oleh

Digitalisasi Koperasi Adalah Sebuah Keniscayaan

Oleh : Gunoto Saparie
(Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah)


Sebuah peristiwa bersejarah terjadi Rabu 5 Agustus 2020 siang di Aula Koperasi Unit Desa (KUD) Aris, Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah. Dalam upaya digitalisasi di KUD tersebut, pada hari itu KUD Aris secara resmi menggunakan aplikasi koperasi digital berbasis android secara mandiri tahap pertama.

Meskipun peresmiannya secara sederhana, namun digitalisasi koperasi memang tak bisa dielakkan. Zaman terus berkembang dan KUD Aris tak ingin kesingsal oleh perkembangan teknologi yang melaju pesat.

Memang, kita kini memasuki era Revolusi 4.0. Revolusi ini akan membawa perubahan besar dalam kehidupan yang serba digital. Koperasi pun harus menyesuaikan diri. Tantangan koperasi dewasa ini bukanlah sekadar cara berbisnis di era digital, melainkan juga mengubah mindset dalam sistem tata kelola secara menyeluruh. Ini berarti, koperasi harus melakukan reformasi total agar mampu melewati era Revolusi Industri 4.0.

Dalam kaitan inilah, maka koperasi harus kreatif dan inovatif dalam menjalankan strategi bisnisnya. Ia harus sudah mengembangkan aplikasi, termasuk aplikasi pelayanan anggota dan bisnis. Upaya transformasi ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja usahanya. Teknologi bisa dimanfaatkan koperasi dalam menerapkan strategi efisiensi usaha dan meningkatkan daya saing.

Dalam RAT, misalnya, koperasi bisa melakukannya secara daring atau online. Transaksi pun tidak lagi manual.

Memang, koperasi diharapkan mampu menjawab tantangan zaman dan mampu bersaing dengan sektor usaha lainnya. Tak hanya penggunaan teknologi sebagai ujung tombak koperasi di masa depan, keterlibatan generasi milenial pun dibutuhkan guna menjamin eksistensi saka guru perekonomian nasional ini. Anak-anak muda generasi milenial tentunya memiliki mindsetlebih kekinian.

Mereka lebih kreatif dan inovatif. Mereka memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya.

Sesungguhnya wabah virus corona atau Covid-19 itu memberikan hikmah. Memang pandemi ini memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan. Banyak orang sakit dan meninggal karena terpapar virus corona. Bisnis pun melambat, banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian, para karyawan dan pengusaha terpaksa mengelola tugas dan targetnya dari rumah atau work from home(WFH).

Ibu rumah tangga mulai terbiasa belanja daring via platform e-commerce. Pelajar dan mahasiswa pun harus belajar-mengajar secara daring pula.

Internet kini benar-benar menjadi kebutuhan sangat penting. Ia tidak lagi dianggap hanya sebagai pelengkap seperti dulu. Internet kini sangat bermanfaat bagi produktivitas dan aktivitas para penggunanya, bukan sekadar sebagai hiburan semata. Koneksi digital bukan lagi solusi alternatif, melainkan mandatori.

Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa wabah corona ternyata menjadi akselerator implementasi digital di Indonesia. Wabah corona memaksa dan memicu percepatan adopsi dan transformasi digital.

Menjadi Momentum

Oleh karena itu, era new normal bisa menjadi momentum bagi para pelaku dan insan koperasi untuk melakukan transformasi digital agar dapat beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat.

Sejak diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), masyarakat kini memanfaatkan teknologi untuk melakukan berbagai aktivitas baik dari bekerja hingga kebutuhan berbelanja. Melihat tren ini, para insan koperasi pun mulai bergerak ke ranah digital, baik e-commerce atau bahkan mendirikan website sendiri. Digitalisasi koperasi memiliki beberapa manfaat, di antaranya dapat menghemat biaya operasional.

Digitalisasi telah mengubah banyak lini kehidupan. Sektor ekonomi pun tak luput dari perubahan tersebut, menciptakan suatu fenomena yang populer sebagai disrupsi digital. Fenomena itu mensyaratkan adaptasi perilaku pelaku kegiatan ekonomi agar tak hanya sekadar dapat bertahan, namun juga berkembang. Koperasi sebagai salah satu pilar utama perekonomian nanti yang bersentuhan langsung dengan masyarakat pun harus jeli bersiasat di era disrupsi. Kita lihat, misalnya, sejumlah koperasi bekerja sama dengan perusahaan rintisan (startup) untuk manajemen pengelolaan koperasi hingga pencatatan keuangan.

Adapun pencatatan keuangan yang dimaksud yakni semua pencatatan kegiatan akuntansi maupun semua laporan keuangan seperti neraca (balance sheet), laporan L/R (sisa hasil usaha/SHU), laporan pergeseran arus kas (trial balance), dan laporan perubahan modal (equity)beserta pengungkapan (disclosure).

Harus diakui, belum banyak koperasi di Indonesia yang telah terhubung ke ekosistem digital. Banyak koperasi yang masih dalam kondisi luring (offline)atau seluruh aktivitas usaha mereka mulai simpan pinjam, pembelian, penjualan, pemasaran, hingga pembayaran masih sangat bergantung pada interaksi fisik.

Memang tidak gampang melibatkan lebih banyak koperasi ke dalam ekosistem digital. Hal ini karena pada umumnya mereka juga belum memiliki infrastruktur dasar untuk masuk ke ekosistem ini.

