Motif Batik IRD Walisongo dan Pesan Dakwah, Andalan Ekonomi Rakyat

14/10/2018 21:28:59 Kategori: ,

“Selain punya filosofi mendalam, Batik yang merupakan salahsatu warisan leluhur bangsa Indonesia bernilai seni tinggi, juga mampu jadi andalan ekonomi masyarakat. Bahkan, motif Batik IRD Walisongo mengandung pesan dakwah di dalamnya.”

Hj. Indriya R. Dani, SE., M.Pd.I 

(Penulis Fesyen & Gaya Hidup Islam, Dosen, & Designer)

atik merupakan salahsatu warisan budaya leluhur bangsa Indonesia. Sebagai ciri khas dari kekayaan bangsa, maka Batik perlu diposisikan secara strategis, selain sebagai sarana pengembangan ekonomi masyarakat, Batik juga senantiasa dilestarikan dan dikembangkan. Seni wastra (kain) Batik telah menempuh sebuah perjalanan yang sangat panjang dalam bagian tatanan budaya Indonesia, hingga disain/pola modern yang menghiasi busana. Batik selain ekslusif, juga tidak pernah ada satupun yang benar-benar sama persis dengan lainnya, dan di dalam setiap helainya banyak kisah dan nilai filosofi di dalamnya. Batik merupakan sebuah pencapaian budaya, warisan budaya dunia dan Indonesia.

Pengertian Batik, menurut Iwan Tirta, yang dikenal sebagai maestro Batik, menyebutkannya sebagai teknik atau proses mencelup dan menghias permukaan kain dengan menggunakan malam sebagai penahan warna. Menurut UNESCO, Batik Indonesia secara keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya terkait, telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi. Dengan penetapan tersebut, berarti Batik telah diakui oleh masyarakat dunia sebagai identitas budaya Indonesia.

Hj. Indriya R. Dani, SE., M.Pd.I (Penulis Fesyen & Gaya Hidup Islam, Dosen, & Designer)

Batik IRD memiliki “motif Batik dan pesan dakwah”, yang sebetulnya merupakan rekonstruksi ajaran ulama yang dituangkan ke dalam motif Batik. Dapat dikatakan pula dimana Batik sebagai karya seni berasosiasi dengan ajaran agama yang sampai kepada manusia melalui wahyu dari Allah SWT. Eksistensi Batik sebagai warisan budaya leluhur sudah seharusnya dipertahankan kelestariannya, sebagai hasil karya seni sekaligus bernilai dakwah. Diawali dengan Batik IRD Kahuripan, yang motifnya berasal dari ajaran Sunan Gunung Jati yang pertama diperkenalkan saat IRD by Indriya R. Dani, mengikuti pameran, dan juga fashion show di IIIF Indonesia International Islamic Festival 2016. Kemudian disusul dengan mengikuti fashion show sebagai delegasi budaya di acara ICF Indonesia Cultural Festival di Baku Azerbaijan (November), dan menghadiri fashion show atas undangan dari komunitas muslim di Seattle dan Los Angeles Amerika Serikat (Desember). Selain memperkenalkan motif Batik Kahuripan yang berasal dari ajaran Sunan Gunung Jati, Indriya pun diminta sebagai pemateri di kajian majelis ta’lim IMFO (Indonesia Muslim Foundation) di LA California USA, sesuai tema yang terdapat dalam motif Batik Kahuripan.

Konsep Dakwah mengusung ”Syiartainment & Syiarpreneur”, memang menjadi konsep dakwah dari Indriya sendiri, dalam menghasilkan karya yang bernafaskan dari ajaran Islam, terlebih melalui ajaran dari para Ulama dan CendekiawanNya. Dalam setiap hasil karyanya, Indri selalu berusaha meleburkan antara nilai Agama, Ilmu dan Seni, menjadi satu kesatuan di dalamnya, yang menjadikannya kekhasan dan keunikannya tersendiri.

Sejak awal diperkenalkan, Batik IRD bertujuan untuk merekonstruksi “Nilai Batik” sebagai media Pendidikan, Dakwah, Seni Budaya, sekaligus bermuatan Bisnis Syariah. Setelah Batik Kahuripan di tahun 2016, disusul dengan Batik IRD Katumbiri (motifnya berasal dari Ulama Kota Bogor, Mama Falak Pagentongan Bogor) di tahun 2017. Selanjutnya untuk di tahun 2018 ini Indriya mengusung tema “Walisongo”, dimana motifnya merupakan rekonstruksi ajaran Walisongo.

Pertama, transformasi ajaran Walisongo secara aplikatif melalui motif Batik. Kedua, pendidikan berciri khas nilai ajaran Walisongo. Ketiga, implementasi kearifan lokal yang berasal dari ajaran Walisongo melalui pengembangan sikap menghargai, bertanggung jawab dan percaya diri kepada masyarakat, sehingga timbul rasa kepemilikan terhadap hasil produk lokal, yaitu Batik.

