Kinerja Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2017 Dalam Penyelamatan Ibu Melahirkan dan Anak Menuju Bogor Kota Sehat

07/03/2018 12:01:16 Kategori:

INILAHONLINE.COM, BOGOR - Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setingggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator yaitu indikator angka harapan hidup, angka kematian dan status gizi masyarakat.

Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar manusia mempunyai kemampuan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Keberhasilan pembangunan manusia dapat diukur melalui tiga hal yaitu umur panjang dan sehat, berpengetahuan dan memiliki kehidupan yang layak. Umur panjang dan sehat direpresentasikan dengan indikator angka harapan hidup ; pendidikan direpresentasikan dengan indikator angka melek huruf; serta kehidupan yang layak direpresentasikan dengan indikator kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga indikator pembangunan manusia terangkum dalam suatu nilai tunggal yaitu Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index).

Dr. Rubaeah,MKM (Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor)

Dinas Kesehatan merupakan salah satu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mengupayakan indikator umur panjang dan sehat masyarakat Kota Bogor melalui berbagai upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif melalui Visi “Masyarakat Kota Bogor Sehat, Nyaman, Mandiri dan Berkeadilan”. Tercapainya Visi tersebut bukan semata-mata hasil kerja Dinas Kesehatan akan tetapi merupakan hasil kerja seluruh sektor yang didukung oleh peran serta seluruh masyarakat. Adapun masyarakat Kota Bogor sesuai Visi tersebut di atas yang ingin dicapai adalah masyarakat yang ditandai penduduknya hidup dalam lingkungan yang sehat dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Lingkungan sehat yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, serta perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan. Perilaku sehat yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Kemampuan masyarakat yang diharapkan adalah yang mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi. Pelayanan kesehatan yang bermutu yang dimaksudkan disini adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan pemakai jasa pelayanan serta yang diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika profesi. Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku hidup sehat serta meningkatnya kemampuan masyarakat maka derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal.

Selanjutnya untuk dapat mewujudkan Visi tersebut, ditetapkan 4 Misi Pembangunan Kesehatan Kota Bogor sebagai berikut :

  1. Menyediakan sarana dan pelayanan kesehatan yang paripurna merata, bermutu, terjangkau dan nyaman.
  2. Menggerakkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan lingkungan serta jaminan kesehatan
  3. Memenuhi ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan yang profesional dan amanah.
  4. Menyelenggarakan tata kelola sumberdaya kesehatan yang adil, transparan dan akuntabel

Untuk mewujudkan tercapainya Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Bogor tersebut di atas, telah disusun target kinerja, program dan indikator kinerja program yang dituangkan kedalam 17 program salah satunya adalah yaitu Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak. Program ini dilaksanakan melalui Kegiatan Pelayanan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Bayi yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu dan bayi sesuai standar, melakukan deteksi dan penanganan komplikasi kebidanan dan komplikasi pada bayi baru lahir agar ibu dan bayi selamat sehingga berdampak pada penurunan kematian ibu dan bayi.

Berikut ini adalah beberapa kegiatan dan hasil yang dilaksanakan selama tahun 2017 dalam upaya penyelamatan ibu melahirkan dana anak yaitu sebagai berikut :

1) Pembinaan Ibu Hamil
Tujuan dari pembinaan kesehatan ibu dan bayi adalah untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat agar dapat mandiri dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi sehingga ibu hamil melahirkan dengan selamat dan bayi sehat. Pelayanan kesehatan ibu dan bayi bertujuan memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu dan bayi sesuai standar. Pembinaan dan pelayanan kesehatan ibu dan bayi meliputi berbagai kegiatan diantaranya :

