Malam Lailatul Qadar sebagai Rahmat dan Hadiah

Artikel, Berita559 Dilihat

Oleh : Ahmad Tavip Budiman, M. Si.
(Ketua Komisi Dakwah & Pemberdayaan Masyarakat – MUI Kota Bogor, Qismu A’wan PC NU Kota Bogor)

Umat Islam di seluruh Dunia menanti malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul qadar. Malam tersebut ada menjelang akhir Ramadhan. Umat islam menyambut malam tersebut dengan qiyamul lail. Ada yang melaksanakan sholat Tahajud, Zikir, Tadarus Al-Qur’an, dan berbagai amal kebaikan demi kemaslahatan banyak orang. Rasulullah semasa hidupnya meningkatkan ibadah 10 hari terakhir Ramadhan.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “sesungguhnya kami menurunkan malam lailatul Qadar. Apa yang kalian ketahui tentang malam tersebut? Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan (al-Qadar: 1-3). Penjelasan tentang Penamaan Lailatul Qadar.

Pertama-tama, ditinjau dari segi penamanaan “lailatul qadar” terdapatbpendapat yang mengatakan bahwa lafadz “al-Qadar” maknanya adalah ukuran, keutamaan dan kemuliaan.

Dinamakan demikian, karena malam lailatul qadar mempunyai kemuliaan yang besar dan agung. Dalam tradisi Arab, ungkapan “Fulan Lahu Qadrun” artinya adalah orang itu mempunyai keutamaan dan kemuliaan.

Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa dinamakan lailatul qadar karena orang yang mengisi lailatul qadar dengan amalan-amalan yang baik akan mendapatkan keutamaan yang besar dan derajat yang tinggi di sisi Allahu subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, amal perbuatan baik yang dilakukan di malam itu kebaikannya akan dilipat gandakan pahalanya seperti mengerjakan amal perbuatan selama seribu bulan. Ketiga pendapat di atas adalah pendapat yang dapat dijadikan sebagai pegangan.

Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa maksud dari lafadz “alQadar” di sini mempunyai makna dari takdir.

Sebab pada malam lailatul qadar ketentuan-ketentuan Allahu subhanahu wa ta’ala yang sudah ditetapkan direalisasikan, takdir yang dimaksud adalah yang terkait dengan kematian, rizqi dan kejadian-kejadian alam.

Pada saat itu malaikat diperintahkan untuk melaksanakan ketentuan takdir tersebut. Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman: “Haa Miim. Demi kitab (al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 1-4).

Maksud dari ayat, “yufraqu Kull Amri Hakim” adalah dijelaskan dan diperinci dari asalnya (Ummul Kitab) hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan:

“Pada malam lailatul qadar dari ummul kitab ditentukan apa yang akan terjadi dalam setahun berikutnya, baik itu rizqi, mati, hidup, hujan sampai ketentuan tentang orang-orang yang akan berangkat haji.”

Penjelasan tentang Keutamaan Lailatul Qadar. Adapun keutamaan lilatul qadar sangatlah banyak, antara lain:

1) Malam diturunkannya al-Qur’an Lailatul qadar adalah malam diturunkannya al-Qur’an al-karim, yang berisi petunjuk bagi para hamba kepada jalan yang lurus yang penuh kemuliaan dan kebahagiaan, di dalamnya terdapat ajaran tentang adap dan akhlaq.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allahu subhanahu wa ta’ala sekaligus ke Baitul Izza pada malam lailatul qadar. Kemudian awal mula Al-Qur’an diturunkan kepada Sayyidina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama 23 tahun, juga pada malam lailatul qadar.

2) Malaikat Turun pada malam Lailatul Qadar Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman, “malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Menurut kebanyakan ulama Salafush Shalihin bermakna bahwa amal shalih dan ibadah yang dikerjakan pada malam itu lebih baik jika dibandingkan ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadar.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan mendorong ummatnya untuk menghidupkan lailatul qadar dengan memperbanyak shalat.

