oleh

Antara Hidup dan Mati

Oleh : DR. David Rizar Nugroho, SS, M.Si

Kemarin, Presiden Jokowi telah mengumumkan perpanjangan PPKM Darurat hingga tanggal 25 Juli 2021. Jika angka transmisi Covid-19 turun, maka tanggal 26 Juli 2021 pemerintah akan melonggarkan aturan PPKM Darurat. Semua tergantung data statistik pada tanggal 25 Juli 2021 apakah kurva transmisi Covid – 19 melandai, stagnan atau malah meningkat. Jadi belum bisa dipastikan, karena yang pasti diperpanjang hingga tanggal 25 Juli 2026. Sebagai peserta isoman yang terpapar Covid-19 saya berharap betul lima hari ke depan masyarakat patuh. Ayolah di rumah saja sampai semuanya melandai.

Jangan ngotot ngotot lagi karena saya yakin tidak ada rakyat Indonesia yang kelaparan gara gara PPKM Darurat. Betul bantuan sosial (Bansos) terbatas, tapi rakyat Indonesia solidaritas sosialnya tinggi. Pasti kita tidak akan membiarkan saudara kita mati kelaparan gara gara PPKM Darurat. Sampai saya menulis kolom ini, saya belum dapat data jika ada rakyat Indonesia yang mati gara gara PPKM Darurat.

Yang pasti yang mati karena corona itu fakta. Kita lihat gambar dan video di TPU Rorotan Jakarta sangat horor. Dan fenomena itu gak bikin sebagain masyarakat takut, mereka tetap keluar karena PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 konon hanya menurunkan 20 persen mobilitas. Padahal di seluruh dunia koenci penurunan angka transmisi Covid 19 adalah membatasi interaksi. Pembatasan interaksi dilakukan dengan menurunkan mobilitas warga, gak ada jalan lain titik. 

Banyak faktor yang membuat sebagian masyarakat tidak patuh. Yang pasti katena kebutuhan perut. Saya percaya kita tidak akan mati kelaparan karena PPKM Darurat karena kita solidaritas sosial. Tapi mati karena Corona liat saja foto dan video TPU Rorotan Jakarta. Kedua, karena belum terpapar.

Kalau sudah terpapar mungkin baru nyadar apalagi ada yang mati gara gara corona. Itu lah mental bangsa kita sudah ada contoh faktual masih saja menerjang penyekatan PPKM darurat.  Saya kembali berbicara sebagai penderita covid yang belum sembuh. Apa yang saya rasakan hari hari ini? Jujur kalut. Muara dari Covid 19 pagi yang terpapar seperti saya adalah cuma dua kata: hidup atau mati. Ini betul karena kena Covid itu ujungnya sembuh atau mati titik.

Data WHO mengatakan 98 persen warga yang terpapar covid sembuh sedangkan yang mati hanya 2 persen. Kelihatannya melegakan tapi kita gak pernah tahu apa kita yang masuk 98 persen atau 2 persen? Makanya saya Gemes banget sama orang orang yang keras kepala masih keluar rumah di saat PPKM Darurat. Anda oportunis sekali memikirkan perut sendiri sementara kita semua berkorban untuk menurunkan kurva penularan demi keselamatan. Ini soal nyawa bro, nyawa manusia yang dipertaruhkan.

Mau kita biarkan dibuka kemudian yang terjadi darurat kesehatan di mana mana lalu kita Maki maki pemerintah gak becus Ngurus covid. Di Sekat ngamuk ngamuk, di buka lalu terjadi darurat kesehatan tuding tuding pemerintah. Anda sungguh oportunis dan tidak nasionalis bro!

Saya menulis keras karena saya merasa patuh prokes dan mengikuti kebijakan pemerintah untuk berdiam diri terpapar juga. Anda yang masih keluar belum terpapar karena nasib baik saja karena seperti judul tulisan saya sebelumnya: semua akan covid pada waktunya kalau anda nekat tidak patuh PPKM Darurat.

Balik lagi soal diri saya. Kekalutan itu nyata. Saya relatif ringan tapi siapa yang menjamin saya bisa masuk yang 98 persen sembuh? Atau malah yang 2 persen itu? Karena virus yang katanya varian delta memang ganas dan saya harus bilang bisa mencabut nyawa yang terpapar. Sebagai “pendatang baru” saya berkomunikasi dengan banyak alumni yang sembuh. Tak ada satupun ceritanya sama. Masing masing punya cerita “kengerian yang tak terperi”.

Yang sama anosmia. Saya gak akan uraikan cukup saya yang tahu. Buat saya masalah psikologis yang lebih membuat jadi berat. Tekanan informasi yang tak ada filternya membuat penderita banyak depresi. Saya mengurangi membaca berita berita yang berat. Waktu isoman salah satunya saya isi dengan nulis kolom seperti ini. Ini hari kelima saya isoman masih suka muncul bayangan bayangan halu di kepala, overthingking dan lain sebagainya. Mohon doa semua pembaca ya !

(Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Pakuan Raya dan seorang dosen, tinggal di Kota Bogor)

Komentar