  • Pembinaan KIA di Posyandu, dilaksanakan di 20 Posyandu, dan diutamakan posyandu yang dipersiapkan untuk mengikuti lomba/pembinaan tingkat provinsi dan tingkat nasional, meliputi lomba P2WKSS, Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan, 10 Program PKK, Lomba Posyandu, Lomba Kelurahan Siaga. Hasil pembinaan KIA di posyandu adalah meningkatnya pelaksanaan program KIA di Posyandu. Manfaatnya adalah meningkatnya kesehatan ibu dan bayi di wilayah posyandu.
  • Bulan Pemantauaan Ibu Hamil, kegiatannya meliputi rapat teknis bulan pemantauan ibu hamil dan monitoring oleh Puskesmas Pembina Wilayah kelurahan. Pelaksanaan Bulan Pemantauan Ibu Hamil dilaksanakan terjadwal selama 1 bulan penuh di posyandu oleh puskesmas dibantu kader posyandu , PKK, kecamatan dan kelurahan. Hasil kegiatan adalah terdatanya seluruh ibu hamil yang ada di wilayah, pendampingan ibu hamil Opat Sauyunan, di mana ibu hamil didampingi keluarga, kader dasa wisma dan posyandu, dan fasilitasi perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K).
  • Pembentukan dan orientasi motivator KIA, dengan sasaran sejumlah 50 orang perwakilan dari LSM/kader dari 25 kelurahan rawan kematian ibu dan bayi. Hasil yang dicapai adalah terbentuknya kader motivator KIA yang mampu melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai Kesehatan Ibu dan Anak, khususnya mendampingi ibu hamil agar bersalin di fasilitas kesehatan.
  • Pertemuan koordinasi antara programmer KIA Dinas Kesehatan dengan 19 RS yang ada di Kota Bogor (manajemen RS, dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis anak), IBI, IDAI, POGI, dan lintas program Dinas kesehatan. Hasil kegiatan ini adalah tercapainya kesepakatan antara Dinkes, POGI, IDAI, IBI dan RS tentang peran RS dan bidan dalam meningkatkan program KIA. Manfaat yang diharapkan adalah meningkatnya kerjasama Dinkes, IBI, dan RS dalam program KIA.
  • Pembinaan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB)
    Pembinaan RSSIB dilaksanakan di 1 RS di Kota Bogor yaitu RSUD Kota Bogor. Hasil yang dicapai adalah meningkatnya komitmen RSUD Kota Bogor dalam penyelenggaraan RSSIB sehingga bermanfaat untuk meningkatkan pelayanan KIA di RSUD Kota Bogor.
  • Penguatan Puskesmas PONED (Puskesmas mampu Obstetrik Neonatal Esensial Dasar)
    Dilaksanakan melalui kegiatan pendampingan puskesmas oleh dokter spesialis kebidanan dan spesialis anak di 12 Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan persalinan. Hasil yang dicapai adalah meningkatnya atau dipertahankannya kompetensi petugas puskesmas dalam upaya penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir dan terjalinnya komunikasi antara petugas puskesmas dengan dokter spesialis sebagai konsultan, sehingga bermanfaat dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Kota Bogor.
  • Program Penyelamatan Ibu Melahirkan dan Bayi mengacu pada program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival). Hasil yang dicapai adalah terlaksananya pendampingan program penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir yang mengacu pada program EMAS di 1 RS yaitu RS Salakdan 6 Puskesmas yaitu Puskesmas MekarWangi, Bogor Selatan, Merdeka, Pasir Mulya, Bogor Timur dan Pulo Armyn. Semua fasilitas kesehatan tersebut telah mencapai standar tata kelola pelayanan KIA di atas 80% yang dinilai dengan instrument tata kelola pelayanan KIA.
    Tahun 2017 juga telah terbentuk Mentor EMAS Kota Bogor yang terdiri dari dokter, bidan maupun perawat dari RS dan puskesmas di Kota Bogor yang nantinya dapat melaksanakan pendampingan program EMAS di RS dan Puskesmas Kota Bogor .
    Selain itu telah terbentuk juga Pokja Penyelamatan ibu dan bayi dan Forum Peduli KIA Kota Bogor Nga EMAS Bogor berkomitmen dan mempunyai rencana kerja kegiatan advokasi dan edukasi dalam pelayanan KIA secara berkesinambungan. Selanjutnya telah dibuat dan dicanangkannya layanan SMS Bunda sebagai sarana informasi kesehatan bagi ibu hamil dan keluarga.
  • Pelayanan Keluarga Berencana
    Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pelayanan Keluarga Berencana pada Pasangan Usia Subur (PUS) sehingga meningkatkan jumlah peserta KB Aktif di Kota Bogor. Pelayanan KB dilaksanakan pada pelayanan rutin di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta, juga pada kegiatan KB safari yang dilaksanakan di tingkat kecamatan.Selain itu juga dilaksanakan Rapat Koordinasi KB dengan sasaran 50 orang yang terdiri dari Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Dinas kesehatan, PLKB dari 6 kecamatan, dan bidan koordinator KB di 25 Puskesmas agar kegiatan pelayanan KB dapat berjalan dan terkoordinasi dengan baik.
  • Kegiatan Pelacakan Kasus dan Audit Kematian Ibu dan Bayi
    Pelacakan kasus kematian merupakan kegiatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui analisis penyebab kematian Ibu dan Bayi, melakukan pembahasan kasus yang bertujuan sebagai pembelajaran sehingga tidak terjadi lagi kasus yang sama di masa yang akan datang.

Dari tabel capaian program pelayanan kesehata anak balita dapat dilihat hampir seluruh cakupan sudah mencapai target meskipun ada yang lebih rendah cakupannya jika dibandingkan dengan tahun 2016. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah adalah dengan peningkatan kapasitas petugas dalam pelayanan SDIDTK yaitu guru TK dan PAUD dan peningkatan pelayanan imunisasi dasar lanjutan dengan meningkatkan sweeping imunisasi, juga didukung dengan kegiatan Bulan pemantauan tumbuh kembang Balita pada bulan Juli yang dilaksanakan di puskesmas, posyandu maupun PAUD/ TK se Kota Bogor dengan melibatkan lintas sektor yaitu PKK, kader posyandu, kecamatan dan kelurahan serta guru PAUD/TK yang sudah dilatih SDIDTK (Stimulasi Dini dan Intervensi, Deteksi Tumbuh Kembang) sehingga seluruh balita dapat terpantau tumbuh kembangnya melalui kegiatan SDIDTK.

(Advetorial, Seksi Informasi Kesehatan dan Humas Dinas Kesehatan Kota Bogor bersumber dari LKPJ Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2017 yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Rubaeah, MKM)