oleh

Diduga Ada Pungli Layanan KTP-el, Bima Arya Sidak Disdukcapil Kota Bogor

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Wali Kota Bogor Bima Arya melakukan sidak ke kantor Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil pada Kamis (17/1/2019). Hal ini dilakukan akibat banyaknya keluhan yang datang dari warga terkait lambannya layanan KTP-el.

Salah satu keluhan warga yang diterima Bima adalah dugaan yang mengarah adanya praktik pungutan liar atau pungli. Hal itu terlihat dari warga yang melaporkan bahwa ada yang mendapatkan pelayanan KTP-el lebih cepat karena dibayar.

Kemudian Bima Arya meminta kepada semua pegawai keluar ruangan untuk dimintai penjelasan mengenai kondisi sebenarnya.

“Saya masih menerima keluhan dari warga soal persoalan warga mengurus KTP-el. Apa yang sebetulnya terjadi? Cuma ada dua kemungkinan. Pertama, persoalan yang tak bisa kita selesaikan karena terkait sistem dari pusat. Atau kedua, ketidakmampuan kalian untuk melayani warga dengan lebih baik,” ungkap Bima di hadapan puluhan pegawai Disdukcapil.

Bima Arya pun mengutarakan kemarahannya ketika ada banyak warga yang mengadu melalui sosial media dan pesan singkat ke ponselnya bahwa ada permainan oknum di Disdukcapil yang diduga melakukan pungutan liar untuk memuluskan pencetakan KTP-el.

“Ada yang sudah bertahun-tahun belum jadi. Saya jelaskan bahwa persoalannya adalah blanko dari pusat yang dikirim terbatas. Tapi dibantah dengan cepat oleh warga yang bilang tetangganya tidak sampai 2 minggu bayar sekian, selesai lebih cepat. Saya ingin pastikan apa yang terjadi di sini,” tandasnya.

Bahkan, masih menurut Bima, ada oknum yang mengaku-ngaku timses Barda untuk minta dibuatkan KTP-el dengan cepat, info tersebut juga didapat dari masyarakat. “Saya akan telusuri oknum orang-orang yang mengambil keuntungan itu, masak yang seperti ini dibisnisin, keterlaluan menurut saya,” kata Bima kesal.

Pegawai pun menjelaskan bahwa ketersediaan blanko menjadi kendala terhabatnya percetakan KTP-el. Menurut Kabid Penyedia Informasi dan Administrasi Kependudukan (PIAK), Ari Setyaningsih, menjelaskan bahwa kendala yang terjadi diakibat keterbatasan blangko dari pusat. Ia menyebutkan, bahwa pusat hanya memberikan 40 ribu keping. Bahkan, Disdukcapil Kota Bogor sempat mendapatkan tambahan blanko 60 ribu keping itu pun didapat dari luar.

“Warga yang mengatakan sudah setahun belum jadi KTP nya, mungkin ketika warga itu mengajukan memang sedang habis dan ketika kita ada blangko, saat itu warga itu tidak mengajukan ulang, karena terus terang pak bahwa blangko disini cepat sekali habis karena banyak yang mengajukan,” kata Ari Setyaningsih.

Ari pun menginformasikan bahwa saat ini Disdukcapil Kota Bogor masih kekurangan 70 ribu keping blangko. Mendengar itu Bima pun langsung mengambil ponsel dari ajudannya untuk menelpon Prof Zudan Arif Fakrulloh . Bahkan, percakapan tersebut Bima buka dengan mode loudspeaker.

“Assalamualaikum Pak Dirjen, izin berbicara sebentar, boleh? blanko KTP-el ada Pak Dirjen?, Kira-kira kita butuh 70 ribu keping, segera saya kirimkan staf saya besok Pak,” kata Bima melalui sambungan telepon dengan Dirjen Dukcapil Kemendagri.

Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Prof Zudan Arif Fakrulloh pun menjawab bahwa ketersediaan blanko KTP-el di Kemendagri cukup banyak.

“Silahkan Pak Bima, ambil saja di kantor, ada banyak Pak,” jawab Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Prof Zudan Arif Fakrulloh.

Bima pun menegaskan jika pegawai Disdukapil masih berasalan blanko habis saat melayani warga, pihaknya tidak segan untuk melakukan mutasi besar-besaran di Disdukcapil Kota Bogor.

“Selesai masalah blanko, kalau masih ada masalah blanko saya mutasi besar besaran ini Disdukcapil semuanya, berarti enggak mampu bekerja ini yang pertama,” kata Bima

Yang kedua kata Bima dirinya ingin memastikan bahwa tidak ada pungli di Disdukcapil Kota Bogor.

“Yang kedua Soal ada yang bayar saya ingin lacak, ini kenapa apakah betul didahulukan karena bayar, kalau ada saya akan tindak semua, jangan sampai warga mendapatkan pelayanan lebih karena uang apalagi ngaku-ngaku tim sukses saya, saya akan tindak semua,” tandas Bima.

(ian Lukito)

Komentar