Memang, sudah banyak inisiatif dalam bentuk program dari pemerintah maupun swasta untuk memberikan atau meminjamkan telepon seluler dan akses internet gratis kepada koperasi dan UMKM. Namun, strategi itu tidak selalu berhasil. Oleh karena itu, tantangan lebih berat adalah meningkatkan literasi manfaat koperasi masuk ke ekositem digital.

Kecukupan pengetahuan akan menambah motivasi bagi pelaku dan insan koperasi untuk memprioritaskan segala sesuatunya agar terhubung ke dalam ekosistem digital.
Wabah virus corona saat ini sesungguhnya bisa menjadi momentum tepat untuk melakukan percepatan digitalisasi koperasi. Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM sedang menyusun Strategi Nasional UMKM dan Koperasi.

Instrumen kebijakan yang pertama kali dimiliki Indonesia ini nantinya dapat mewadahi kerja kolaboratif seluruh komponen bangsa. Tidak terbatas untuk pendidikan, pelatihan, dan pendampingan UMKM dan koperasi dalam memanfaatkan ekositem digital. Secara operasional, penyediaan infrastuktur dasar digital untuk UMKM dan koperasi dapat diinisiasi pemerintah, pemerintah daerah, atau konsorsium usaha baik swasta maupun BUMN.

Oleh karena itu, pandemi Covid-19 dapat juga menjadi momentum bagi koperasi untuk membuktikan kiprahnya sebagai penyangga perekonomian nasional. Koperasi dapat menjadi “pahlawan ekonomi” di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi. Di masa pandemi terdapat berbagai tantangan yang dihadapi koperasi. Antara lain menurunnya penjualan dan permintaan pasar.

Kebijakan pemerintah untuk membatasi pergerakan manusia saat pandemi tentunya memukul kegiatan usaha koperasi. Menurunnya permintaan pasar, terganggunya proses produksi, dan terhambatnya distribusi barang adalah berbagai konsekuensi logis dari kondisi pandemi.

Akan tetapi, di satu sisi, transaksi perdagangan elektronik mengalami peningkatan selama pandemi. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi koperasi untuk bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi melalui digitalisasi koperasi.

Metode penjualan koperasi juga dituntut mengikuti perkembangan zaman. Transaksi jual-beli model konvensional yang biasa diterapkan, juga harus dilengkapi dengan model elektronik commerce. Selain untuk menjaga keberlangsungan usaha, upaya tersebut juga untuk membuktikan bahwa koperasi bukanlah badan usaha yang ketinggalan zaman. Melalui pemanfaatan teknologi informasi dapat memudahkan bisnis koperasi untuk terhubung kepada konsumen, produsen, ataupun distributor.

Digitalisasi koperasi dilakukan untuk memudahkan transaksi jual-beli di tengah pandemi.

Kita tahu, kondisi pandemi tidak hanya berdampak pada koperasi secara kelembagaan, tetapih juga pada anggota koperasi. Banyak anggota koperasi yang kesulitan membayar iuran anggota. Bahkan dalam konteks koperasi simpan-pinjam, para anggota kesulitan untuk membayar angsuran, seiring dengan itu pula banyak anggota yang mengambil iuran sukarela untuk kebutuhan pandemi. Akibatnya, koperasi terkendala likuiditas yang dapat berujung pada kebangkrutan usaha.

Kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi koperasi untuk bisa menjaga likuiditas dan solvabilitas.

Gulung Tikar

Pada masa pandemi, banyak pelaku usaha yang gulung tikar. Hal itu disebabkan permintaan pasar turun drastis. Menciptakan produk kreatif dan inovasi sesuai kebutuhan pasar dapat menjadi strategi koperasi untuk menjaga keberlangsungan usaha.


Dalam konteks koperasi produsen misalnya, melakukan inovasi produk berdasarkan kebutuhan konsumen adalah strategi bertahan di tengah pandemi.

Selain digitalisasi koperasi, likuiditas, dan inovasi produk, tantangan koperasi agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah kemampuan sumberdaya manusia/pengurus. Digitalisasi koperasi tentu saja membutuhkan SDM yang menguasai teknologi informasi dan telekomunikasi. Sama halnya dengan menjaga likuiditas, juga membutuhkan ahli akuntansi. Inovasi produk juga membutuhkan SDM yang menguasai marketing, packaging, dan branding.


Oleh karena itu, koperasi perlu melakukan upgrade kemampuan SDM yang menguasai berbagai hal.

Dengan dimulainya era Revolusi Industri 4.0, tantangan baru yang dihadapi perkoperasian di Indonesia terasa semakin kompleks dan rumit. Hal ini disebabkan adanya perubahan gaya hidup generasi milenial yang begitu cepat dan tidak menentu (disruptif), akibat perkembangan teknologi informasi, robotik, artifical inteligence, transportasi, dan komunikasi yang sangat pesat. Pola dan gaya hidup generasi milenial bercirikan segala sesuatu yang lebih cepat, mudah, murah, nyaman, dan aman.

Seperti halnya manusia, setiap organisasi termasuk koperasi harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Jika tidak maka akan tergilas oleh adanya perubahan lingkungan. Koperasi era Revolusi Industri 4.0 juga mangharuskan koperasi untuk dapat beradaptasi dan bertransformasi dalam menghadapi lingkungan yangy senantiasa dinamis tersebut.[ ]

Komentar