Dapat dikatakan pula dimana Batik sebagai karya seni berasosiasi dengan ajaran agama yang sampai kepada manusia melalui wahyu dari Allah SWT. Kecintaan akan nilai sejarah dan seni budaya Islam sekaligus kepada para UlamaNya, melatarbelakangi terciptanya Batik IRD motif Walisongo ini, selain mata kuliah yang diampunya sebagai bagian team teaching “Studi Pemikiran Tokoh Dakwah (Ulama Indonesia) di FAI KPI UIKA Bogor.

Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa sekitar abad 17. Para Wali ini tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Tidak saja dikenal sebagai penyebar agama Islam, Walisongo merupakan para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Saat itu Walisongo mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru, mulai dari bercocok tanam, niaga, kesehatan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Sebagai contohnya pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu, diawali dari Girilah peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara.

Kehadiran Batik IRD Walisongo merupakan usaha merevitalisasi kembali keberadaan Batik, dengan menghadirkan motif baru yang berasal dari ajaran Walisongo. Harapannya tentu saja sebagai filter terhadap penjajahan budaya yang dilakukan kaum Barat, melalui Batik agar dapat diterima sebagai bagian dari Budaya Bangsa dan memiliki nilai jual yang berprospek sangat baik di masa yang akan datang, tanpa meninggalkan identitas kearifan lokal.[ ]

Berikut motif-motif dari Batik IRD Walisongo:

1) Sunan Gresik :
Merupakan pendiri Pesantren pertama di Nusantara yang sebenarnya mengadaptasi dari tempat belajar ajaran Hindu dan Budha, sebagai pusat kajian dan pembelajaran sekaligus pengodokan bagi murid-muridnya yang menghasilkan kader-kader penerus dakwahnya.


2) Sunan Ampel :
Pencipta huruf Pegon yaitu tulisan Arab berbahasa Jawa yang sagat membantu dalam mengajarkan ajaran-ajaran islam kepada murid-muridnya dan masyarakat luas, bahkan hingga saat ini masih digunakan di kalangan pesantren sebagai bahan pelajaran.


3) Sunan Bonang :
Karya sastra Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuj Suluk atau Tembang Tamsil.Suluknya banyak mengunakan tamsil cermin, bagau atau burung laut. Tombo Ati, Ilir-ilir dan Gending Dharma merupakan karyanya yang masih sering dilantunkan hingga sekarang.


4) Sunan Drajat :
Sunan Drajat berdakwah lewat tembang pangkur dalam iringan gending dan gamelan Singomengkoknya. Selain itu menyampaikan ajaran agama melalui ritual alat tradisional sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.


5) Sunan Kudus :
Hasil karya beliau yang fenomenal adalah menara mesjid kudus yang masih ada hingga saat ini. Pengabungan antara budaya Hindu dan Budha yang dimaksudkan agar dapat menarik minat masyarakat masuk Islam tanpa paksaan.


6) Sunan Giri :
Beberapa karya seni Sunan Giri antara lain : permainan anak tradisional Jawa seperti Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit, Jor, Gula Ganti, Ilir-Ilir, Cublak Cublak Suweng dan sebagaimana yang berjiwa agama. Kemudian Gending Asmarandana dan Pucung, dimana syair-syairnya syarat dengan ajaran Islam.


7) Sunan Kalijaga :
Sebagai Ahli Budaya, gelat tersebut tidak berlebihan karena beliaulah yang pertama kali menciptakan Seni Pakaian, Seni Suara, Seni Ukir, Seni Gamelan, Wayang Kulit, Bedug di mesjid, Gerebeg Maulid, Sekatenan, Layang Kalimasada dan Lakon Wayang Petruk Jadi Raja, Seni Tata Kota dan karya Seni dan Budaya lainnya yang bernafaskan Islam dan berjiwakan Tauhid.


8) Sunan Muria :
Sama halnya dengan ayahandanya yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga mengunakan kesenian sebagai sarana berdakwahnya. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni seperti sinom dan kinanti.


9) Sunan Gunung Jati :
Seorang Raja atau Sultan, Panglima Perang dan Diplomat Ulung di zamannya.

Berjalan dengan perubahan budaya di dalam masyarakat, tentunya tidak lepas dari proses penyampaian ajaran yang dilakukan oleh penganjur agama atau penerusnya. Proses penyampaian ajaran inilah yang disebut sebagai transmisi dan transformasi nilai-nilai dakwah melalui modal budaya. Keberadaan Islam pun, tidak bisa dilepaskan dari aktivitas dakwah. Tanpa dakwah, maka tidak akan terealisir nilai-nilai ajaran Islam kepada masyarakat sebagai Rahmatan Lil’alamin. Semoga Batik IRD Walisongo ini dapat menjadi media Dakwah di tengah masyarakat urban sekarang ini, dimana menghidupkan kembali ajaran UlamaNya, InShaAllah AamiinYRA.