oleh

Wuaduuh Keblinger…??!

Oleh : Jayanto Arus Adi
(Pokja Hukum Dewan Pers)

Bung Karno mewariskan Tri Saktinya. Berdikari secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya. Itu sudah setengah abad lewat. Indonesia percaya diri, memimpin New Emerging Force, memimpin gerakan nonblok, dan menjadi macan Asia Afrika.

Ibarat balap sepeda kita menkreate veldromnya sendiri. Dus medannya kita jualah yang menguasai. Kalau tidak, analoginya adalah, bisakah kita menjadi kepala rumah tangga, kemudian kita mengatur rumah tangga orang lain, meski itu tetangga sekalipun?! Kalau ada bilang bisa itu keblinger, edan!

Seperti sekarang, globalisasi, demokrasi, itu ibarat permainan, merekalah yang menguasai medan!! Ya keblinger kita masuk arena itu. Demokrasi kita itu pancasila, musyawarah mufakat, gotong royong

Jadi aneh bin keblinger malah juga kebablasan. Ini bukan demokrasi, tapi prima interpares, asu gede menang kerahe (anjing besar menang dalam pertarungannya-red). Bisalah demokrasi macam begini, tapi selesaikan dulu dengan pemerataan ekonomi, peningkatan kesejahteraan. Lha ini tanpa babibu kok ujug ujug demorasi, apalagi reformasi.

Ya jelas keblinger. Apalagi UUD 1945 pakai di amandemen juga. Wuaduh, ya ciloko. Boleh boleh demokrasi, kalau kota dan desa bukan jadi antitesa atau sebuah diametral dari peradaban.

Ya jelas kebablasan, masak wong kuto tetiba (orang kota datang-red) secara aturan dipukul rata. Ya kebabalasan, apalagi Indonesia, bagian barat disamarata dengan timur.

Benar saja ada anekdot, isik enak jamanku to, kira kira begitu. Siapa pun lah, mau SBY, juga Jokowi mana tahan!! Sistem politik yang acakadul (acak acakan dan amburadul-red) begini ya kasihanlah Pak Presiden Jokowi.

Menilai, membandingkan prestasi tolok ukur dan metodenya ngawur. Waah ini keblinger. Siapa yang bongkar Petral, BBM satu harga di Papua, juga infra struktur gila gilaan.

Ya nggak bisa main kayu begitu. Soal Gibran Rakabuming dan Boby Nasution biar saja. Biar wong Solo dan kawan Batak yang menentukan. Politik ya begitulah.

Rakyat sudah pinter. Biar saja mereka tanam porang (sejenis umbi-red) dan majukan pertanian. Atau kalau mereka mau demo bareng anak anak pelajar SMK jga boleh saja. Lha wong demo sekarang jga dapat bayaran, kecuali demo gak dapat apa apa, malah kena pentung kaya di tivi, khan malah ciloko.

Yang penting ayo kita tetep cinta NKRI. Rawat persatuan dan semai terus kebersamaan. Jangan lagi mau jadi komoditas politik, jangan sampai terjadi Poso jilid 2, krisis Ambon jilid berikut. Atau mengadu Dayak dengan Madura. Keblinger ini.

Agama itu ibarat kendaraan menjadi orang baik, tahu norma, agar masuk surga. Khan tidak ada agama mengajak berbuat jelek. Sudah…..,sudah tidak musim lah beda agama lantas bentrok, nggak keren.

Prabowo aja udah diizinkan masuk Amerika. Mau apa hayooooo??

Duuuh kok sudah nglantur ke mana mana. Tetiba saya pengin jadi presiden pula. Karena saya ingin menjadikan Indonesia berswasegalanya. Gak globalisasi gak pateken (borokan-red). Gak modern gak pateken. Eladalah kapir kapir saya malah keblinger sendiri. Malah kebablasan sendiri. Takbir takbir takbir.

Gubraaakk…!! Astaghfirullah saya terbangun. Ternyata tadi saya mimpi buruk. Bersyukur saya masih di desaku yang permai. Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia, hidup Ganjar Pranowo, hehehe! Apa hubungannya ya??

Yaaaah… namanya juga mimpi. Padahal di mimpi sudah jadi presiden dan kumpul bareng sama Kim Jong Un juga Donald Trump. Ciloko. Grag greg semua. Sontoloyo. Angel aturane. Hahahahah. Merdeka..!!!

Komentar