oleh

Polisi Didesak Segera Tangkap Pelaku Penganiaya Wartawan Pelita Baru

INILAHONLINE.COM, CIBINONG

Polisi didesak segera menangkap pelaku penganiayaan terhadap wartawan media cetak Harian Pelita Baru, Sidik Permana. Pasalnya, jika pelaku masih bebas berkeliaran dan tidak segera ditangkap, maka dikhawatirkan pelaku ini akan mengulangi perbuatannya kembali. Demikian ditegaskan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bogor Raya, Piyarso Hadi kepada wartawan di Cibinong Bogor, Rabu (13/1/2021)

“Dalam rangka penegakkan hukum terhadap tindak pidana kekerasan atau penganiayaan yang dialami seseorang, harus diusut tuntas dan pelakunya segera ditangkap, diperiksa dan diproses hukum. Karena dalam aksi tindak kekerasan ini sudah memenuhi unsur tindak pidana, ada bukti visum et repertum, ada pelakuknya, ada korbannya dan ada saksinya, ” ujarnya.

Menurut Piyarso Hadi, apapun alasanya yang dilakukan oleh pelaku merupakan tindak pidana, karena tindakan memukul pada dasarnya merupakan tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Pasal 351 KUHP yang menyebutkan, bahwa tindak pidana penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

“Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, maka ancamannya semakin berat yakni jika terbukti bersalah, maka pelaku diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun,” jelas Pemimpin Umum inilahonline.com itu.

Hal senada juga dikatakan Ketua Perstauan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bogor Subagio, pihaknya sangat mengutuk keras atas tindakan kekerasan yang dialami oleh wartawan. Dirinya meminta kepada aparat kepolisian agar mengusut tuntas aksi pemukulan terhadap jurnalis Pelita Baru, M. Sidik Permana oleh sejumlah orang di wilayah Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu dini hari (9/1) lalu.

“Apapun alasannya aksi tindak kekerasan berupa pemukulan dan perusakan terhadap kendaraan milik jurnalis itu, sudah merupakan bentuk intimidasi dan pelanggaran hukum,” ujarnya

Menurut Subagio, sebenarnya kejadianya hanya soal sepele, karena disaat terjadi adu mulut antara korban dengan pelaku yang kemudian terjadi mis komunikasi, namun disela perdebatan tersebut terjadi aksi kekerasan terhadap jurnalis media Pelita Baru itu. Dengan kenyataan itu, maka PWI meminta kepada polisi untuk mendalami adanya kemungkinan indikasi lain, sehingga terjadi aksi penganiayaan tersebut.

“Bogor harus bersih dari aksi tindakan kekerasan terhadap jurnalis, karena bisa saja tindak kekerasan itu merupakan bentuk menghalangi kebebasan pers didalam menjalankan tugas jurnalisnya yang dilindungi Undang-undang nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers” imbuh Subagio.

Sidik Permana yang menjadi korban pemukulan dan perusakan terhadap kendaraan bermotornya, mengaku telah melaporkan kejadiannya ke kantor Polsek Tamansari, Kabupaten Bogor.“Saya sudah melaporkan insiden tindak kekerasan yang saya alami itu kepihak Polsek Tamansari, termasuk hasil visum pemeriksaan medis terhadap luka yang saya derita ini,” ungkapnya.

Sidik juga merasa heran, jika hanya menanya mengapa jalan ditutup, saat dia pulang dari kantor medianya itu, dia harus mengalami pemukulan di kepala dan ditendang pada bagian pahanya itu.

Sementara itu, salah seorang bernama Rudi yang mengaku sebagai saksi kejadian penganiayaan jurnalis media Pelita Baru, Sidik Permana, pada Jumat (8/1/2021) sekitar pukul 23.45 WIB membantah pemberitaan yang dimuat pelitabaru.com berjudul ‘Jurnalis Pelita Baru Dianiaya Preman Penjaga Proyek Jalan’.

Dalam pernyataan yang disebar secara umum di media sosial itu, Rudi menyatakan bahwa kejadiannya tidak seperti yang diberitakan pelitabaru.com. Bahkan Rudi mengatakan, awal kejadiannya dia menuduh Sidik Permana itu katanya mengaku dari media kompas. Bahkan, ketika di akhir proses pengecoran jalan, Sidik yang hendak pulang ke rumahnya menanyakan jalan alternatif.

Saat itu, Rudi meminta jurnalis tersebut memutar arah. Karena dia ngotot sehingga terjadi pemukulan. “Dan itu saya melihat sendiri,” ujar Rudi yang membuat pernyataan di media sosial.

Namun Sidik Permana menolak secara tegas telah menyebut dengan mengaku-ngaku sebagai wartawan Kompas seperti yang disebutkan Rudi. “Saya tidak pernah menyebutkan dari media apapun,” tegasnya.

Ditempat terpisah, Pemimpin Redaksi Pelita Baru, Billy Adhiyaksa, menyatakan tetap memproses secara hukum adanya tindak kekerasan yang dialami oleh salah seorang anggota redaksi Pelita Baru, Sidik Permana tersebut.

Bahkan adanya rekaman video di media sosial oleh seseorang yang mengaku menjadi saksi kejadian bernama Rudi, yang secara pemahamannya seolah tidak terjadi tindak kekerasan terhadap Sidik Permana juga dapat diartikan pernyataannya yang viral itu seolah menuduh berita yang dimuat di media pelitabaru.com tidak benar.

Hal ini, saudara Rudi juga akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib sebagai tindakan pencemaran nama baik lembaga media pelitabaru.com dan menyebarakan berita bohong.

“Nanti kita lihat secara gamblang, bagaimana pihak kepolisian yang akan mengusut tentang laporan-laporan keberatan kita terhadap insiden kekerasan yang menimpa salah satu tim redaksi kita itu,” tegasnya.

Lebih lanjut Billy menjelaskan, bahwa dalam pemberitaan ada menyebutkan istilah preman, pemahamannya adalah menyelesaikan masalah dengan cara melakukan tindak kerasan itu merupakan bagian cara-cara tindakan premanisme. (Basir)

Komentar