oleh

Kembangkan Sentra Batik Gemawang dengan Modal Rp2 Juta, Kini Bisa Umrohkan Karyawannya

INILAHONLINE.COM, AMBARAWA

Perkembangan industri batik mengalami perkembangan cukup pesat, tidak terkecuali sentra industri batik rumahan dengan merek Batik Gemawang, yang berlokasi di Desa Banaran, Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang.

Industri batik Gemawang yang berdiri tahun 2008 dengan modal Rp 2 juta kini bisa berkembang memenuhi pesanan dari berbagai daerah sekitarnya.

”Kesuksesan usahanya yang digeluti sekarang ini, sebenarnya tidak lepas dari jerih payah usahanya, kesabaran dan ketekunannya untuk mengembangkan bersasma 15 karyawannya,”tutur Abdul Kholiq Fauzi (41) kepada awak media beberapa waktu lalu.

Fauzi menjelaskan, pendidikan dan ijazah yang diraih di bangku kuliah tak selamanya mengantarkan seseorang pada kesuksesan usahanya. Namun sebenarnya justru yang paling menentukan adalah harus berani mengambil resiko terhadap sesuatu yang dikerjakan. Jika usaha yang digelutinya itu ditekuni secara baik, maka hasilnya akan bisa dimanfaatkan bersama orang banyak.

”Kesuksesan usaha seseorang adalah berkat jerih payah, keuletan, kesabaran dan ketekunannya,”papar Alumni Fakultas Perikanan Undip Semarang ini.

Namun demikian, lanjut dia, usaha yang sukses digelutinyaselama ini ternyata berbanding terbalik dengan ilmu yang digelutinya, yaitu tidak ada kaitannya dengan dunia perikanan. Lelaki warga Dusun Banaran, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ini, malah sukses menjadi pengusaha batik, yakni Batik Gemawang dan hasil karyanya juga sudah terkenal.

“Alhamdulillah. Dengan usaha sentra batik ini, kami bisa membuka lapangan kerja untuk belasan warga di sini,” kata pendiri sentra Batik Gemawang, Abdul Kholiq Fauzi kepada rombongan wartawan yang mengikuti media gathering yang diadakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Disikominfo) Provinsi Jawa Tengah, Senin (29/4).

Fauzi menceritakan, bahwa sentra Batik Gamawang ini awalnya didirikan oleh beberapa orang setelah mengikuti pelatihan membatik membentuk kelompok belajar usaha (KBU), tahun 2008. Proses yang dikembangkan dalam pembuatan batik ada dua cara, yakni melalui manual dikerjakan melalui ditulis tangan dan menggunakan alat cetak atau printing malam.

Sedangkan untuk pewarnaan menggunaan bahan alami.
“Modal awal dulu hanya Rp 2 juta, tahun 2008. Saat itu, modal Rp 2 juta hanya untuk memproduksi beberapa potong kain batik,” tuturnya.

Menurutnya, untuk memperkenalkan hasil usaha batiknya melakukan model pemasaran door to door di beberapa instansi pemerintah dan kantor swasta wilayah Kabupaten Magelang. Dari semula hanya laku delapan potong kain batik, kemudian mendapatkan pesanan dari sebuah rumah sakit di Kabupaten Magelang sebanyak 80 potong.

”Berkat ketekunan, kesabaran dan kerja keras, membuahkan hasil yang bisa dinikmati oleh orang banyak yaitu karyawan dengan memperoleh gaji di atas UMR.,”katanya.

Ia menjelaskan, dengan adanya merk Gemawang ini permintaan batik Gemawang terus meningkat sampai sekarang. Pembelinya juga telah merambah ke Kota Magelang, Kabupaten Semarang, dan Salatiga. Sekarang sudah tersebar ke seluruh Indonesia bahkan juga sudah ke manca negara.

“Produksi batik Gemawang sekarang sudah mencapai 1.000 potong per bulan. Batik yang diproduksi tersebut jenisnya berupa campuran baik tulis dan cetak,” kata Fauzi.

Terkait masalah harga, Fauzi mengaku, banderol harga kain batik Gemawang mulai harga Rp150.000 hingga Rp 5 juta per potong. Sedangkan untuk batik tulis limited harganya mencapai Rp 8 juta per potong. ”Jadi perbedaan harga ini tergantung bahan baku yang dibuat serta jenis kain yang dipadukan dengan corak warnanya,”paparnya.

Di sela-sela mendampingi wartawan yang melihat lokasi usahanya, dia menjelaskan dengan antusias, bahwa di gerainya ada 63 motif batik Gemawang, seperti tala madu, baruklinting, sepur kluthuk, gedongsongo, bambu, lintang, trenggono, godong kopi, kembang kopi, dan kopi pecah.

“Dari puluhan motif ini hanya tiga yang kami hak patenkan, yakni motif godong kopi, kembang kopi, dan kopi pecah. Lainnya tidak kami patenkan. Tiga motif itu merupakan ciri khas dari batik Gemawang,” ujar Fauzi.

Dia menjelaskan, motif godong kopi adalah motif yang paling laris, karena motif ini ditemukan secara tidak sengaja. Saat itu, pada tahun 2013 dimana saat akan membakar sampah daun kopi, yang berserakan di tanah merasa tertarik kemudian diabadikan menggunakan kamera BlackBerry.

“Setelah melihat hasil fotonya kami perhatikan dengan seksama, ternyata kok bagus dan indah. Motifnya terlihat bagus. Langsung saya coba untuk motif batik,” terang pendiri dan sekaligus kepala sekolah PAUD Buah Hati Desa Gemawang, yang lokasinya juga dekat dengan tempat tinggalnya.

Batik Gawamang dalam perkembangan cukup diperhatikan oleh para pengguna kain batik. Pasalnya, corak batiknya ini mengandung filosofi kemakmuran, sehingga banyak dikenakan berbagai kalangan masyarakat dari artis hingga istri para menteri, yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Kami tidak pelit ilmu. Kami siap memberikan pelatihan membatik kepada siapa saja yang ingin belajar membatik. Silahkan datang kesini untuk belajar membatik. Kalau ada yang kemudian ikut membuka usaha batik, saya malah suka,” kata Fauzi, yang sejak beberapa tahun terkahir ini, secara bergiliran telah mengumrohkan tiga karyawannya per tahun.

Sentra pembuatan batik juga dibuat di lingkungan rumahnya. Saat ini, Fauzi memiliki 15 karyawan yang sebagian besara adalah perempuan. Diantaranya mereka ada yang digaji bulan, ada juga yang harian. Semua karyawannya ada warga Desa Gemawang yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan membatik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang.

Batik Gemawang merupakan ikon batik di Kabupaten Semarang yang telah dikenal luas masyarakat. Tempat usaha batik Fauzi juga telah dijadikan wisata batik. Pengunjung selain bisa melihat dan membeli aneka kain dan baju batik yang telah jadi, juga bisa belajar membatik dengan alat tradisional dan pewarna alami. Lokasi Desa Gemawang berada di antara Semarang – Magelang, dekat dengan Banaran Caffe 9.

(Suparman)

Komentar