oleh

Lahan Eks Pabrik Gula “Langse” Pati Dipersengketakan

INILAHONLINE.COM, PATI

Status kepemilikan tanah eks pabrik gula (PG) Langse, di desa Langsu Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati dipertanyakan. Pasalnya, ada pihak yang merasa berhak atas tanah tersebut. Hal itu diungkapkan Sudiharto SH (Tiptop), selaku advokad asal Mayong-Jepara, Jateng, Sabtu (10/8/2019)

Menurut Sudiharto, pihaknya membenarkan, bahwa dirinya tengah mempelajari soal status kepemilikan tanah eks Pabrik Gula (PG) “Langse” tersebut, karena dirinya yang diminta oleh pihak ahli waris yang merasa berhak atas tanah itu, Namun demikian, hingga saat ini dirinya belum memutuskan untuk menjadi kuasa hukum dari pihak yang mengeklaim atas kepemilikan tanah tersebut,

“Satu berkas terkait masalah ini, telah diserahkan kepada saya. Diantaranya berisi uraian kronologis sejarah PG.Langse dan kepemilikan ahli warisnya yang tinggal di Semarang,” ujarnya singkat tanpa mau menyebut siapa ahli waris yang dimaksud.

Menurut salah seorang perangkat desa Langse yang namanya minta dirahasiakan menyebutkan, bahwa informasinya sesuai dengan berkas yang tengah dipelajari oleh Pengacara Tiptop tersebut, PG Langse didirikan Belanda. Namun kemudian karena, banyak berbagai banyak masalah dan pertimbangan, maka PG Langse ditinggalkan Belanda dan kemudian diurus orang pribumi.

“PG Langse dan segala kemegahannya, akhirnya “tutup usia”. Setelah itu terlantar dan mangkrak dengan menyisakan bangunan-bangunan kuno, diantaranya “Rumah Loji” kini dua diantaranya bisa direnovasi. Adapun luas tanag PG Langse sekitar 11,5 hektar, tapi yang 8 hektar sudah dikuasai warga desa untuk didirikan rumah-rumah mereka”, ujar perangkat desa tersebut.

Para ahli waris yang nerasa berhak atas kepemilikan tanah eks PG Langse itu meminta bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk mendapatkan haknya. Namun demikian, ahli waris tidak akan mengganggu dan menuntut tanah 8 hektar yang saat ini sudah dikuasai dan dibangun rumah warga. Ahli waris hanya meminta sisa luas tanah seluas 3.5 hektar, kata perangkat desa yang meminta namanya dirahasiakan.

Informasi lain yang berhasil dihimpun menyebutkan, beberapa tahun lalu sebelumnya ketika menjelang Pemilihan Petinggi (Pilpet) Desa Langse, pernah terjadi penguasaan tanah seluas 3,5 Ha tersebut. Atas kejadian tersebut, Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten Pati tak mampu berbuat apa-apa. Terlebih pada saat itu, BPN mendapat tekanan massa yang menuntut untuk diterbitakn sertipikatnya atas nama warga atas tanah seluas 3.5 hektar tersebut.

Sementara Kepala Desa Langse, Amrudin, saat dikonfirmasi terkait masalah sengketa tanah eks PG langse dengan para ahli waris ini, dirinya tidak berkenan memberikan keterangan dan tidak memberi reaksi apapun serta bungkam atas pertanyaan terkait permasalahan sengketa tanah tersebut.

Untuk itu, pada akhirnya ahli waris atas tanah eks PG Langse tersebut, terus berusaha untuk mendapatkan hak-haknya dengan melakukan langkah langkah hukum yang akan dikuasakan melalui pengacara. Namun disisi lain, lawyer Tiptop, SH menyatakan, masih mempertimbangkan apakah kasusu sengketa tanah tersebut akan diterima atau tidak sebagai kuasa hukumnya. Sementara Kepala Desa Langse, Amrudin, saat dikonfirmasi terkait persoalan ini, tidak memberi reaksi apapun.

(Heru Christiyono Amari)

Komentar