oleh

Bantuan Sapi Dan Alsintan Kelota “SAE JAYA” Desa Jatireja Diduga Digelapkan Ketua Kelota

INILAHONLINE.COM, SUBANG

Bantuan bersumber APBN TA 2018 via aspirasi DPR – RI, bagi Kelompok Tani (Kelota) “ SAE JAYA” di Desa Jatireja, Kec.Compreng, Kab.Subang, Prov.Jawa Barat berupa sapi dan alat mesin pertanian (Alsintan) guna meningkatkan kesejahteraan petani di duga digelapkan oleh Ketua Kelotanya Crd, sehingga berpotensi merugikan keuangan negara mencapai ratusan juta rupiah.

“Berawal dari kucuran dana yang diterima sedikitnya Rp.300 jutaan telah dibelanjakan 10 Ekor sapi, pembuatan kandang, peralatan proses pembuatan pupuk, belanja mesin rumput dan kendaraan Cator yang harganya semuanya diduga dimark up.”, ujar sejumlah sumber.

Dari peninjauan awak media di lapangan (5/11) terlihat, atap dan dinding kandang dan kolam persediaan air sudah dalam keadaan rusak dan berantakan serta tidak kedapatan satu ekorpun sapi alias kosong melompong.

Masih menurut keterangan sumber, sapi-sapi itu dan berikut alsintan lainnya mestinya digulirkan untuk pengembangan kelompok, namun kini semuanya raib entah hinggap dimana sapi-sapi dan alsintan itu.
Kedapatan sedikitnya, dua ekor sapi dijual secara gembling kepada salah seorang warga Nas, dan Nas menambah uang tunai Rp.10 jutaan yang diterima oleh ketua Kelota Crdi. Ujar sumber.

Tak hanya itu, bantuan sebelumnya Hand Traktor, Tresser dan Alsintan lainnya juga tidak jelas juntrungannya, apakah dijual atau disewakan?.
Ironisnya ketua Kelota Crdi ketika mengelola program dituding memonopoli, sementara pengurus lainnya dan anggota tidak dilibatkan, tapi anehnya yang bukan anggota (masih familinya?) dilibatkan, khan aneh. Ujar sumber dengan nada bertanya.

Kondisi kandang yang kosong melompong tak ada sapinya seekorpun. Foto : Inilahonline/Abdulah

Ketua Kelota Cardi, ketika dikonfirmasi via sambungan selulernya, membantah tuduhan semua itu. Menurut pengakuannya sapi-sapi itu masih ada.“ Agar lestari kini polanya dipelihara oleh masing-masing anggotanya,” kilahnya.

Ketika awak media ingin melihat fisiknya dimana, kemudian ketika ditanyakan apakah tersedia buku laporan/Neraca Sisa Hasil Usaha (SHU) pada setiap akhir tahun dan apakah ada catatan populasi hasil produksi pengelolaan ternak, Cardi membisu seribu bahasa tak mampu memaparkan perkembangan kegiatan kelompoknya yang dia klaim masih aktif.

Terkait akan hal ini , aktifis Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi Aparatur Negara-RI (LI-TPK AN-RI) kab.Subang Udim Syamsudin,S.Sos mendesak agar aparat penegak hukum segera mengusut dan menyeret oknum yang terlibat hingga ke meja hijau.
Upaya tersebut, tandas Udin merupakan hal yang urgen sebagai sebagai langkah upaya penegakan supremasi hukum sebelum masalahnya semakin meluas. (Abdulah)

Komentar