Direktur Diktis Kemenag RI : Beberkan Cara Kunci Agar Siswa Menjadi Kritis

10/11/2018 23:00:39 Kategori: , ,

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam (Diktis) Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, Prof Dr. Arskal Salim GP, dalam pembukaan pelatihan praktik baik untuk guru dan kepala madrasah mitra UIN Walisongo dan Tanoto Foundation di hotel Citra Dream, Sabtu (10/11) menyampaikan pentingnya seorang guru agar mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis. Kemampuan berfikir kritis ini akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam merespon berbagai hal di lingkungannya.

“Saya sangat setuju dengan pendekatan Program PINTAR Tanoto Foundation yang melatih guru khususnya untuk mengembangkan pertanyaan tangkat tinggi. Karena, bertanya adalah cara paling efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, membuat siswa menjadi aktif, dan kreatif,” ungkap Prof Arskal.

Direktur Pendais yang juga guru besar ini selanjutnya menceritakan pengalamannya ketika mengajar. Sering kali ketika mengajar dia mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa-mahasiswanya. “Apakah ada pertanyaan,” katanya. Yang terjadi adalah mahasiswanya tidak ada yang mengacungkan tangan dan mengajukan pertanyaan. sejak saat itu, dia melatih mahasiswanya untuk berani bertanya. Karena aktif bertanya itu adalah kunci sebuah pembelajaran.

“Maka bila PINTAR Tanoto Foundation menjadikan mengembangkan pertanyaan sebagai materi awal. Hhal tersebut sangat tepat. Karena bertanya itu sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bila kita ingin mendapatkan pengetahuan maka kita harus bertanya dulu. Saya bayangkan, kalau di tingkat madrasah semua anak berlomba-lomba untuk bertanya maka itu sangat asyik sekali. Berarti mereka sudah mendapatkan kunci utama dalam berfikit kritis,” lanjut Prof Arskal.

Head of Teacher Training Institute Development Tanoto Foundation PINTAR Tanoto Foundation Ajar Budi Kuncoro menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengajukan pertanyaan. Apalagi dalam pendidikan. Masih banyak guru ketika mengajukan pertanyaan hanya menuntut siswa untuk mengulang gagasan guru daripada merangsang siswa membangun gagasan sendiri.

“Misalnya, bertanya: ”Anak-anak, ibu kota Indonesia adalah Jakarta. Jadi, apa ibu kota Indonesia?” Siswa menjawab secara bersama atau ”koor”: ”Jakarta!”. Lain halnya kalau kemudian guru itu bertanya: ”Mengapa Jakarta, bukan kota lain?” Jawaban pertanyaan ini belum dikemukakan guru. Pertanyaan itu lebih mendorong siswa untuk membangun gagasan sendiri dalam menjawabnya, bukan mengulang gagasan guru,” jelas Ajar Budi.

Oleh karena itu, dalam salah satu unit pelatihan PINTAR tahun pertama, peserta akan dilatih bagaimana agar memiliki keterampilan merumuskan pertanyaan yang mendorong siswa untuk membangun gagasan sendiri, berpikir alternatif, berpikir kreatif, untuk melakukan pengamatan, dan penyelidikan sehingga mereka memberikan jawaban yang berupa gagasan atau hasil pengamatan/percobaan yang mereka lakukan sendiri.

Ajar Budi melanjutkan, pertanyaan tersebut dapat menjadi salah satu komponen utama dari suatu Lembar Kerja (LK). Lembar kerja dimaksudkan untuk memicu dan membantu siswa melakukan kegiatan belajar dalam rangka menguasai suatu pemahaman, keterampilan, dan/atau sikap; bukan untuk mengetes pemahaman siswa atau sebagai ajang latihan soal sebagaimana terkesan pada praktik di madrasah di mana LK baru diberikan setelah guru menjelaskan suatu konsep.

Pelatihan bagi mitra PINTAR Tanoto Foundation dilakukan selama 3 hari dan dilakukan bergelombang. Untuk tanggal 10-11 November 2018 dilakukan untuk Pengawas, Kepala Madrasah dan Guru mitra berjumlah 40 orang. Konsep pelatihan disusun dengan pola 70% praktik dan 30 persen teori. Pada hari ke tiga peserta akan melakukan praktik di madrasah masing-masing untuk mengaplikasikan program. Setelah itu mereka akan didampingi sebanyak 20 kali per madrasah oleh dosen-dosen dari UIN Walisongo Semarang.

(CJ/Anang R)

Keterangan gambar:
1. Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof Dr. Arskal Salim GP, dalam pembukaan pelatihan praktik baik untuk guru dan kepala madrasah mitra UIN Walisongo dan Tanoto Foundation di hotel Citra Dream, Sabtu (10/11) menjelaskan pentingnya siswa berfikir kritis.
2. Head of Teacher Training Institute Development Tanoto Foundation PINTAR Tanoto Foundation Ajar Budi Kuncoro menjelaskan pola pelatihan yang akan mendorong guru memberikan pertanyaan tingkat tinggi.