Terdapat hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar disertai dengan keimanan dan semata-mata karena Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutaman lailatul qadar ini dianugrahkan oleh Allah ta’ala kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lantaran keutaaan beliau selaku pribadi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan diberikannya lailatul qadar yang dilipatgandakan di dalamnya kesempatan yang luas untuk beribadah, sehingga mereka mendapatkan kebaikan, petunjuk dan cahaya yang tidak diperoleh oleh ummat-ummat terdahulu meskipun mereka melakukan kebaikan dalam rentang waktu seribu bulan.

Selaras dengan waktu tersebut di atas adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut ini: Diriwayatkan dari Abu Shalih radhiyallahu ‘anhu (mantan budak Utsman bin Affan), ia berkata; “aku mendengar Utsman bin Affan berkata di atas mimbar; “wahai orang-orang, sesungguhnya aku menyembunyikan dari kalian sebuah hadis yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena khawatir kalian akan berpisah dariku, akan tetapi kemudian tampak bagiku untuk menceritakannya kepada kalian, hendaklah setiap orang memilih untuk dirinya menurut yang sesuaibbaginya, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ribath sehari fi sabilillah ta’ala adalah lebih baik dari pada seribu hari di tempat lain.” (HR.Ahmad)

Demikian pula senada dengan hadis di atas, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hadis yang berbunyi: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat sunnah enam rakaat setelah shalat maghrib dan dia tidak berbicara di antara enam rakaat tersebut dengan pembicaraan yang jelek, maka hal itu sebanding dengan ibadah selama dua belas tahun.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lainnya Imam Ahmad meriwayatkan hadist: diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa mandi (pada Jum’at), pergi di awal waktu, lalau mendekat kemudian mendengarkan (khutbah) dan diam, maka setiap langkah yang dilangkahkannya akanmendapat pahala seperti qiyamullail dan berpuasa selama setahun.” (HR.Ahmad).

Terdapat pula hadis yang berbunyi: diriwayatkan dari Aus bin atsTsaqafi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mandi dengan rambutnya pada hari Jum’at dan mandi menyiram sekujur tubuhnya, lalu dia pergi untuk shalat Jum’at pada awal waktu dan sampai mendapatkan awal khutbah dengan berjalan kaki dan tidak berkendaraan, lalu duduk mendekati kepada imam untuk mendengarkan khutbah dan tidak berbicara, maka setiap langkahnya dicatat pahala puasa dan ibadah malam selama satu tahun.” (HR.Abu Dawud, atTirmidzi, dan an-Nasai)

3) Penjelasan lafadz “ar-Ruh” dalam Ayat Surat al-Qadar. Firman Allahu subhanahu wa ta’ala, “pada malam itu turun Malaikat malaikat dan Malaikat Jibril ‘alayhis-salam dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” Para ulama berbeda pendapat tentang “ruh” dalam ayat tersebut, meskipun demikian pendapat yang dipilih adalah pendapat yang mengartikan “ruh” dengan arti Malaikat Jibril.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril ‘alayhis-salam).” (QS.Asy Syu’ara’ [26]: 193) Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman:Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril ‘alayhis-salam) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar.” (QR. An-Nahl [16]:102) Allahu subhanahu wa ta’ala juga berfirman:Lalu kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelmadi hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”( QS.Maryam [19]: 17)

Dari ayat-ayat tersebut diatas, yang dimaksudkan dengan “ruh” adalah malaikat Jibril ‘alayhis-salam. Penyebutan lafadz “ruh” secara khusus setelah penyebutan malaikat lainnya dalam ayat ke empat dalam surat “al-Qadar” di atas adalah karena kemuliaan maqam (kedudukan) malaikat Jibril ‘alayhis-salam dan ketinggian derajatnya. Juga karena Malaikat Jibril ‘alayhis-salam karena kedudukan yang ksusus di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allahu ta’ala menunjukkan sifat malaikat Jibril ‘alayhis-salam dalam firman-Nya: “Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy.” (QS. At-Takwir [81]: 20).[]

banner 521x10

Komentar