyebar vandalisme dimana mana, yang seolah-olah memberitahukan bakal ada penjarahan besar besaran pada tgl 18 April nanti.
“Uniknya, vandalisme itu sudah ada dummy-nya (Dalam dunia percetakan atau publishing, dummy adalah sebuah versi kosong dari dokumen yang dicetak, diusulkan dan diproduksi untuk menunjukkan sample atau rancangan yang ingin dibuat –Red), sehingga kelompok Anarko tinggal disemprot dengan cat pilox ke berbagai tempat, terutama tembok,” jelas Neta.
BACA JUGA : Polda Metro Jaya Tangkap Empat Pelaku Vandalisme Provokasi
Dari sini terlihat bahwa kelompok ini secara tiba tiba muncul dan secara tiba tiba pula seolah olah terlihat terstruktur, sistematis, dan masif,’ jelas Neta.
Menurutnya, dari pola gerakannya, dari sini terlihat bahwa kelompok ini secara tiba tiba muncul dan secara tiba tiba pula seolah olah terlihat terstruktur, sistematis, dan masif IPW menilai kelompok Anarko ini seperti sedang bekerja untuk menyikapi isu-isu yg berkembang di masyarakat pasca pemerintah mengeluarkan kebijakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Artinya, kelompok Anarko ini sepertinya sedang mengukur kegelisahan publik dan sekaligus hedak mengukur kadar anarkisme di masyarakat pasca PSBB ditengan pandemi Covid-19. Sehingga bisa disimpulkan kerusuhan dan penjarahan yg mereka sebut sebut dlm pampletnya itu sendiri sebenarnya tidak ada dan tidak akan terjadi,’ tandas Neta.
Sebab kata Neta, situasi sosial ekonomi Indonesia hingga saat ini belum masuk pada situasi seperti Mei 1998 dimana kebutuhan pokok sangat sulit didapat dan di sisi lain ada “perseteruan api dalam sekam” di antara elit politik maupun elit pemerintahan, yg kemudian situasinya meledak akibat aksi spontan masyarakat dan mahasiswa yg jengkel pada rejim Soeharto.
“Meski demikian kami memberi apresiasi pada jajaran kepolisian yang sudah melakukan deteksi dini untuk mengantisipasi gerakan kelompok Anarko ini ditengah pendemi Covid-19. IPW juga berharap agar Polri bisa segera menangkap otak di balik kelompok Anarko ini, meski hal itu sepertinya mustahil bakal terungkap,” imbuhnya.
(Piya Hadi)





























































Komentar