CPI Berikan Bantuan Hibah ETC Fakultas Peternakan Dan Pertanian Undip

INILAHONLINE.COM, SEMARANG – PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) sebuah perusahaan yang peduli terhadap dunia pendidikan, membekali mahasiswa kemampuan entreneurship dengan pembangunan Entrepreneur Teaching Centre (ETC) di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

”Kami membentuk sebuah teaching centre yang dapat membangun jiwa entreprenuership bagi mahasiswa, khususnya Undip,”ujar Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy usai peresmian ETC Undip, Semarang, Jumat (24/8/2018).

Menurutnya, Charoen Pokphand Indonesia (CPI) memberikan hibah gedung Entrepreneur Teaching Center (ETC) kepada Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, yang telah dibangun di komplek Fakultas Peternakan dan Pertanian perguruan tinggi negeri itu.

Serah terima gedung Entrepreneur Teaching Center (ETC) dilakukan oleh Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia (PT.CPI), Thomas Effendy kepada Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum, yang berlangsung di Kampus Tembalang, Semarang, Jum,at (24/8/2018).

Hibah gedung ETC ini, papar Thomas, merupakan kelanjutan dari kerja sama PT CPI dengan Undip sebagai Mitra Akedemiknya, setelah sebelumnya pada November 2017, PT CPI menghibahkan kandang Closed House dengan kapasitas 20.000 ekor ayam, dimana kandang closed house dapat menjadi tempat mahasiswa untuk langsung mempraktekkan ilmu-ilmu peternakan yang didapat di bangku kuliah dengan bimbingan tenaga ahli yang telah disiapkan oleh PT CPI.

”Dengan Clesed House itu, diharapkan para mahasiswa pada saat mereka lulus kuliah sudah siap langsung memasuki dunia kerja di bidangnya,”ujarnya.

Namun demikian lanjutnya, PT CPI dan Undip menyadari ke depan tantangan tidak hanya berhenti pada menyiapkan tenaga kerja siap pakai, tetapi harus setingkat lebih maju dengan menyiapkan mahasiswa sebagai pencipta lapangan tenaga kerja.

Bahkan hal itu dapat tercipta jika sejak awal para mahasiswa telah dibekali dengan ilmu entreprenuership. Berangkat dari cita-cita tersebut disusunlah sebuah kerja sama yang lebih terintegrasi, dengan membentuk sebuah teaching center yang dapat membangun jiwa entreprenuership mahasiswa, dimana pada saat ini di Undip telah tersedia laboratorium mini.

”Jadi sebuah rantai distribusi pangan, yaitu kandang closed house sebagai hulu produksi sampai dengan toko retail yang dimiliki oleh PT CPI, dan Prima Freshmart (PFM) sebagai hilir.”

Ia menambahkan, selayaknya sebuah laboratorium, di teaching center ini, mahasiswa dapat belajar dengan dibimbing oleh tenaga ahli dari PT Primafood, sebagai pengelola PFM tentang teknis pengelolaan usaha toko/toko khusus (specialty store), Inventory management, Product knowledge, Administrasi, Servis Exelent, akses kepada pemasok, kecukupan modal kerja, serta sistem informasi teknologi dan kondisi-kondisi lain yang terkait.

”Yang jelas para mahasiswa dapat belajar untuk menemukan sebuah rantai distribusi pangan yang lebih effisien, sehingga diharapkan saat mereka lulus dari bangku kuliah telah memiliki cara pandang yang lebih luas untuk menciptakan lapangan kerja baru,”katanya.

Selain pengalaman, menurutnya, mahasiswa akan mendapat sertifikat kompetensi yang berguna sebagai pendamping ijazah, yang menerangkan kemampuan yang dibutuhkan sebagai prasyarat dalam persaingan dunia kerja.

”Ketika dilihat dari latar belakang lulusannya sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 81 Tahun 2014, tentang ijazah, setifikat kompetensi dan sertifikat profesi pendidikan tinggi.”

Dijelaskan Thomas, Kerja sama Entrepreneur Teaching Center (ETC) ini semakin mempererat PT CPI – Undip, setelah sebelumnya sukses melakukan kerja sama, Progam “Bakti Pada Guru”, yang dimulai pada 13 September 2017 bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Undip.

”Program tersebut memberikan pelatihan psikologis pada guru – guru, kegiatan ini telah dilaksanakan di sejumlah wilayah di Indonesia dengan total peserta yang telah mengikuti pelatihan sampai bulan agustus 2018 sebanyak 1.453 Guru dan puncaknya pada 11 Juli 2018, mendapat anugerah Rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai “Pelatihan penguatan pendidikan karakter secara bersambung kepada guru terbanyak”.(Suparman)

banner 521x10

Komentar