oleh

Jika Dapat Jatah Menteri, PPP Prioritaskan Kader dari Jawa Tengah

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa mengatakan akan memprioritaskan kader PPP dari Jawa Tengah jika partainya diberi lagi jatah lagi kursi menteri oleh Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024 Jokowi – Ma’ruf Amin.

“Kalau nanti dapat jatah menteri, kami akan prioritaskan untuk kader PPP dari Jawa Tengah. Kita memberi penghargaan karena suara PPP Jateng masih tinggi,” kata Suharsno Monoarfa kepada wartawan usai membuka Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) DPW PPP Jateng di Hotel Semesta Semarang, Sabtu pekan lalu.

Menurutnya, siapa yang kader akan menduduki jabatan tersebut dan kader ini masih aktif menjadi pengurus di DPP atau di DPW atau bahkan DPC, Suharso tidak menjawab. “Masih saya kantongi. Banyak yang saya kantongi,” kilahnya.

Suharso mengatakan, Pemilu 2019 kemarin PPP masih selamat dari aturan ambang minimal suara yang harus didapat partai yakni 4 persen, itu juga karena suara dari Jawa Tengah masih tinggi bahkan tertinggi. Itu artinya Jawa Tengah masih solid dan bagus. Meski suara yang didapat dari pemilu sebelumnya suara PPP Jateng sedikit turun.

“Perolehan suara PPP di Pemilu 2019 sekitar 6,3 juta. Jawa Tengah sendiri menyumbangkan suara 1 juta lebih. Itu artinya sangat tinggi. Selama ini, memang Jawa Tengah menjadi basis massa PPP, termasuk juga beberapa provinsi lain, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, dan Aceh,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya meminta kepada seluruh kader PPP, utamnya Jawa Tengah untuk berbenah menghadapi pemilu 2024. Tanpa pembenahan, maka suara PPP akan semakin menurun. Apalagi, sepertinya batas ambang minimal suara partai prosentasinya akan dinaikkan menjadi 4,5 persen. Itu artinya PPP setidaknya butuh suara hingga antara 8 – 9 juta, atau tambahan sekitar 2 sampai 3 juta suara.

“Kami minta, semua kader untuk bisa menggaet anak-anak muda atau millenial. Kami akan membidik mereka, karena merekalah ke depan yang akan menjadi penentu masa depan demokrasi di Indonesia,” terangnya.

Dia menambahkan, generasi millenial harus benar-benar bisa dirangkul dengan baik. Mereka harus diberikan pemahaman berpolitik dan berdemokrasi yang bijak. Sehingga mereka akan bisa lebih faham dan menyikapi kondisi politik lebih dewasa.

“Dalam berpolitik beda boleh, tapi tetap harus menjunjung nilai kesatuan dan persatuan NKRI. Ini harus ditanamkan kepada generasi muda sejak dini,” paparnya.

Teknik Menggaet Pemilih Pemula

DPP PPP. lanjutnya, hingga kini sedang mempersiapkan teknik untuk menggaet pemilih pemula yang nantinya akan diterapkan di beberapa daerah sebagai pilot projek. Teknik tersebut akan diterapkan sesuai dengan mengusung kearifan lokal dan sebagai teskisnya adalah pada Pilkada serentak 2020 mendatang.

“Saat ini musim online. Medsos. Semua kader PPP juga bisa memanfaatkan madsos, seperti facebook, instagram, tweeter. Itu semua harus dimanfaatkan. Kalau WA itu sudah ketinggalan. Kenalkan dan perlihatkan kinerja wakil-wakil rakyat dari PPP. Semua harus mengabdi untuk kepentingan rakyat,” terangnya.

Dia juga menyatakan, pada pilkada-pilkada mendatang PPP tidak akan menerapkan system mahar bagi calon kepala daerah yang akan maju lewat PPP. Setelah dikaji, dampaknya negitifnya lebih banyak kalau menerapkan pakai mahar.

“Mahar itu menjadi sumber fitnah di internal partai. Satu pengurus dengan pengurus lain bisa muncul fitnah. Pengurus DPC bisa curiga ke DPW atau DPP. Begitu sebaliknya. Muncul muncul fitnah yang membuat internal partai tidak kondusif,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Jawa Tengah, Masruhan Syamsurie, mengatakan generasi millenial memang menjadi perhatian PPP Jateng. Karena merekalah nantinya yang akan memiliki hak pilih dan penerus demokrasi. “Kami optimis, PPP akan terus berkembang dengan menguatkan basis dan menggandeng generasi muda,” ucapnya.

Sebagai upaya untuk menggaet generasi muda, DPW PPP Jateng membentuk komunitas PPP Muda. Selain itu juga membentuk Sekolah Demokrasi, sebagia tempat menggembleng politik kawula muda. “Hari ini kita kukuhkan PPP Muda dan Sekolah Demokrasi. Ini salah satu ihtiar PPP agar ke depan pemilih PPP bertambah,” terangnya.

Diterangkan oleh Masruhan, suara PPP Jawa Tengah pada Pemilu 2019 menurun sekitar 100 ribuan dari pemilu 2014. Data pemilu 2014 suara PPP sekitar 1.150.000, tahun 2019 sekitar 1.050.000. Untuk kursi DPR turun dari 7 menjadi 4, sedangkan DPRD Jateng dari 8 jadi 9 kursi. Dari jumlah kursi tambah tapi prosentasi turun, karena jumlah DPRD Jateng bertambah 20 kursi, dari 100 jadi 120.

“Suara PPP itu ya segitu. Dari pemilu ke pemilu turun antara 50 ribu hingga 100 ribu. Karena kita belum bisa menggaet generasi muda. Kalau kita bisa menggaet generasi muda, maka akan bisa tambah. Kalau tidak bisa, suara PPP 2024 sekitar 900.000 sampai 1 juta,” ucap Ketua Komisi A DPRD Jateng.

Wakil Gubernur Jateng Gus Yasin yang hadir pada acara itu, mengajak semua kader PPP, utama PPP Jawa Tengah untuk instropeksi dan terus bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Dia juga mengajak kader PPP harus bersatu dan rukun. Jika ada perbedaan pendapat tidak justru menjadi pemicu perpecahan, namun justru bisa menjadi sarana PPP semakin besar.

“Kita mengenal istilah amar ma’ruf nahi mungkar. PPP harus melakukan itu. Namun sasarannya adalah untuk ke dalam partai. Ke internal PPP. Bukan ke luar,” terang kader PPP ini.

Acara Muskerwil dari hadiri oleh sejumlah pengurus DPP, DPW dan DPC-DPC se Jateng, termasuk caleg terpilih pemilu 2019.

(Suparman)

Komentar