oleh

Melihat Dari Dekat Rumah Sakit Lapangan Covid-19 Kota Bogor

Rumah Sakit Lapangan (RSL) Covid-19 Kota Bogor sudah beroperasi. Berada di komplek GOR Pajajaran, rumah sakit yang dibangun dari hasil kerjasama Pemerintah Kota Bogor dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat ini, beroperasi sejak Senin (18/1/2021).

RSL ini diperuntukan khusus bagi pasien Covid dengan gejala ringan namun memiliki komorbid atau penyakit penyerta, dan pasien terkonfirmasi dengan gejala sedang. Dari total kapasitas daya tampung tersedia, 70 persen untuk warga Kota Bogor dan 30 persenuntuk warga luar Kota Bogor.

Keberadaan RSL tak lain untuk mengurangi beban rumah sakit rujukan, sehingga diharapkan RSL mampu membantu meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kematian akibat Covid-19 di Kota Bogor.

Beroperasinya RSL ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemerintah Kota Bogor dalam mengatasi lonjakan keterisian ruang isolasi. “Ikhtiar kita menambah ruang ICU maupun isolasi di RS rujukan Covid-19 di seluruh Kota Bogor. Sekarang ada 766 ruang isolasi dan 36 ICU di Kota Bogor,” ungkap Walikota Bogor, Bima Arya. “Ada beberapa RS yang sudah ditambah ruang isolasinya untuk menurunkan bed occupancy ratio (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur isolasi,” lanjutnya.

Bagi warga masyarakat yang memerlukan pelayanan RSL, ada beberapa prosedur yang perlu diperhatikan. Kepala Bidang Keperawatan RSUD Kota Bogor sekaligus Humas Sekretariat RS Lapangan, dr Armein Sjuhary Rowi menjelaskan beberapa hal penting. Pertama, pasien yang datang harus segera diregistrasi untuk mengurangi potensi penyebaran virus melalui udara.

Berikutnya, kondisi pasien diperiksa di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk persiapan, hingga akhirnya diantar untuk dirawat inap. “Kami sudah patok respon time, tidak boleh lebih dari lima menit,” kata Armein. Memang durasi respon tergantung kondisi. Namun, yang perlu senantiasa diperhatikan adalah keamanan dari pasien, pengantar hingga karyawan. “Supaya tidak berdampak ke lingkungan, karena tempat ini, kiri kanannya masih ada perkantoran dan perumahan. Jadi perlu dihindari terjadinya air borne,” jelasnya.

Kesigapan pegawai juga diperlukan, termasuk cara melindungi diri dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang benar saat mempersiapkan diri untuk merawat pasien. Demikian pula jalur komunikasi dan koordinasi. Mulai dari meja registrasi sampai ke IGD lantai satu dan lantai berikutnya, harus terkoordinasi dengan baik. “Kami juga harus terkoneksi dengan call center yang ada di depan serta mampu memberikan informasi berapa pasien covid-19 yang dirawat di rumah sakit,” lanjutnya.

RSL di Wisma Atlet, GOR Pajajaran memiliki tiga lantai, dengan lantai dasar digunakan untuk penerimaan pasien serta instalasi gawat darurat. Lantai dua, khusus ruangan rawat inap untuk perempuan dan lantai tiga untuk pasien laki-laki. Instalasi gawat Darurat (IGD) didukung empat unit tempat tidur, dengan dua unit cadangan.  Seluruhnya dilengkapi tiang infus, untuk mengantisipasi pasien yang memerlukan perawatan intensif dan perlu langsung diinfus. Juga alat untuk pasien yang mengalami syok. Fasilitas lantai satu juga dilengkapi tabung oksigen, ventilator dan ruangan khsusus radiologi.

Sementara itu dua lantai atas, masing – masing dilengkapi lima ruang rawat inap dengan 28 tempat tidur. Dua kamar berisi masing-masing enam unit tempat tidur. Jumlah tempat tidur menurut Armein bisa ditambah sesuai kebutuhan, karena sesuai kapasitas, RS Lapangan bisa memuat 74 unit. Setiap tempat tidur di ruang rawat inap dilengkapi infuse set serta lemari – lemari kecil untuk keperluan makan dan minum pasien.

Di masing-masing lantai juga tersedia ruang untuk tempat istirahat perawat yang bertugas serta ruang khusus bagi perawat untuk menggunakan baju hazmat. Di situ, tersedia laci untuk menyimpan semua peralatan perawatan pasien, peralatan sterilisasi dan lain – lain. Di samping ruang perawat juga ada ruang penyimpan alat-alat kesehatan. “Ada obat-obat demam, cairan infus dan obat-obatan pendukung lainnya. Termasuk peralatan seperti jarum suntik dan lain – lain, semua pakai APD level tiga,” tutur Armein.

Sementara itu ada 34 tenaga kesehatan yang siap melayani dan diproyeksikan bisa bertambah menjadi 52 orang. Menurut Armein jumlah nakes seluruhnya 222 orang yang sudah siap. Selain perawat yang sudah terdaftar, juga ada delapan dokter umum dan empat dokter spesialis.

Saat ini mereka yang bertugas, dibagi tiga shift, dari pukul 07.00 – 14.00 WIB, lalu pukul 14.00- 21.00 WIB, dan 21.00-07.00 WIB. “Kami akan mempersiapkan sampai dengan shift 4. Karena mereka harus diberikan waktu libur untuk mengembalikan kondisi fisik mereka,” lanjutnya.

Merawat pasien covid, seperti dituturkan Armein memang bukan tugas biasa. Pemakaian baju hazmat yang tertutup itu sangat mempengaruhi kesehatan petugas. Mulai dari turunnya kadar oksigen dan berkeringat dengan kondisi fisik yang lelah. Semoga mereka tetap sehat dan diberi kekuatan. (Advertorial)

Komentar