oleh

Jadilah Wartawan Sungguhan, Bukan Abal-abal

INILAHONLINE.COM, CIBINONG

Selain mengedukasi publik, wartawan beneran, bukan abal-abal selayaknya berpegang teguh pada hukum: setidaknya Undang-undang Pers nomor 40/1999 yang melandasi kinerja wartawan berupa Kode Etik Jurnalistik.

Karena, inilah yang membedakan Media Mainstream dengan Media Sosial. Di Medsos, segala peristiwa, di antaranya orang tergencet truk, berdarah-darah, bisa langsung tayang, tanpa filter, sebagaimana diatur dalam Kode Etik Jurnalistik. Belum lagi issue hoax yang dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karenanya, jika tidak dapat perhatian dari pemerintah, negara ini bisa rusak. “PWI sebagai wadah resmi, konstituen tertua Dewan Pers, begitu ketat dan mendasar memberikan rambu-rambu agar wartawan dalam mengabdikan profesinya taat hukum, tidak mentang-mentang punya kuasa menulis di medianya, lantas kebablasan dan mengorbankan narasumber,” ungkap Ketua Umum Sekber Wartawan Bogor, HRM Danang Donoroso, Sip ketika memberi sambutan pada pengukuhan 71 Anggota Muda PWI Kabupaten Bogor yang lulus KLW (Karya Latih Wartawan) 2019 di Bumi Tegar Beriman, Kamis (14/11).

Di hadapan hadirin, di antaranya Bupati Bogor, Hj Ade Yasin, SH, MH, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto, Ketua PWI Jawa Barat, H Hilman Hidayat, para pimpinan SKPD dan Ormas, serta tokoh Media Massa, Danang menyatakan bahwa perhatian pemerintah terhadap perilaku pengisi Medsos itu sangat penting, agar tidak menambah kisruh opini publik yang dibentuk tanpa mempedulikan aturan main dan etika.

Apalagi belakangan ini aturan yang menghantui profesi jurnalis makin banyak, bahkan bisa mengarah pada pemidanaan terhadap karya jurnalistik. “Wartawan Muda PWI harus ekstra hati-hati. Karenanya, setelah ini ikuti UKW (Uji Kompetensi Wartawan) untuk menjadi Anggota Biasa, Madya dan Utama PWI ke depan. Jangan sampai terjebak pada issue murahan, tanpa check & recheck, juga tabayun alias rekonfirmasi. Ini sopan santun wartawan beneran, selalu menghargai dan menghormati narasumber, tidak menambah, tidak mengurangi, apalagi mengubah statemen narasumber,” ungkapnya.

Bias terhadap fakta pemberitaan yang dialami narasumber itu sempat dialami oleh Bupati Bogor, Hj Ade Yasin, SH, MH. Bukan semata-mata dia adalah Bupati, tapi sebagai warga negara, sesuai dengan Undang-undang Pers 40/1999, Ade juga punya hak. “Boleh dong, saya gunakan hak saya. Ada hak melakukan klarifikasi, hak jawab, bahkan hak mengajukan pemidanaan ke polisi, karena jadi korban pemberitaan yang tak berimbang dan menyesatkan, serta mencemarkan nama baik keluarga besar saya,” ungkap Ade ketika menyemangati Anggota Muda PWI, di antaranya Cheyne Amandha Miranda dari inilahonline.com.

Ade menegaskan bahwa dirinya sebagai Bupati Bogor tak alergi kritik konstruktif, juga tak anti kontrol dari pers, terutama dalam menjalankan program pembangunan di Kabupaten Bogor. “Kalau memang good news, ya sampaikan good news. Jika bad news, katakan bad news. Kasih solusi, ada penjelasan sehingga saya bisa introspeksi diri, kemudian berbenah. Itu kan fungsi pers yang sebenarnya,” tuturnya.

Sebagai Bupati Bogor, Ade selalu mendukung wartawan yang ingin meningkatkan kinerjanya, di antaranya melalui UKW atau KLW. Sebab, melalui seleksi ketat itu wartawan bisa makin pintar dan makin mencerdaskan publik lewat karya jurnalistiknya.

Ketua PWI Jawa Barat, H Hilman Hidayat sangat berharap, Kabupaten Bogor menjadi ladang pengembangan profesi wartawan, sehingga tak hanya secara kuantitatif anggota PWI trennya bertambah, namun juga secara kualitatif meningkat dan berkesinambungan kaderisasinya. Ini diyakini bisa dilakukan oleh para senior terhadap wartawan pemula di Bumi Tegar Beriman.

Cheyne Amandha Miranda, Wartawan Muda PWI Kabupaten Bogor mengaku sangat tertantang menghadapi masa depan profesi jurnalis. Meski dikatakan suram, Cheyne yang mulai tahun depan menekuni studi bidang perhotelan di Jerman lewat program Ausbildung in Germany itu tak gentar menjalani profesi jurnalis, sesuai kaidah-kaidah yang berlaku dalam Undang-undang Pers. “Karena profesi jurnalistik itu tak ada matinya. Nulis sampai tua, sampai mati, berkarya tak ada habisnya, sampai berkalang tanah.” tandasnya.

(Cheyne Amandha Miranda)

Komentar