INILAHONLINE.COM, SEMARANG
Pengukuhan Guru Besar Prof. Olivia Fachrunnisa.M.Si., Ph.D dilakukan dalam rapat senat terbuka dikampus Kaligawe Semarang, Rabo (26/6/2019). Olive panggilan akrabnya dikukuhkan sebagai Profesor ke-13 di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Pengukuhan profestor berusia 44 tahun atau termuda Unissula ini diisi dengan pidato ilmiah dengan judul”Meningkatkan Nilai Manusia (Human Value) Di Organisasi Menuju Kesejahtarean Spiritual Pada Era Digital” di aula Fakultas Ekonomi.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof Olivia mengungkapkan tantangan baru dunia kerja pada era digital adalah memberi nilai tambah kepada nilai manusia dalam integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi.
”Oleh karena itu , diperlukan para pemimpin organisasi yang mampu membawa nilai manusia di era digital ini menjadi lebih maksimal,”katanya.

Namun demikian, lanjutnya, bagi organisasi revolusi teknologi informasi dan komunikasi tentu sangat menguntungkan, tetapi dari aspek sumber daya manusia akan membawa dampak yang cukup berbahaya apabila tidak dikelola dengan baik.
”Sebuah perusahaan atauorganisasi bukan hanya perlu melindungi status pekerjaan pada SDM, tetapi lebih kepada melindungi kemampuan kerjanya atau biasa disebut dengan skill protection. Selain itu, ada hal yang lebih penting lagi dari skill protection, yaitu value protections atau perlindungan nilaidiri,”tuturnya.
Terkait perkembangan sistem teknologi dan otomatisasi, menurutnya, menghasilkan proses kerja yang lebih efisien dan efektif. Namun hal ini sebetulnya tidak mengurangi nilai eksistensi SDM di organisasi.
”Bukan berarti dengan adanya system yang mampu bekerja dengan cepat, tanpa lelah menimbulkan lebih sedikit kesalahan, lalu peran manusia tidak dibutuhkan lagi. Padahal sistem tersebut, diciptakan, dikembangkan oleh manusia dan diperuntukkan untuk membantu pekerjaan.manusia juga.”
Meski demikian, menurutnya, bagaimanapun manusia tetap memiliki nilai yang lebih tinggi, dari pada system yang mereka ciptakan. Tanpa manusia, system tidak akan berjalan dan tidak akan dapat digunakan.
”Oleh karena itu, di era digital memiliki kompetensi dan berkarakter akan lebih penting, dari pada kecerdasan otak saja. Karakter-karakter seperti simpati, rasa keingintahuan, kuat mental dan kemampuan untuk beradaptasi akan menguntungkan dalam penggunaan smart automation.”ujarnya.
Menurut dia, orientasi penyediaan tempat kerja atau wadah organisasi adalah untuk memaksimalkan spiritual wellbeing. Kesejahteraan spiritual akan semakin meningkatkan keberadaan atau nilai manusia di muka bumi.
”Jadi setiap orang penting memiliki kompetensi yang sesuai zamannya, namun memiliki karakter yang kuat atas dasar nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas, akan membuat nilai nilai diri kita semakin meningkat baik dari sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. ”

Sebagaimana pula diriwayatkan oleh khalifah Ali bin Abi Tholib, wahai kaum muslim didiklah anak anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu.
”Di dalam zaman ilmu pengetahuan yang semakin maju, yang harus kita tanamkan pada setiap anggota organisasi dan anak anak kita yang paling utama adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT,” paparnya.
Rektor Unissula Ir Prabowo Setiyawan MT PhD menyatakan, agar apa yang dicapai oleh Prof Olivia dalam usia yang relatif muda ini, dapat memantik dosen yang lain untuk meraih prestasi yang sama yakni meraih gelar profesor.
”Saya yakin ini semua karena berkat kerja keras, sehingga kami berharap apa yang dicapai Prof Olivia bisa menjadi pemacu semangat rekan-rekan yang lain,”papar Rektor.
Direktur Karir dan Kompetensi SDM Kemenristekdikti Prof Dr Bunyamin Maftuh MPd MA pada acara pengukuhan tersebut menyatakan, prestasi Prof Olivia menjadi prestasi tersendiri bagi Unissula. Sebab, sangat jarang sebuah perguruan tinggi swasta bisa memiliki lebih dari 10 profesor.
“Sangat jarang di Indonesia ada dosen meraih gelar profesor loncat dari lektor langsung ke profesor. Menurut peraturan itu dimungkinkan, namun sangat sulit. Salah satunya yakni memiliki minimal empat jurnal internasional bereputasi, tapi itu semua bisa dilalui oleh Prof Olivia,” paparnya.
Diungkapkan, saat ini jumlah profesor di Indonesia ada sekitar 5.600 dari 250.000 dosen di bawah Kemenristekdikti atau hanya 2 persen. Setiap bulan Kemenristekditi juga menyetujui 20 sampai 25 profesor baru.
”Tugas profesor saat ini, semakin berat karena ada persyaratan untuk produktif menulis di jurnal terakreditasi,”tandasnya.
Acara pengukuhan dihadiri civitas akademika, baik dosen dan mahasiswa program doktoral juga dihadiri Sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Jateng Amsar, para profesor dan para pimpinan berbagai perguruan tinggi di Jateng.
(Suparman)





























































Komentar