oleh

Cagar Alam Darupono Kendal Bakal Didirikan Museum Kayu

INILAHONLINE.COM, KENDAL

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), direncanakan bakal membangun sebuah museum kayu di lokasi perkebunan pohon jati di Cagar Alam Darupono, Kabupaten Kendal.

Dirjen Konsevasi dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDE) KLHK, Wiratno mengatakan, pembuatan museum kayu akan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, sekaligus meningkatkan konsep pelestarian tanaman jati yang telah berusia ratusan tahun di kawasan tersebut.

“Ke depan harus ada sebuah museum kayu di Cagar Alam Darupono. Tempatnya gak usah terlalu luas. Yang penting masyarakat Indonesia bisa mengetahui seluk beluk tanaman jati yang bertebaran di tempat ini. Apalagi hutan jati di Darupono sudah ada sejak 1808,” ujarnya di Kendal, Selasa (16/6/2020).

Menurutnya, dengan keberadaan museum kayu diharapkan masyarakat bisa mempelajari cara menanamnya. Pohon jati juga terbilang sangat unik, mengingat akar tunggalnya, yang menancap kuat ke dalam tanah bisa membuat satu pohon jati hidup selama 70 tahun dan ratusan tahun.
“Kalau lebih dari itu, akarnya jadi lapuk. Itu yang bikin pohon jati tumbang di jalanan,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya juga menginginkan agar museum kayu di Darupono, bisa dilengkapi dengan sejarah hutan jati yang tersebar di Indonesia, sehingga masyarakat bisa mengetahui secara lengkap terhadap keberadaan pohon jati, yang berada di wilayah Nusantara ini.

”Di hutan jati Darupono misalnya, hutan jati yang awalnya ditemukan pada 1808 silam, kemudian dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda mulai 1858 hingga 1933 silam. Setelah itu, kawasan hujan jati dijadikan cagar alam pada 1999 dan bertahan sampai saat ini,”terangnya.

Masyarakat, tutur Wiratno, juga bisa mengetahui penyebab sejarah kerusakan hutan jati yang berada di sejumlah wilayah. Bahkan daerah-daerah mana saja yang menghasilkan kayu jati dengan jumlah cukup besar, yang hingga kini masih tumbuh kembang dengan baik.

“Dengan demikian, ketika masyarakat ke Darupono, mereka bisa belajar cara tanam jati seperti apa saja. Kerusakannya sebesar apa. Karena saat zaman kolonial Jepang, hutan jati juga difungsikan sama rakyat untuk mencukupi kebutuhan hidup. Caranya dengan membuat tumpang sari. Makanya sekarang di bawah jati itu kan pasti ada jagungnya dan tanaman pangan lainnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kondisi area hutan jati Darupono saat ini terbilang cukup baik, bahkan terlihat banyak pohon jati tumbuh memiliki diameter berukuran raksasa. Diameter jati di Darupono paling kecil sekitar 65 sentimeter.

”Dengan jumlah cagar alam yang dikelola KLHK saat ini, mencapai ratusan titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Di Jawa Tengah saja hingga kini terdapat 26 cagar alam,”ujarnya.

(Suparman)

Komentar