‘Kill or To Be Kill’ Persaingan RM Padang Kian Keras

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Kill or To Be Kill”, membunuh atau dibunuh. Begitu gambaran persaingan keras t antara grup Rumah Makan (RM) Padang, di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dampaknya, beberapa RM Padang non-grup bangkrut, ujar Heri Susilo, 55 th, pengelola RM Padang “Jaya Minang” di Buyaran, Demak.

Persaingan antar RM Padang di Jateng/DIY, diawali saat muncul grup RM Padang “Murah Meriah” (MM), berpusat di Klaten tapi si boss tinggal di DIY, sejak tiga tahun lalu. Rumah makan ini milik wanita, bersuami pria asal Sulawesi dan Anggota DPRD DIY Sejak itu Grup RM Padang MM bertumbuhan dari Klaten merasuk Yogyakarta sekitarnya dan Solo sekitarnya. Merajai diantara rumah-rumah makan Padang lainnya.

Tak lama, muncul Grup RM Padang brand “Padang Murah” (PM). Munculnya grup baru ini, konon karena sakit hati. Salah satu Grup RM MM memecat karyawannya. Si karyawan lalu membentuk grup baru dengan merk RM PM. Dalam tempo sekejap, Grup RM PM merambah diseluruh wilayah yang selama ini dikuasai Grup MM. Persaingan pun terjadi dan semakin mengeras dari waktu kewaktu.

Heri Susilo, pengelola RM Padang “Jaya Minang” di Buyaran, Demak.

Jika sebelumnya persaingan antar RM Padang dua grup itu (MM dan PM), hanya berlangsung dikawasan Jateng-Selatan dan DIY. Sekarang sudah merembet di Jateng-Utara, terutama di Semarang sekitarnya. Grup RM PM, saat ini mempunyai empat-lima gerai cabang di Semarang dan terus akan ditambah, jelas Arry (24 th), pekerja yang dipercaya melola RM PM kawasan “Mrican” Semarang.

Sementara Grup RM MM, khabarnya juga telah membuka cabang-cabangnya di wilayah “Kalibanteng” Semarang-Barat. Saya dengar itu, namun tidak tahu pasti berapa rumah makan Padang mereka dirikan disana, kata Arry sambil meringis. Dibenarkannya, kini telah terjadi persaingan ketat antara dua grup RM Padang di Semarang. Kita tidak takut dengan persaingan dan kita akan terus berkembang diwaktu kedepan, tambahnya.

Cerita terkait persaingan dua grup RM Padang, MM dan PM belum habis, kini muncul rumah-rumah makan Padang lain di Semarang dengan identitas “Padang Meriah” (Pamer). Rivai (25 th), pekerja yang bertanggung jawab di RM Pamer juga di daerah “Mrican” Semarang ; Saat ditemui mengatakan, Bossnya (non-pribuni), tidak terlibat dalam persaingan antara PM dan MM. Kita berdiri sendiri, tidak terlibat itu, ucapnya.

Sementara itu, Heri Susilo, pengusaha RM Padang “Jaya Minang” di Buyaran-Demak, menyayangkan terjadinya persaingan dan sudah menjurus kejurusan “keras” antara RM Padang MM dan PM. Itu merugikan dan merusak nama serta menu dari rumah-rumah Padang lain di Jateng/DIY, terutama dari kalangan non-grup. “Masak Rendang harusnya dijual Rp 10.000, tapi diobaral dengan harga Rp 6.000”, ujar Heri Susilo.

Dampak persaingan antar RM Padang dengan grup-grupnya tersebut, kata Heri Susilo, membuat rumah makan Padang lainnya yang berstatus non-grup bertumbangan. Mereka tidak tahan dengan persaingan yang sudah tidak sehat macam itu. Jika dibiarkan berkepanjangan, akan makin banyak RM Padang di Jateeng gulung tikar, tambah lelaki yang mengaku Ketua Umum Kosgoro Jateng ini.

(Heru Christiyono A)

banner 521x10

Komentar