Mbah Simpen, Nenek 72 Tahun yang Semangat Belajar Membaca Al Quran

11/02/2018 23:05:53 Kategori:

InilahOnline.com (Tegal-Jateng) - Usia lanjut dan keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang Mbah Simpen (72) belajar membaca dan mengaji. Perempuan penyandang disabilitas itu tetap semangat belajar di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sakila Kerti di sela-sela berjualan asongan.

Bahkan, saat Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menantang nenek warga Pesurungan Kidul Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal itu membaca surat Al-Fatihah, Mbah Simpen tanpa canggung melafalkan ayat demi ayat Al-Fatihah hingga tuntas. Hasil belajar Al-Fatihah selama enam bulan melalui bimbingan pengajar relawan itu, semakin menggelorakan semangat Mbah Simpen untuk terus belajar.

Berkat belajar mengaji setiap hari Jumat dan belajar membaca serta menulis setiap Senin-Kamis, perempuan sepuh itu yang sebelumnya buta huruf kini bisa membaca. Demikian juga rekan-rekan seprofesinya sesama pedagang asongan yang menimba ilmu di "Sekolah Terminal", semakin bertambah wawasan dan pengetahuan tentang banyak hal

Tidak hanya Mbah Simpen, salah seorang murid  "Sekolah Terminal" Priyatin (49), juga unjuk kemahirannya membaca puisi "ngapak" khusus untuk menyambut kehadiran gubernur mengajar di TBM Sakila Kerti. Usai dibacakan di hadapan gubernur, Wali Kota Tegal Nursholeh, Kapolres Tegal  Kota AKBP Jon Wesly Arianto. Puisi berbahasa khas Tegal dengan judul ""Wong Cilik" karya Priyatin itu pun mendapat apresiasi dari gubernur.

"Dengan adanya TBM di terminal ini, yang tadinya tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, mengaji. Ini sesuai perintah Pak Jokowi tentang budaya literasi, bahkan Allah memerintah iqra atau membaca agar tahu," ujar Gubernur Ganjar Pranowo di sela-sela kunjungan di TBM Sakila Kerti Terminal Tegal, Minggu (11/2/2018).

Menurut gubernur, siapapun berhak belajar dan tempat belajar bisa dimana saja. Baik di sekolah formal, rumah, bahkan terminal pun dapat menjadi tempat menuntut ilmu. Tidak hanya belajar membaca, menulis, serta mengaji, melainkan juga pengetahuan ekonomi dan wirausaha.

Ia mencontohkan Priyatin yang sehari-hari berjualan kue kamir khas Tegal, kini dapat berproduksi sendiri setelah mendapat pelatihan di 'Sekolah Terminal". Selain itu juga tahu aneka jenis rasa kue kamir dan harga bahan baku pembuatan kue dari membaca buku.

Orang nomor satu di Jateng itu mendorong Sekolah Terminal yang telah berjalan selama 10 tahun ini, tidak hanya sebatas membaca dan mengaji namun juga memberikan pelajaran bisnis dan ekonomi. Termasuk akses permodalan untuk pengembangan usaha dengan melibatkan perbankan untuk memberikan pendampingan berwirausaha.

"Ini sudah berjalan bagus, nanti masalah apa yang diperlukan saya bantu menyelesaikannya. Tidak cukup baca saja, sekali-kali hadirkan orang yang bisa mengajarkan bisnis dan ekonomi, termasuk yang butuh akses modal untuk pengembangan usaha," terangnya.

Sementara itu, pengelola TBM Sakila Kerti Dr Yusqon MPd  menjelaskan, keberadaan KBM yang berdiri pada November 2011 di pojok terminal itu menjadi sarana belajar pedagang asongan, sopir, buruh angkut barang, dan pelaku usaha di terminal, baik belajar baca tulis, dan mengaji.

Ukuran ruang TMB tidak lebih dari 5×5 meter itu dilengkapi dengan beragam koleksi buku pengetahuan umum, sastra, dan majalah mampu menarik minat membaca para pedagang asongan, sopir, calon penumpang bus. Selain taman baca, TBM juga rutin memberikan pelajaran membaca dan menulis setiap Senin-Kamis mulai pukul 14.00-16.00 WIB.

"Sedangkan pada Jumat, khusus untuk belajar mengaji. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan setiap hari dua jam pada sore hari atau sesudah mereka berdagang. Semangat yabg dibangun adalah mengajak warga terminal gemar membaca, Alhamdulillah semangat belajar mereka memang sangat tinggi," ujar Yusqon.

Yusqon mendukung usulan gubernur mengenai adanya pelajaran ekonomi dan bisnis di Sekolah Terminal. Dengan adanya pelajaran wirausaha, TBM dengan jumlah murid aktif sebanyak 42 orang ini, dapat lebih mandiri dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi. Terlebih sebagian besar murid KBM ini merupakan pedagang asongan dengan usia lebih dari 30 tahun dan beberapa diantaranya penyandang disabilitas.

Ia menyebutkan, sejumlah penghargaan disabet TBM Sakila Kerti, yakni penghargaan dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI pada tahun 2012. Selain itu melalui salah seorang pengelolanya, Sismiyati, juga menjuarai lomba Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) berprestasi tahun 2017 Tingkat Jawa Tengah. (Suparman)