oleh

Ketimpangan Sosial Berkelanjutan, Sebuah Ironi Menahun Diwarisi Warga Pantulan-Kupang

Oleh: Erna Sumarti / KPI-UIKA

Puisi ini hanya suatu coretan kasar untuk para wakil rakyat dari harapan anak-anak di Desa Pantulan, Kecamatan Sulamu, Kupang. Pada pertengahan 2018 lalu, dusun mereka belum tersentuh listrik, jalanan rusak, dan sulit mendapat air bersih. Akibatnya petani di sana sering gagal panen, akses mobilitas terhambat, dan malam hari mereka harus rela tidur dan beraktivitas dalam keadaan gelap gulita. Suatu ironi ketimpangan sosial yang seakan menjadi warisan yang dilimpahkan kepada para pemimpin negara dari masa ke masa.

Aku, si Anak Dusun
(Erna Sumarti)

Aku lahir di dusun yang gersang
Di atas tanah tandus nan usang
Di depan pesisir laut yang lapang
Serta deretan gunung batu dan karang
Saat listrik masih berupa bayang-bayang
Malam kami tak pernah terang

Aku tumbuh dengan raskin berkutu dan gabah
yang takarannya tak pernah bertambah
Jika tubuhku di belah
Isinya hanyalah kebijakan-kebijakan pemerintah
yang keputusannya berbubah-ubah
Namun tak membuat keadaan kami berubah

Aku besar dalam keluarga kecil
Pekerja keras yang kadang tak berhasil
Kami makan dalam porsi yang mungil
Pakaianpun hampir semua dekil
Kadang datang perempuan-perempuan centil
Menawarkan kebebasan dari jerat desa terpencil

Aku sekolah tanpa seragam
Sebab ukurannya tak lagi cukup menampung badan
Sekolahku ditempuh melintasi air garam
Kadang dibantu sampan-sampan yang hampir karam

Namun, di tanah ini suatu saat aku akan pulang
Memberi harapan bagi mereka yang dulu sama-sama berjuang
Menggiring peradaban ke halaman rumah dan tepian ladang
Membawa perubahan dan bangkit dari keadaan terbelakang
Karena aku yakin Tuhan Maha Adil dan Penyayang

Komentar